Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
#CUT Season 2


__ADS_3

2 minggu kemudian


Keadaan Tiara sudah membaik, kini dia akan ikut ke butik bersama keluarganya dan keluarga Dika.


"Cha, kamu ikut ke butik sekalian!" Ajak Sintia.


"Tapi, Mbak. Saya di sini cuma pekerja, biar saya di rumah aja."


"Nggak ada penolakan! Kamu harus ikut, titik! Nanti kamu berangkat bareng aku aja."


"Icha biar berangkat sama aku aja, Sin." Sahut Tiara yang baru tiba di ruang tengah.


"Kenapa, Kak?"


"Enggak apa-apa. Kamu berangkat duluan aja sama Dika, takutnya nanti Shaka nyariin Icha." Jelas Tiara.


"Oh, gitu. Kamu nggak apa-apa kan, Cha? Bareng Kak Tiara sama Kak Mahesa?"


"Enggak apa-apa, Mbak."


Akhirnya, Sintia memutuskan berangkat ke kantor Dika. Karena dia akan berangkat langsung dari kantor.


Tiara meninggalkan Icha di ruang tengah bersama Shaka. Sementara Icha merasakan perasaan yang tak menentu.


Sementara itu, Tiara kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Dia ingin mengirim pesan pada suaminya.


Mas, kamu nanti jemput aku dulu di rumah. Soalnya Sintia aku suruh berangkat duluan bareng Dika.


Ting


Siap, Sayang.


Setelah membaca balasan dari suaminya, dia memutuskan untuk bersiap. Selesai bersiap dia kembali bergabung dengan Icha.


"Cha, aku ada sesuatu buat adik kamu. Nanti tolong kasihkan ke adik kamu, ya!" Ucap Tiara sambil memberikan amplop berwarna coklat yang berisi formulir.


"Apa ini, Mbak?"


"Nanti kamu juga tahu, buka aja di rumah."


"Iya, Mbak. Makasih."


"Sama-sama, Cha. Sekarang kamu siap-siap biar nanti kita tinggal langsung berangkat!"


"Iya, Mbak." Icha langsung beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar Shaka untuk bersiap.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Mahesa sudah tiba di rumah. Dia masuk dan memanggil Tiara serta Shaka.


"Sayang, Papi pulang." Ucap Mahesa sambil mencari keberadaan Shaka.


"Kok cepet banget sampai rumah, Mas?"


"Iya, Yang. Kebetulan tadi nggak ada meeting, jadi bisa langsung pulang."


"Oh gitu. Kita langsung berangkat atau kamu mau ganti baju dulu?"


"Aku ganti baju dulu, biar nggak terlalu formal."


"Ya udah, aku siapin dulu bajunya."


Tiara langsung membuka lemari pakaian, dan mencari satu stel pakaian untuk Mahesa.


Setelah menyiapkan baju ganti, dia langsung ke kamar Shaka untuk mengecek sudah siap atau belum.


"Cha, udah siap?"


"Sudah, Mbak."


"Ayo, Nak! Papi di kamar nungguin kamu."


"Itut papi, Mi!"


"Papi!" Teriak Shaka lalu berlari menghampiri papinya.


"Halo, boy."


"Pelgi naik obiy, Papi!"


"Iya, kita naik mobil. Shaka mau ke mana?"


"Atu mau utul adan, Papi."


"Ok, kita berangkat sekarang!"


Akhirnya, Mahesa dan yang lain berangkat ke butik. Shaka meminta duduk sendiri di depan dengan papinya, sedangkan Tiara mengalah untuk duduk di belakang bersama Icha.


Tiara diam-diam memperhatikan Icha yang sejak dari rumah hanya diam. Bicara pun hanya seperlunya tak seperti biasanya.


"Cha, adik kamu ukurannya sama kayak kamu nggak?" Tanya Tiara mencoba mengajak bicara Icha.


"Sama, Mbak. Kenapa, ya?"

__ADS_1


"Kalau sama, nanti ukurannya disamain kamu aja."


"Ukuran buat apa?" Tanya Icha bingung.


"Seragam buat keluarga pengantin."


"Saya ini cuma orang lain, Mbak. Lebih baik nggak usah, saya tidak pantas memakai baju seperti itu."


"Kenapa? Kamu nggak suka pemberian dari aku?"


"Bukan gitu, Mbak. Hanya saja, saya ini bukan siapa-siapa kalian. Jadi, rasanya saya kurang pantas ikut bergabung dengan keluarga Mbak Tiara."


"Kalau kamu nggak mau, mulai besok kamu nggak usah kerja lagi di rumah aku." Ancam Tiara.


"Maksud Mbak Tiara, saya dipecat?"


"Iya, kalau kamu masih kekeh buat nolak pemberian dari aku."


"Iya sudah, saya terima pemberian Mbak Tiara. Saya masih butuh pekerjaan ini untuk masa depan adik saya." Pasrah Icha.


"Bagus, begitu lebih baik."


-


-


-


-


Sesampainya di butik, Sintia, Dika dan kedua mamanya sudah menunggu di sana.


Mahesa dan Tiara langsung menghampiri mereka diikuti Icha yang menggendong Shaka.


"Maaf, ya jadi nunggu lama." Ucap Tiara sambil mencium tangan Mama Dika.


"Enggak kok, kita juga baru sampai." Jawab Mama Dika.


"Kita langsung masuk aja, biar cepat diukur!" Ajak Dika.


Mereka langsung masuk butik lalu menemui salah satu karyawan butik untuk mengukur seragam yang akan dipesan.


"Mbak, nanti mbaknya ini buatkan dua ya seragamnya! Ukurannya samain aja." Pinta Tiara sambil menunjuk Icha.


"Baik, Nyonya." Balas karyawan itu lalu mencatatnya.

__ADS_1


Selesai mengukur, mereka memutuskan untuk makan siang bersama. Mama Dika mengajak makan di restoran yang ada di salah satu hotel milik Papa Dika.


__ADS_2