
"Gimana rasanya, Kak? Enak nggak?" Tanya Sintia ketika sedang makan malam.
"Enak, kayak biasanya." Jawab Mahesa apa adanya.
"Ih, kok kayak biasanya sih." Protes Sintia.
"Lho, emang iya kok kayak biasanya. Kenapa kamu malah protes."
"Tadi Sintia yang masak, Mas. Makanya dia protes pas kamu ngomong gitu."
"Hah? Kesambet apa dia mau masak?"
"Nyebelin banget sih jadi orang." Gerutu Sintia.
"Sudah-sudah, jangan pada ribut. Mending selesaiin makan kalian, baru nanti bisa lanjut lagi berantemnya." Sela Mama Mahesa.
Mereka melanjutkan makan malam dengan tenang, walaupun ekspresi kesal pada wajah Sintia masih terlihat.
Ting tung
Baru saja selesai makan, bel rumah berbunyi. Bi Asih yang mendengar langsung bergegas membukakan pintu.
"Selamat malam, Bik." Sapa Andre.
"Selamat malam, Mas. Mau cari siapa?"
"Mau ketemu Nyonya Tiara, ada?"
"Ada, silakan masuk! Saya panggilkan dulu." Pamit Bi Asih.
Bi Asih segera menghampiri Tiara yang masih di meja makan bersama dengan yang lain.
"Permisi, Non Tiara. Ada yang mau ketemu, Non."
"Siapa, Bik?"
"Waduh, Bibi lupa nanya. Tapi dia laki-laki, Non." Jawab Bi Asih dengan hati-hati.
"Kamu janjian sama siapa?" Tanya Mahesa yang mulai tersulut emosi.
"Aku nggak janjian sama siapa-siapa."
"Terus kenapa ada laki-laki yang mau ketemu kamu?"
"Ya mana aku tahu. Lihat orangnya aja belum, kamu malah marah-marah."
Bi Asih yang melihat kemarahan Mahesa menjadi gelisah, sedangkan Sintia dan mamanya geram dengan sikap Mahesa yang terlalu tempramen.
__ADS_1
"Mending kita temui dulu tamunya, Ra. Biar jelas semuanya." Usul Mama Mahesa yang sudah beranjak dari duduknya.
Tanpa menjawab, Tiara langsung mengikuti langkah mertuanya. Sintia dan Mahesa juga menyusul di belakangnya.
"Mas Andre!" Sapa Tiara ketika tahu orang yang bertamu adalah asisten Dika.
"Malam, Nyonya. Maaf menganggu, saya cuma mau mengantar formulir yang dikatakan Tuan Dika tadi. Makanya saya langsung antar ke sini saja, sekalian pulang." Jelas Andre.
"Oh iya, Mas. Makasih, maaf jadi ngerepotin."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kalau begitu saya permisi pulang." Pamit Andre.
"Iya, Mas. Hati-hati!" Ucap Tiara, dia sengaja tak menawari minum karena tak ingin Mahesa semakin menjadi-jadi."
Tiara membuka amplop yang berisi formulir pendaftaran itu, saat akan membacanya Mahesa sudah merebut dari tangan Tiara.
"Buat apa formulir ini?" Tanya Mahesa.
"Mau aku kasih adiknya Icha."
"Kenapa nggak ngomong ke aku? Kenapa harus ngomong sama orang lain?" Cecar Mahesa.
Sintia dan mamanya pergi meninggalkan keduanya karena tak ingin ikut campur. Dalam hati, Sintia merasa bersalah pada Tiara, tapi dia akan coba jelaskan pada Mahesa yang sebenarnya.
"Aku nggak nyuruh Andre buat minta formulir itu. Aku cuma minta tolong Sintia buat bantu daftarin kuliah adiknya Icha. Jadi, mana tahu aku kalau Andre yang bakal ngurus itu."
"Kamu nggak bohong, kan?"
"Aku nggak nuduh, aku cuma mastiin aja."
"Tapi pertanyaan kamu itu seolah-olah nuduh kalau aku itu selingkuh."
Karena sudah terlalu lelah menghadapi suaminya, Tiara berlalu meninggalkan Mahesa tanpa sepatah kata pun.
Sementara Mahesa mengusap wajahnya kasar, dia sadar karena terlalu terbawa emosi, dia jadi melontarkan pertanyaan yang membuat istrinya tersinggung.
"Kak!" Panggil Sintia, Mahesa menatap Sintia seolah bertanya ada apa memanggilnya.
"Ikut aku ke halaman belakang sekarang!" Pinta Sintia lalu melangkahkan kakinya menuju halaman.
"Ada apa?" Tanya Mahesa ketika sudah duduk di kursi.
"Sebelumnya aku minta maaf udah bikin kalian berantem. Aku mohon, Kakak jangan terlalu menekan Kak Tiara. Dia nggak tahu apa-apa soal ini, dia cuma minta buat dapatin formulir pendaftaran itu."
"Aku yang awalnya minta pendapat Kak Dika dan ternyata dia mau bantuin, dia juga yang akan menanggung semua biayanya. Aku yang ngomong ke Kak Dika kalau yang nyuruh Kak Tiara, makanya Mas Andre datang mau ketemu Kak Tiara." Sambung Sintia panjang lebar, dia berharap kakaknya dapat mengontrol emosinya karena dia takut terjadi sesuatu pada kandungan Tiara.
Mahesa hanya bisa menundukkan kepalanya, setelah mendengar penjelasan Sintia tadi. Dia merasa bersalah pada Tiara karena dibutakan api cemburu membuatnya bertindak emosional.
__ADS_1
"Asal Kakak tahu, Kak Tiara sengaja nggak minta tolong ke Kakak karena dia tahu kesibukan Kakak. Akhir-akhir ini Kakak sering pulang malam, makanya Kak Tiara nggak tega buat minta tolong ke Kakak." Imbuh Sintia lalu pergi dari tempatnya duduk meninggalkan Mahesa yang masih termenung.
-
-
-
"Sin, Mama boleh masuk nggak?"
"Masuk aja, Mah!" Sahut Sintia.
"Sebenarnya ada apa, sih?" Tanya Mama Mahesa ketika sudah duduk di ranjang Sintia.
Sintia langsung menjelaskan semuanya, Mama Mahesa mengangguk paham mendengarkan setiap penjelasan Sintia.
"Huuh, kakakmu emang susah kalau dibilangin. Dia terlalu tempramen kalau berhubungan dengan Tiara."
"Iya, Mah. Aku sering kasihan lihat Kak Tiara, nggak pernah keluar rumah sekedar jalan-jalan."
Saat sedang ngobrol, Sintia dan mamanya dikejutkan oleh Bi Asih.
"Nyonya, gawat!"
"Ada apa, Bik?"
"Anu, Nyonya. Itu, Non Tiara."
"Tiara kenapa?" Tanya Mama Mahesa dan Sintia dengan panik.
"Non Tiara pingsan di kamar mandi."
Mama Mahesa dan Sintia langsung bergegas ke kamar Tiara. Setibanya di kamar Tiara, Sintia langsung menerobos masuk ke kamar mandi.
"Kak!" Jerit Sintia lalu menghampiri Tiara yang sudah tergeletak di lantai.
"Darah?" Gumam Sintia dan mamanya.
"Mah, panggil kakak sekarang!"
Mama Mahesa berlari menghampiri Mahesa di halaman belakang.
"Mahesa!" Teriak Mama Mahesa.
"Cepat bawa Tiara ke rumah sakit!"
"Tiara kenapa, Mah?"
__ADS_1
"Dia pingsan dan pendarahan. Cepat bawa ke rumah sakit!"
Tanpa basa basi, Mahesa langsung berlari ke kamar meninggalkan mamanya sendiri.