
Sebulan berlalu, persiapan pernikahan Dika dan Sintia sudah 75 persen. Saat ini keduanya sedang menuju butik untuk fitting gaun pengantin.
Sesampainya di butik, mereka langsung masuk dan menemui pemiliknya.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Silakan, masuk!" Sapa salah satu karyawan butik lalu mengarahkan Dika dan Sintia ke ruangan yang telah disiapkan.
Dika dan Sintia mengikuti karyawan itu, dan tibalah mereka di sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja pemilik butik.
"Silakan duduk, Tuan, Nyonya! Sebentar lagi Bu Wulan tiba di sini."
"Terima kasih, Mbak." Ucap Sintia.
Karyawan pun meninggalkan keduanya di ruangan Bu Wulan. Hingga tak berselang lama sang pemilik butik sudah tiba di ruangan itu.
"Dika?" Tanya Bu Wulan yang baru datang.
"Iya, Tante." Jawab Dika sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Kamu apa kabar? Tante sampai pangling sama kamu, sekarang makin ganteng."
"Alhamdulillah, baik Tante."
"Ini calon kamu? Pinter banget cari calon istri, cantik." Ucap Bu Wulan lalu menjabat tangan Sintia sambil tersenyum.
"Iya, dong. Kan biar serasi, cowoknya ganteng ceweknya cantik."
"Bisa aja kamu. Ya udah sekarang kalian coba dulu baju pengantinnya!"
Dika dan Sintia mengikuti Bu Wulan menuju ruang ganti, di sana ternyata sudah disiapkan kebaya untuk akad nikah dan gaun untuk resepsi.
"Ini kebaya dan gaun yang kamu pesan. Sebaiknya kamu coba dulu, kalau ada yang kurang biar bisa segera diperbaiki!"
"Baik, Tante."
"Dan untuk Dika, kamu bisa coba jas dan kemeja kamu."
"Iya, Tante."
Setelah selesai fitting dan memastikan tak ada yang kurang, Dika dan Sintia lantas pamit pulang.
"Kami permisi dulu, Tante. Jangan lupa untuk datang ke acara pernikahan kami!"
"Pasti, Dik. Kamu tenang aja. Oh, ya untuk seragam keluarga bisa langsung diambil seminggu lagi."
__ADS_1
"Iya, Tante. Kami permisi!"
Mereka pergi meninggalkan butik lalu bergegas pulang.
"Makan siang di rumah aja ya, Kak. Tadi Kak Tiara kirim pesan kalau udah masak banyak."
"Iya, Ay. Aku juga kangen banget sama Shaka."
-
-
-
-
Setibanya di rumah, Sintia langsung mengajak Dika ke ruang makan. Di sana sudah ada mamanya dan Tiara yang sedang menyiapkan makan siang.
"Lho, udah sampai rumah ternyata." Ucap Tiara lalu melanjutkan kegiatannya.
"Biar aku bantu, Kak."
"Iya, kamu ambil sayur dan lauk yang masih ada di dapur!"
"Shaka mana, Ra? Udah lama aku nggak main bareng dia."
"Ada di belakang sama Icha, Dik."
"Mama tinggal keluar dulu ya, Dik. Ada janji sama temen Mama di restoran."
"Oh, iya Mah. Hati-hati di jalan!" Ucap Dika.
"Minum dulu, Kak!" Ucap Sintia sambil meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Dika.
"Makasih, Ay."
"Sin, kamu ajak Shaka ke kamar ya! Udah waktunya tidur siang."
"Iya, Kak."
Setelah Sintia dan Tiara pergi, tinggallah Dika sendiri di ruang makan.
"Aku anterin Shaka ke kamar, Kak."
__ADS_1
"Iya."
Setelah Sintia ke kamar Tiara, Icha yang baru masuk rumah langsung menghampiri Dika.
"Maaf, Tuan. Apa bisa kita bicara sebentar? Hanya lima menit."
"Baiklah, kita bicara di belakang aja."
Dika lalu mengikuti langkah Icha yang menuju ke halaman belakang. Setelah di sana keduanya saling terdiam sejenak, hingga perkataan Icha membuat Dika langsung terkejut.
"Maaf jika saya lancang, saya hanya ingin mengatakan sesuatu yang selalu mengganggu pikiran saya. Tuan Dika, sa-saya mencintai Anda."
"Apa kamu gila, Cha?" Ketus Dika.
"Saya tahu ini memang tidak masuk akal, tapi inilah yang saya rasakan sekarang. Saya hanya ingin mengutarakan isi hati saya tanpa ada maksud apa-apa.
Saya juga sadar diri, Tuan. Tidak seharusnya saya memiliki rasa kepada Anda, maka dari itu saya mengatakan hal ini agar hati saya bisa lega. Saya janji tidak akan mengusik hidup Anda dengan Mbak Sintia."
Setelah mengatakan itu, Icha langsung kembali ke dalam rumah dan menumpahkan tangisnya di dalam kamar mandi.
Dan tanpa mereka sadari, Tiara yang sejak awal sudah curiga jika Icha ada rasa pada Dika memilih mengintai dari balik dinding dapur.
Dia sengaja menahan Sintia di kamarnya agar tak mengetahui kejadian ini.
#Flashback on
Tiara yang tadinya ingin ke dapur membuatkan susu Shaka, menghentikan langkahnya ketika mendengar percakapan antara Dika dan Icha.
Dia memilih mengintai keduanya dibalik dinding dapur, saat dia ingin menguping tiba-tiba Sintia datang menghampirinya.
"Kak, mana susunya Shaka?"
"Eh, iya. Ini kamu kasih ke Shaka, ya! Temenin dia dulu sampai tidur, aku mau bikin puding sebentar."
"Iya, Kak."
Setelah memastikan Sintia pergi, Tiara langsung memulai aksinya mengintai calon adik iparnya dengan Icha.
Dan tepat seperti dugaannya, diam-diam Icha menyimpan perasaan pada Dika.
#Flashback off
Inshaallah, besok cerita ini akan tamat 🙏🙏🙏
__ADS_1