
"Ahh, Tuan pelan-pelan dong. Sakit banget ini." Rintih Tiara.
"Sabar, ini juga udah pelan. Entar lama-lama juga enak."
"Mending kamu diem dan nikmatin." Sambung Mahesa, sambil terus memijit kaki Tiara yang terkilir.
"Nikmatin apanya? Ini sakit banget tahu nggak. Nanti kalau saya nggak bisa jalan emang Tuan mau tanggung jawab? Tuan sih nggak ngerasain ada di posisi saya." Tiara menggerutu panjang lebar membuat Mahesa semakin kesal, hingga tanpa sadar dia memijit kaki Tiara yang sakit dengan keras.
"Awww, tuh kan Tuan sengaja ya. Udah-udah sana mending Tuan pergi aja, saya beneran nggak bisa jalan lagi kalau diterusin." Sambil membenarkan posisi duduknya, Tiara bersandar pada kepala ranjang.
"Ra."
"Hemm"
"Bisa nggak kamu jangan panggil saya dengan sebutan tuan lagi?"
"Emang kenapa? Biasanya juga nggak protes kalau saya panggil begitu." Ucap Tiara acuh.
"Karena saya bukan majikan kamu, Ra. Biasain manggil lain gitu, masa iya sama suami sendiri manggil tuan. Kalau sampai ada orang yang dengar kan di kiranya saya nggak tahu diri."
__ADS_1
"Baru nyadar kalau Tuan emang nggak tahu diri?" Ketus Tiara.
"Ra please, saya lagi nggak pengen debat sama kamu."
"Hemm, iya-iya. Enaknya manggil apa ya?" Tiara mulai berpikir untuk mencari nama panggilan baru untuk Mahesa.
"Gimana kalau saya panggil Bang?"
"Saya bukan tukang cilok Tiara, nggak ada yang lebih bagus lagi apa?" Protes Mahesa.
"Ya terus saya mesti manggil apa Tuan Mahesa yang terhormat?" Gerutu Tiara dibuat kesal dengan tingkah aneh Mahesa.
"Dihh, bilang aja mau dipanggil Mas ribet amat jadi orang." Ucap Tiara
"Ok deal ya, mulai sekarang kamu mesti panggil saya dengan panggilan itu." Mahesa tersenyum penuh kemenangan.
"Iya Tu, eh maksud saya, iya Mas." Tiara memutar bola malas dengan sikap Mahesa yang seperti anak kecil.
****
__ADS_1
Dika saat ini berada di ruang tunggu bandara, menanti kedatangan orang tuanya yang baru pulang dari perjalanan bisnis di luar negeri.
"Halo, sayang. Apa kabar?" Ucap Mama Dika lalu memeluk dan mencium kedua pipi Dika.
"Baik Mah, Mama sama Papa apa kabar?" Dika balik bertanya sambil mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian.
"Kabar baik, Nak. Gimana, Kamu sudah mempertimbangkan permintaan Papa?"
Papa Dika adalah seorang pengusaha sukses yang sudah memiliki beberapa cabang di luar kota, dan perjalanan bisnisnya ke luar negeri bertujuan untuk memperluas bisnis yang di jalankannya.
Oleh sebab itu, beliau meminta Dika bergabung di salah satu cabang yang ada di kota ini sebelum menggantikan posisinya sebagai Direktur Utama.
"Akan aku coba Pah, semoga bisa meneruskan perjuangan Papa selama ini." Ucap Dika dengan mantap.
"Terima kasih, cuma kamu satu-satunya harapan Papa. Ketika Papa sudah tidak ada, Papa bisa tenang karena ada yang menggantikan dan meneruskan bisnis Papa." Papa Dika berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena beliau sudah semakin tua. Beliau hanya ingin perjuangannya selama ini tidak berakhir sia-sia.
"Sudah-sudah, lebih baik kita pulang dulu. Baru nanti dibahas lagi." Ucap Mama Dika mengalihkan pembicaraan suami dan anaknya.
"Hehe, baiklah. Lebih baik kita pulang sekarang sekalian nanti mampir makan siang, sudah hampir siang juga." Pungkas Dika lalu merangkul mamanya dan pergi meninggalkan bandara.
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen kalian. Semoga ceritaku nggak ngebosenin ya gaess 😍😘