
"Selamat pagi, Nyonya Tiara." Sapa Dokter Raisa dengan tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Dok." Balas Tiara dan Mahesa.
"Saya periksa dulu, ya!"
Mahesa sedikit menjauh kala Dokter Raisa sedang memeriksa istrinya.
"Tekanan darahnya sudah normal. Kalau kondisi sudah membaik, besok sudah bisa pulang. Untuk sementara, tunda kehamilan minimal satu tahun. Agar rahim benar-benar pulih pasca kuret."
"Baik, Dok. Terima kasih." Ucap Mahesa.
"Sama-sama, Tuan. Jangan lupa minggu depan datang lagi untuk kontrol, sekalian untuk konsultasi pemakaian alat kontrasepsi."
"Baik, Dok."
"Kalau begitu saya permisi. Semoga lekas sembuh."
"Iya, Dok." Jawab Tiara.
Ketika dokter sudah keluar, tak berselang lama Mama Mahesa datang dengan membawa rantang berisi makanan.
"Bagaimana keadaan kamu, Ra? Mama sampai nggak bisa tidur nyenyak karena mikirin kamu."
"Aku baik-baik saja, Mah."
"Lalu, bagaimana dengan kandungan kamu?"
Tiara dan Mahesa saling pandang dan keduanya sama-sama terdiam. Hingga perkataan Mahesa membuat Mama Mahesa langsung terduduk lemas.
"Janinnya tidak bisa diselamatkan, Mah. Karena pendarahan hebat yang dialami Tiara." Ucap Mahesa lalu menundukkan kepalanya.
Tiara menggenggam erat tangan suaminya untuk menenangkan. Dia tahu suaminya pasti masih menyalahkan dirinya sendiri atas musibah ini.
"Astaghfirullah, kenapa nggak ngomong Mama? Sintia juga, dia bilang katanya Tiara nggak apa-apa."
"Maaf, Mah. Aku cuma nggak mau Mama tambah khawatir dan nantinya Mama malah kepikiran." Jelas Mahesa.
"Maafin Mama, Ra. Mama nggak nemenin kamu."
"Enggak apa-apa, Mah. Do'a dari Mama sudah cukup untuk aku."
__ADS_1
"Terus, kapan kamu boleh pulang?"
"Kata dokter, kalau hari ini kondisi Tiara semakin membaik, besok sudah boleh pulang."
"Syukurlah kalau begitu. Kamu yang sabar, ya. Mungkin memang belum saatnya kalian punya anak lagi. Allah masih ingin kalian fokus membesarkan Shaka."
"Iya, Mah."
-
-
-
-
"Kita jemput mama dulu atau mama ke rumah sakit duluan, Kak?"
"Mama udah berangkat diantar sopir, kita langsung berangkat aja soalnya mama nungguin di parkiran."
"Ya udah, kita langsung berangkat aja!" Ajak Sintia.
Keduanya keluar dari perusahaan dan bergegas berangkat ke rumah sakit.
"Ok."
Dika menghentikan mobilnya di salah satu toko buah. Sintia turun dari mobil lalu masuk ke toko buah, dia memilih buah yang akan dibeli.
Sintia mengambil buah jeruk, apel, anggur dan pir. Setelah dirasa cukup, dia menuju kasir untuk membayar. Selesai membayar dan menerima buah yang dibeli, dia langsung menghampiri Dika yang masih setia di dalam mobil.
"Sudah?" Tanya Dika saat Sintia sudah masuk mobil.
"Sudah, Kak."
"Mau ke mana lagi?"
"Langsung ke rumah sakit aja, takutnya nanti mama kelamaan nunggu kalau mampir tempat lagi."
"Ok."
Dika melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah 25 menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit. Dika memarkirkan mobilnya di dekat mobil sang mama.
__ADS_1
Sintia keluar lebih dulu sambil membawa buah yang dibeli tadi, dia langsung menghampiri calon mertuanya.
"Udah dari tadi, Mah?" Tanya Sintia sambil menyalami tangan Mama Dika.
"Mama juga baru sampai, tadi mampir ke toko kue sebentar."
"Kita langsung ke dalam aja, Mah! Mama juga udah di sana." Ajak Sintia.
Sintia dan Mama Dika berjalan dulu menuju ruangan Tiara, sedangkan Dika mengikuti di belakangnya.
Setibanya di ruang rawat Tiara, Sintia membuka pintu ruangan itu.
"Kakak!" Panggil Sintia saat melihat Tiara sedang duduk sambil mengobrol dengan mamanya.
"Hai, Sin. Lho, Tante ikut ke sini juga?"
"Iya, Ra. Kemarin tahu dari Dika waktu lagi kumpul di ruang keluarga. Makanya, Tante ikut ke sini sekalian."
"Tiara jadi nggak enak, ngerepotin Tante terus."
"Enggak repot, Ra. Tante justru senang bisa ketemu kamu lagi."
"Gimana kondisi kamu?" Tanya Mama Dika.
"Tiara baik, Tante. Cuma janinnya nggak tertolong karena pendarahan hebat."
"Astaghfirullah, kamu yang sabar, ya. Semoga suatu saat kamu diberi kepercayaan untuk punya anak lagi."
"Aamiin, terima kasih, Tante."
"Mbak Sarah, apa kabar?" Tanya Mama Dika yang duduk bergabung dengan Mama Mahesa.
"Alhamdulillah baik, Mbak. Terima kasih sudah mau repot-repot datang ke sini."
"Enggak apa-apa, Mbak. Sebentar lagi kota juga bakal jadi keluarga, sudah sewajarnya untuk saling mempererat tali silaturahmi."
"Iya, Mbak Mirna."
"Kak, cepet sembuh ya! Biar kita bisa ke butik sama-sama buat ukur baju seragam pernikahan." Ucap Sintia sambil memegang lembut tangan Tiara.
"Iya, do'ain aja semoga besok sudah bisa pulang."
__ADS_1
"Iya, Kak."
Akhirnya, semua yang ada di sana melanjutkan obrolan tentang persiapan pernikahan Sintiabdab Dika. Tak lupa Sintia juga meminta pendapat kakak iparnya karena bagaimanapun, Tiara banyak berjasa dalam hidupnya dan keluarga.