
Hari yang ditunggu pun tiba, sejak pagi Tiara mulai membersihkan rumah dan membuat makanan untuk menyambut kedatangan Bu Sarah dan Mahesa.
Lalu Tiara memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap-siap, sebelum tamunya datang. Kebetulan dia hari ini libur jadi bisa menjamu tamunya dengan baik.
Tak berselang lama datanglah Bu Sarah, yang sudah berada di depan rumah Tiara.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, eh Bu Sarah sudah datang, mari silakan masuk. Maaf rumahnya sederhana." Ucap Tiara seraya mempersilakan Bu Sarah masuk untuk diajak menuju ruang tamu.
"Bagi saya ini sudah sangat rapi dan nyaman Tiara."
"Oh ya maaf putra saya sedikit terlambat karena masih dijalan menuju kesini" Lanjut Bu Sarah.
"Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya tinggal ke belakang dulu." Ucap Tiara lalu menuju dapur untuk membuat minuman dan mengambil camilan yang sudah ditaruh toples.
"Silakan diminum, Bu. Maaf seadanya." Ucap Tiara sambil meletakkan cangkir yang berisi teh dihadapan Bu Sarah.
"Ini sudah lebih dari cukup" Jawab Bu Sarah dengan tersenyum.
"Maaf saya terlambat." Ucap Mahesa begitu memasuki rumah Tiara.
"Tuan"
__ADS_1
"Kamu"
Ucap Tiara dan Mahesa bersamaan. Tiara begitu terkejut setelah tahu, bahwa anak Bu Sarah adalah laki-laki yang tak sengaja dia tabrak sewaktu di minimarket. Begitupun dengan Mahesa, dia tidak menyangka bahwa gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah Tiara.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Bu Sarah heran.
"Tidak ,Bu. Kebetulan waktu saya belanja di minimarket nggak sengaja menabrak Tuan ini." Jawab Tiara.
Sedangkan Mahesa, dia kembali merasakan getaran aneh saat menatap kedua bola mata Tiara. Tapi dia segera menampik bahwa dia tidak mungkin jatuh cinta pada gadis itu.
"Oh sepertinya kalian memang berjodoh." Ucap Bu Sarah semakin antusias melanjutkan perjodohan ini.
"Sebaiknya kita makan siang dulu Bu Sarah, Tuan. Tadi saya sudah masak untuk makan siang, semoga kalian suka." Pungkas Tiara untuk menghilangkan kecanggungan.
***
Akhirnya, mereka pun menuju ruang makan dan disana sudah tersaji masakan Tiara. Nasi, ayam kecap, capcay dan juga kerupuk udang. Menu yang sangat sederhana namun, mampu menggugah selera makan.
Selama makan siang, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu di piring masing-masing. Hingga sesudah selesai makan, Tiara segera membereskan piring kotor dan tempat makan tadi sebelum melanjutkan obrolan di ruang tamu.
"Berhubung semua sudah berkumpul disini, saya ingin menanyakan jawaban nak Tiara tentang perjodohan ini." Ucap Bu Sarah memulai pembicaraan.
Suasana mendadak menjadi hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga sebuah suara, memecah keheningan tersebut. Yang mampu membuat senyuman indah tak lepas dari bibir Bu Sarah.
__ADS_1
"Saya menerima perjodohan ini." Ucap Tiara setelah dia berperang dengan hatinya.
Dia menerima perjodohan ini karena tidak tega jika harus melihat gurat sedih di wajah Bu Sarah. Apalagi Tiara yang selama ini begitu merindukan sosok seorang ibu.
"Alhamdulillah, berarti nanti tinggal menentukan hari yang baik untuk pernikahan kalian. Untuk semua keperluan kalian biar Mama yang urus, kalian tinggal terima beres."
"Terserah Mama saja gimana baiknya." Jawab Mahesa. Setelah beberapa saat hanya terdiam.
Selesai membahas tentang pernikahan Mahesa dan Tiara. Bu Sarah pun pamit pulang terlebih dahulu karena ingin segera mengurus keperluan menikah, sedangkan Mahesa, dia masih berada di rumah Tiara karena ingin mengatakan sesuatu pada Tiara.
"Kamu dengarkan saya baik-baik, jangan merasa senang dulu dengan perjodohan ini. Karena bagi saya kamu dan wanita diluaran sana sama saja, hanya ingin mengincar harta kekayaan. Setelah mendapat apa yang diinginkan lalu pergi dengan sebuah pengkhianatan." Ucap Mahesa penuh penekanan pada kalimat terakhir.
Deg
Tiara tak habis fikir, bagaimana seorang Mahesa bisa berkata seperti itu padahal belum saling mengenal kepribadian masing-masing. Tiara menghela napas panjang untuk mengurangi sesak didada akibat ucapan Mahesa yang seakan merendahkan harga dirinya dan menganggap Tiara adalah orang yang gila harta.
"Tuan tenang saja, karena saya tidak pernah memiliki pemikiran licik seperti itu. Walaupun saya tidak bergelimang harta, bukan berarti saya akan menghalalkan segala cara hanya untuk hidup enak." Pungkas Tiara dengan tegas.
Mahesa pun hanya berdecih, lalu pergi meninggalkan rumah Tiara. Setelah kepergian Mahesa, Tiara terduduk di kursi ruang tamu dengan memegang dadanya yang terasa sesak karena kalimat penghinaan dari Mahesa.
"Ya Tuhan, apakah keputusanku sudah benar?" Gumam Tiara seraya mengelus dadanya.
Kira-kira, Tiara bakal bahagia nggak ya setelah menikah dengan Mahesa? Atau justru penderitaan yang dia dapatkan.
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen kalian 😍😘😘😘