Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
#CUT Season 2


__ADS_3

Tak terasa sudah satu minggu Icha bekerja di rumah Mahesa. Saat ini dia sedang berada di halaman belakang, menemani Shaka yang bermain mobil-mobilan.


Sementara Sintia, dia sedang pergi bersama Dika untuk mengurus keperluan pernikahan mereka. Dan Tiara, dia juga sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, tidak boleh terlalu kecapekan.


Seperti saat ini, dia sedang berjalan-jalan di sekitar halaman depan. Karena merasa bosan sendirian, dia lantas menemui Icha yang berada di halaman belakang.


"Hei, ngelamunin apa sih?" Tanya Tiara saat sudah duduk di samping Icha.


"Eh, enggak ngelamunin apa-apa kok, Mbak." Elak Icha.


"Nggak usah bohong, Cha. Aku dari tadi perhatiin kamu, tatapan kamu kosong ke arah depan."


"Kamu lagi ada masalah? Cerita aja nggak apa-apa, anggap aku ini saudara kamu." Imbuh Tiara.


Dan benar saja, dalam sekejap air mata Icha pun luruh. Tiara langsung menarik tubuh Icha ke dalam pelukannya untuk menenangkan.


Tiara membiarkan Icha meluapkan beban yang dipendamnya, sesekali tangan Tiara mengelus bahu Icha.


Setelah merasa tenang Icha lantas melerai pelukan Tiara.


"Maaf, Mbak. Aku udah lancang." Ucap Icha sambil menundukkan kepalanya.


"Enggak masalah, Cha. Sekarang cerita kamu ada masalah apa, siapa tahu aku bisa kasih solusi." Ucap Tiara sambil menggenggam tangan Icha.


"Aku bingung, Mbak. Adik aku sebentar lagi lulus dari SMA, sedangkan aku ingin dia melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Tapi, aku belum punya biaya sama sekali."


"Memangnya adik kamu mau kuliah di mana?" Tanya Tiara.


"Dia ingin kuliah di Universitas C, Mbak."

__ADS_1


"Berarti masih di kota ini, ya." Ucap Tiara sambil memikirkan sesuatu.


"Iya, Mbak."


"Oh ya, Cha. Aku kemarin udah ngomong ke Dika, kalau kamu bakal kerja di sini terus."


"Terus hutang aku ke Tuan Dika gimana, Mbak? Kan masih kurang 7 bulan lagi."


"Kamu tenang aja. Soal hutang kamu, papinya Shaka yang urus. Jadi, kamu hanya perlu fokus pada satu pekerjaan saja." Jelas Tiara.


"Tapi, Mbak. Aku udah terlalu banyak ngerepotin Mbak Tiara dan keluarga."


"Kata siapa kamu ngerepotin? Aku justru berterima kasih karena kamu sudah mau bekerja di sini. Jadi, aku nggak perlu capek-capek buat cari pengasuh yang cocok untuk Shaka."


"Aku nggak tahu harus ngomong apalagi, aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang sebaik Mbak Tiara dan keluarga."


"Kamu terlalu berlebihan, Cha. Itu sudah jadi kewajiban kita untuk saling membantu sesama."


"Iya, Mbak."


Malam harinya, selepas makan Tiara mengajak Sintia ke kamar Shaka karena ingin berbicara sesuatu.


"Ada apa, Kak?"


"Gini, Sin. Kakak mau minta tolong kamu buat minta formulir pendaftaran buat adiknya Icha, bisa nggak?"


"Pendaftaran apa, Kak?"


"Calon mahasiswa di Universitas C."

__ADS_1


Akhirnya, Tiara menceritakan semua yang dikatakan oleh Icha tadi. Sintia mendengarkan dengan sesekali menganggukkan kepalanya.


"Gampang, Kak. Nanti aku coba bicarakan dengan Kak Dika, kali aja dia mau bantuin untuk urus pendaftaran."


"Kamu yakin dia mau bantuin?"


"Coba dulu, Kak. Kan kita belum tahu kalau belum dicoba."


"Iya juga, sih."


Setelah pembicaraan tadi, Sintia langsung menghubungi Dika.


"Ada apa? Kangen ya?" Tanya Dika ketika sambungan telepon tersambung.


"Idih, gombal banget sih. Aku mau minta tolong sesuatu."


"Minta tolong apa?"


Sintia lantas menceritakan keinginan Tiara tadi serta meminta pendapat pada Dika.


"Boleh, Ay. Nanti biar aku minta Andre buat minta formulir ke sana, soal biaya sementara biar aku yang tanggung. Tapi, jangan bilang kalau itu dari aku, ya!"


"Iya, Kak. Makasih, ya."


"Sama-sama, Ay."


"Aku tutup dulu teleponnya, Kak. Selamat istirahat, kesayangan."


"Selamat istirahat juga, Ay."

__ADS_1


Sintia langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu dia segera menarik selimut dan tidur agar besok bisa bangun lebih awal.


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen kalian 😍😘😘


__ADS_2