Cinta Untuk Tiara

Cinta Untuk Tiara
#CUT Season 2


__ADS_3

"Nak Icha kenal dengan maminya Shaka di mana? Tanya Mama Mahesa yang ikut menemani Shaka bermain di ruang tengah.


"Waktu itu nggak sengaja bertemu di taman, Nyonya. Kebetulan saat itu saya baru dipecat dari restoran tempat saya bekerja."


"Kok bisa?"


"Saya difitnah mencuri ponsel teman kerja saya, padahal saya nggak ngelakuin itu."


"Kok masih ada ya orang kayak gitu, kamu yang sabar ya. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kamu agar kamu terhindar dari perlakuan buruk orang lain." Ucap Mama Mahesa dengan mengelus lembut pundak Icha.


"Iya Nyonya, saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang sebaik Mbak Tiara."


"Kamu benar, Tiara memang orang yang sangat baik. Saya juga bersyukur dia bisa jadi menantu saya."


Saking asiknya mengobrol Icha dan Mama Mahesa terdiam saat mendengar celetukan Shaka.


"Oma, atu mau main cama Mbak. Dangan diajak nomong teyus."


"Oh iya, Oma sampai lupa. Mbak temen mainnya Shaka, maafin Oma ya." Ucap Mama Mahesa sambil mencium pipi gembul Shaka.


"Iya Oma."


"Mbak, atu mau minum cucu boyeh?" Tanya Shaka pada Icha.


"Boleh dong, mau Mbak bikinin apa dibuatin Mbok Asih?"


"Mau cama Mbak."


"Ok, kamu tunggu di sini ya. Mbak buatin dulu susunya." Pamit Icha lalu bergegas ke dapur untuk membuatkan susu.


Ketika di dapur Icha bertanya pada Bi Asih takaran susu untuk Shaka. Setelah diberitahu Bi Asih, dengan cekatan Icha membuat susu untuk Shaka.


"Mbak Icha di sini tinggal sama siapa?" Tanya Bi Asih sambil menyiapkan bahan untuk makan siang.


"Aku cuma berdua dengan adikku, Bik. Karena orang tua saya sudah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan."


"Aduh, maaf ya Mbak. Bibi jadi nggak enak sama kamu."


"Enggak apa-apa kok, Bik. Ya udah saya ke depan dulu mau antar susunya Shaka."


"Iya Mbak."


Icha kembali ke ruang tengah lalu memberikan susu untuk Shaka.


"Ini susunya udah jadi." Ucap Icha lalu memberikan dot yang berisi susu.

__ADS_1


"Matacih, Mbak."


"Sama-sama."


Setelah menghabiskan susunya, Shaka mulai mengajak bermain Icha. Mereka sudah sangat akrab walaupun baru pertama kali bertemu.


-


-


-


-


Sementara di kamar, Sintia sedang melakukan panggilan video dengan Dika.


"Kak Dika nggak masuk kantor, ya? Kok masih santai banget."


"Enggak, soalnya nanti mau meeting di luar. Jadi, sekalian aja siap-siap nanti kalau mau berangkat."


"Oh gitu."


"Gimana, Icha udah mulai kerja di situ?"


"Syukurlah kalau gitu. Kamu juga harus tetep pantau dia, bukannya mau berburuk sangka takutnya nanti dia ceroboh."


"Iya Kak, kalau masalah itu aku udah ngomong sama Kak Mahesa. Walaupun nggak bisa pantau secara langsung, setidaknya masih bisa pantau lewat cctv."


"Iya, nanti kita jalan yuk!" Ajak Dika.


"Ke mana Kak?"


"Ke mana aja yang penting sama kamu, aku kangen banget."


"Gombal banget sih, Kak. Kayak nggak ketemu setahun aja, padahal kemarin baru ketemu."


"Iya, kan aku udah jadi bucinnya kamu. Sekarang aku baru tahu ternyata orang bucin tuh kayak gini, dulu aku yang sering ledekin kakak kamu dan sekarang malah aku yang kena virus bucin."


"Hahahaha, kalau Kak Mahesa sih jangan dibahas lagi. Emang dia rajanya bucin karena udah level akut, masa kucing aja dicemburuin." Ucap Sintia sambil tertawa.


"Iya juga ya, tapi aku nggak mau terlalu bucin. Takutnya nanti kamu jenuh karena kebucinanku."


"Bucin boleh, tapi sewajarnya. Kalau Kak Mahesa itu udah bucin kelewat posesif juga, kadang aku sering kasihan lihat Kak Tiara yang nggak punya kebebasan."


"Itu juga yang bikin aku khawatir. Coba deh kamu ngomong pelan-pelan ke Mahesa, jangan terlalu mengekang Tiara. Dia juga perlu menikmati dunia luar, meskipun hanya sekedar jalan-jalan atau apalah yang penting dia juga bisa menikmati suasana lain."

__ADS_1


"Iya Kak, nanti aku coba ngomong ke Kak Mahesa. Terus nanti kita jadinya jalan ke mana?"


"Gampanglah yang penting berangkat dulu, soal tujuan kita pikirin sambil jalan."


"Ok, terserah Kakak aja. Aku matiin dulu ya Kak, aku mau lihat Shaka lagi ngapain." Pamit Sintia.


"Iya Sayang. Love you."


"Me too." Balas Sintia lalu panggilan video pun berakhir.


Sebelum menyusul Shaka, Sintia ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan ganti baju, dia langsung menemui Shaka yang sedang bermain dengan Icha di halaman belakang.


"Hai, Cha." Sapa Sintia lalu ikut duduk di sebelah Icha.


"Hai juga Mbak."


"Gimana, Shaka ngerepotin kamu nggak?"


"Enggak kok Mbak, dia malah anteng banget dari tadi."


"Syukurlah, berarti dia cocok sama kamu. Soalnya kalau dengan orang lain dia pasti suka usil banget."


"Iya Mbak."


"Kamu sarapan dulu aja, biar aku yang jagain Shaka. Tadi Bi Asih bikin nasi goreng."


"Mbak Sintia udah sarapan?"


"Aku kalau pagi cuma minum susu kalau mau makan roti. Buruan sarapan, aku nggak mau nanti disalahin kalau kamu pingsan karena belum sarapan." Gurau Sintia.


"Mbak Sintia bisa aja, ya udah kalau gitu saya tinggal sebentar ya Mbak."


"Iya, nggak usah buru-buru. Kamu nikmatin aja sarapannya."


Icha pun berlalu ke dapur untuk sarapan, dan di sana ternyata ada Mahesa yang sedang mengambil sarapan untuk Tiara.


"Sarapan dulu, Cha. Jangan sungkan kalau di sini, kalau kamu lapar makan aja nggak apa-apa. Atau kalau butuh sesuatu bisa minta tolong Bi Asih." Ucap Mahesa sambil meletakkan piring berisi makanan dan segelas susu ibu hamil.


"Baik Tuan."


Selesai menyiapkan sarapan, Mahesa langsung ke kamar untuk mengantar sarapan Tiara.


"Semoga Allah selalu melindungi dan memberikan keberkahan untuk keluarga Tuan Mahesa. Jarang sekali orang kaya seperti mereka memperlakukan pekerjanya seperti keluarga sendiri." Batin Icha.


Siang semuanya, jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya 😍😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2