
"Ramai sekali ibukota kerajaan ini" ucap Qia Qia dalam hatinya sambil melihat antrian panjang orang yang hendak masuk ke dalam ibukota kerajaan itu.
Qia Qia langsung ikut mengantri dan saat itu sudah ada lima antrian pejalan kaki dan satu antrian panjang untuk penunggang kuda dan juga kereta kuda.
"Nona apakah anda juga ingin ikut kompetisi beladiri" ucap seorang wanita muda yang ada di depan Qia Qia sambil menoleh ke Qia Qia.
"Oh tidak, saya malah tidak tahu jika akan ada kompetisi beladiri" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke wanita muda itu.
"Nona, seharusnya anda ikut saja, hadiahnya sampai sepuluh juta keping koin emas untuk juara satunya dan di berikan jabatan sebagai jenderal perang juga yang akan memimpin satu juta prajurit nantinya" ucap wanita muda itu dengan sangat ramah.
"Nona, Apakah anda akan ikut juga di kompetisi beladiri itu" ucap Qia Qia dengan ramah
"Benar saya memang sengaja ikut bersama dengan teman teman dari sekte pedang bulan" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Nona, bagaimana aturan kompetisi jika saya boleh tahu karena saya memang tidak tahu sama sekali soal kompetisi ini" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Kompetisi ini sama dengan kompetisi sebelumnya yang selalu di gelar setiap lima tahun di ibukota, kita di perbolehkan membunuh lawan jika terpaksa, sistemnya siapa yang berdiri terakhir saja kok jadi tidak ada batasan apapun namun dilarang keras menggunakan racun atau senjata rahasia" ucap wanita muda itu dengan ramah menjelaskan sambil berjalan maju karena tanpa mereka sadari antrian di depan mereka sudah mulai pada masuk ke dalam ibukota kerajaan itu.
"Lalu kapan dimulainya kompetisi ini" ucap Qia Qia dengan ramah
"Hari ini adalah hari pendaftaran terakhir dan besok pagi adalah hari kompetisinya" ucap wanita muda itu dengan ramah.
__ADS_1
"Terima kasih Nona atas informasinya dan sebaiknya anda masuk teman teman anda sudah menunggu anda di dalam" ucap Qia Qia dengan ramah sambil menunjuk teman teman sektenya menunggu di bagian dalam gerbang ibukota kerajaan itu.
"Nona sampai jumpa lagi" ucap wanita muda itu dengan ramah sambil berlari menemuk teman teman sektenya.
"Nona, bisa perlihatkan medali anda" ucap prajurit yang berjaga di pintu gerbang masuk ibukota kerajaan itu dengan sangat sopan.
"Maaf medali saya hilang dalam perjalanan kesini" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Nona biaya masuk ibukota tanpa medali senilai lima keping koin emas" ucap prajurit itu dengan sangat sopan.
"Baiklah, ini lima Keping koin emasnya" ucap Qia Qia sambil memberikan lima keping koin emas ke prajurit itu.
"Nona silahkan masuk" ucap prajurit itu dengan ramah sambil mempersilakan Qia Qia untuk masuk ke dalam ibukota kerajaan.
Qia Qia terus berjalan di jalanan utama ibukota kerajaan itu dan meskipun ibukota kerajaan itu megah namun ternyata masih banyak pengemis dan gelandangan di sana.
"Tuan maaf saya mau bertanya arah panggung turnamen sebelah mana ya" ucap Qia Qia ke seorang pria sepuh yang sedang duduk mengemis di pinggir jalan.
"Nona lurus saja, masih dua kilometer lagi dari sini, tapi setahuku acara pembunuhan itu baru besok diadakannya dan sebaiknya anda tidak ikut acara pembunuhan itu" ucap pria sepuh itu dengan sangat sopan sungguh berbeda dengan kondisinya yang benar benar seperti seorang pengemis.
"Terima kasih atas petunjuk yang anda berikan, saya hanya ingin melihat saja bukan mau ikut serta" ucap Qia Qia sambil menyimpan sepuluh Keping Koin Emas di mangkuk pria sepuh itu.
__ADS_1
"Anda sungguh memiliki hati yang sangat bersih dan kultivasi yang tinggi, tetaplah berhati bersih" ucap pria sepuh itu sambil menghilang dari pandangan Qia Qia.
Qia Qia langsung berteleportasi mengejar pria sepuh itu karena dengan kekuatannya dia bisa menemukan jika pria sepuh itu berteleportasi ke hutan kecil yang ada di bagian belakang ibukota dan masih dalam tembok ibukota kerajaan.
"Tuan, tidak baik pergi begitu saia bukan, setidaknya anda bisa mengenalkan diri anda kepada saya, nama saya Qia Qia tapi semua orang yang ku kenal memanggil ku dengan sebutan Dewi Mawar, boleh saya tahu nama anda" ucap Qia Qia dengan ramah yang muncul ri belakang pria sepuh yang hendak berjalan ke bagian dalam hutan itu.
Pria sepuh itu tampak terkejut karena Qia Qia berhasil menemukannya, dia langsung mundur dua langkah dan bersiaga takut Qia Qia menyerangnya.
"Tuan, dengan tingkat kultivasi anda yang hanya pencipta ilahi tahap akhir sangat mudah untuk ku membunuh mu dalam kedipan mata tapi aku juga lihat hatimu sangat baik dan bersih setidaknya perkenalkan nama anda" ucap Qia Qia dengan ramah dan tersenyum hangat ke Pria sepuh itu.
"Dewi mawar nama saya Kun Gu maafkan saya jika saya tidak berlaku sopan kepada anda, saya hanya ingin memberikan koin emas dari anda ke istri saya agar dia bisa memasak malam ini, saya tidak ada maksud berlaku tidak sopan kepada anda" ucap Pria sepuh itu dengan sangat sopan.
"Kun Gu, apa kau tahu medali ini" ucap Qia Qia sambil memperlihatkan medali kota kayu miliknya dan diluar dugaan Kun Gu memperlihatkan medali yang sama.
"Dari awal aku sudah curiga kenapa ada seorang pengemis memiliki kultivasi tingkat pencipta ilahi tahap akhir jadi kau ternyata masih bersaudara dengan bawahanku Kun Ma dan Kun Yi" ucap Qia Qia dengan ramah sambil menyimpan kembali medali kota kayu nya.
"Dewi anda mengenal anak dan cucu saya dan mereka adalah bawahan Dewi" ucap Kun Gu sambil berlutut di depan Qia Qia dengan nampak kesedihan di matanya.
"Kun Gu berdirilah, aku tidak suka seorang pun berlutut di depan ku selain bawahan ku" ucap Qia Qia sambil membantu Kun Gu untuk berdiri kembali.
"Dewi, saya ingin menjadi bawahan anda juga agar dapat berkumpul kembali dengan anak anak saya Kun Ma dan Kun Lo serta cucu cucu saya tentunya" ucap Kun Gu sambil berlutut kembali dan membuka pertahanan jiwanya.
__ADS_1
"Aisss kau ini, aku tidak akan menjadikanmu bawahan ku sebelum aku mengenal mu, setidaknya bawa aku menemui istrimu dulu" ucap Qia Qia sambil kembali membantu Kun Gu untuk berdiri.
"Dewi mari ikuti saya" ucap Kun Gu sambil melayang dan langsung terbang ke atas pohon besar yang Qia Qia kenali sebagai pohon yang memiliki lubang di tengahnya.