
Wi Ni pun kemudian menggigit apel emasnya dan langsung merasakan khasiatnya yang sangat besar membantu Kultivasi nya.
Lautan Qi Wi Ni semakin bertambah besar dan sangat stabil bahkan wi ni merasa jika dia bisa kapan saja naik tingkat kultivasi.
Kereta kuda itu berjalan dengan tanpa ada gangguan sedikit pun dan kini sudah mulai memasuki gerbang desa pertama yang menjadi tujuan mereka.
"Dewi, kita sudah sampai di desa pertama dan sebentar lagi sampai di kediaman kepala desa" ucap Wi Ni sambil melihat ke arah Qia Qia dengan sangat hormat.
"Baguslah jika demikian aku ingin melihat desa ini apakah cocok untuk menjadi bagian kota mawar atau tidak" ucap Qia Qia dengan ramah sambil membereskan pakaiannya dan memakai jubahnya kembali karena selama di perjalanan dia membukanya.
Kereta kuda itu berhenti di sebuah halaman kediaman demikian juga dengan semua kuda yang di tunggangi oleh para prajurit wanita.
"Dewi kita sudah sampai" ucap seorang prajurit wanita sambil membuka pintu kereta kuda yang di naiki oleh Qia Qia dan Wi Ni.
Qia Qia kemudian turun dari kereta kuda itu bersama dengan Wi Ni dan disambut hangat oleh seorang pria sepuh dan ratusan orang penduduk desa.
__ADS_1
"Dewi Mawar selamat datang di desa kami, mari silahkan masuk ke kediaman saya saja" ucap pria sepuh itu dengan sangat hormat sambil membungkukkan badannya dan kemudian mengajak Qia Qia untuk masuk ke dalam kediamannya.
"Aku tidak lama di sini dan kita duduk di teras saja, oh ya sampai kan ke para penduduk desa mu untuk melanjutkan kembali pekerjaan mereka jangan sampai karena kehadiran ku mereka jadi tidak bekerja" ucap Qia Qia dengan ramah sambil melangkah menuju teras kediaman pria sepuh pemimpin desa itu.
"Baik Dewi silahkan duduk" ucap pria sepuh itu dengan hormat sambil kemudian berlari dan menarik sebuah kursi untuk di gunakan oleh Qia Qia.
Qia Qia kemudian duduk di kursi itu dan Wi Ni duduk di sebelahnya sedangkan para prajurit tampak sibuk dengan mengurus kuda kuda yang mereka gunakan.
Pria sepuh kepala desa itu tidak langsung duduk melainkan langsung menemui para penduduk desa yang ada di jalanan depan kediamannya lalu meminta para penduduk desa untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
"Dewi terima kasih anda sudah berkenan mampir di desa kami ini, saya sangat bersyukur dengan kehadiran anda" ucap pria sepuh kepala desa itu dengan sangat hormat setelah duduk di depan Qia Qia dan langsung menuangkan Poci Teh yang ada di atas meja ke gelas untuk Qia Qia dan juga Wi Ni.
"Dewi silahkan diminum, kami di desa ini semuanya bertani namun yang kami tanam merupakan tanaman herbal, kami adalah salah satu desa pemasok tanaman herbal untuk kota mawar" ucap pria sepuh kepala desa itu dengan hormat sambil menyimpan gelas untuk Qia Qia dan Wi Ni.
"Terima kasih, dan kenapa kalian ingin menjadi bagian dari kota mawar, bukankah menjadi desa mandiri seperti ini lebih baik untuk kalian" ucap Qia Qia sambil menerima gelas teh itu dan kemudian meminumnya sedikit.
__ADS_1
"Dewi, kami semua penduduk desa sudah mengetahui perubahan yang anda lakukan di kota mawar dan itulah sebabnya kami ingin menjadi bagian dari kota mawar, karena hanya anda satu satunya Pemimpin kota yang sangat memperhatikan Penduduk, kami juga membutuhkan anda agar kehidupan kami bisa lebih baik lagi, kami siap menjadi bawahan anda" ucap pria sepuh yang merupakan kepala desa itu dengan sangat hormat.
"Teh ini sangat bagus namun kenapa kau banyak sekali menggunakan sari bunga Krisan sebaiknya yang kau perbanyak adalah rumput jiwanya saja, aku bisa menerima desa mu ini namun kalian harus tunduk dengan aturan kota mawar dan bersedia membayar pajak kota nantinya sebesar sepuluh persen untuk semua pelaku usaha jika memang selama ini kau yang memimpin mereka maka kau lah yang membayarnya setiap bulannya apakah kau bersedia" ucap Qia Qia dengan sangat ramah.
"Dewi terima kasih atas masukan anda, di desa kami ini semua kebun herbal merupakan milik saya dan semuanya bekerja kepada saya, saya siap dengan mematuhi peraturan kota mawar dan akan membayar pajak tersebut namun apakah saya harus juga membayar pajak ke istana kerajaan dan kekaisaran" ucap pria sepuh itu dengan sangat hormat dan tampak memilih dengan hati hati perkataannya.
"Tentu saja tidak, desa mu ini kan menjadi bagian dari kota mawar jadi urusan ke kerajaan dan kekaisaran adalah urusan kota mawar, Wi Ni perlebar tembok kota kita dan tutup semua area desa ini, berikan satu gerbang disini dan berikan seratus prajurit untuk nanti menjaga gerbang tersebut" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke pria sepuh itu.
"Baik Dewi, nanti pembangunan tembok kota akan menutup area desa ini dan tetap membuka gerbang untuk kemudahan para penduduk desa ini" jawab Wi Ni dengan sangat hormat.
"Dewi Terima kasih anda sudah mau menerima kami semua, dengan pajak kota yang rendah saya bisa lebih banyak memberikan gaji untuk para penduduk desa saya dan akhirnya para penduduk desa jika sakit bisa berobat dengan mudah ke kota mawar" ucap pria sepuh itu dengan sangat hormat.
"Jadi itu maksud mu sebenarnya kau ingin penduduk desa mu ini bisa berobat ke rumah pengobatan kota mawar dengan mudah" ucap Qia Qia sambil tertawa ringan.
"Benar Dewi karena jika kami belum menjadi bagian anda jika ada salah seorang dari kami yang sakit sangat susah mendapatkan pengobatan dan biayanya juga tidak sedikit, saya sangat sedih jika ada penduduk desa yang tidak bisa berobat karena faktor biaya" ucap pria sepuh itu dengan sangat hormat dan sedikit menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Wi Ni, nanti sampaikan ke para tabib untuk datang kesini dan membuka cabang rumah pengobatan di desa ini, khusus penduduk desa ini jangan di pungut biaya apapun, dan mulai hari ini beli semua kebutuhan para alkemis dan tabib dari desa ini saja dengan harga yang lebih baik dari pasaran" ucap Qia Qia dengan sangat ramah dan nampak wajah kaget dan gembira di pria sepuh itu.
"Baik Dewi nanti jika kita kembali ke kota mawar saya akan mengurusnya, dan Tuan kepala desa apakah ada bangunan kosong di sini yang bisa anda jual kepada kami untuk digunakan sebagai rumah pengobatan" ucap Wi Ni dengan sangat sopan dan juga hormat.