
Api yang sangat panas melesat keluar dari dalam telapak tangan Qia Qia dan langsung mengenai lantai ruangan itu dan menyebar ke segala arah, sehingga kini terlihat ruangan itu terbakar tertutup sepenuhnya api dengan Qia Qia ada didalamnya namun api itu tidak membakar Qia Qia karena dia pemilik Api tersebut.
Kun Yi merasakan panas yang sangat menyengat dan dia sangat panik karena melihat jika ruangan itu terbakar dengan Qia Qia ada didalamnya.
Kun Yi terjatuh dan berlutut sambil menangis menatap ruangan itu, hawa panas kini sudah tidak dia pedulikan karena pikirannya hanya kepada Qia Qia yang ada di dalam ruangan penuh api itu.
Sementara itu Qia Qia melayang beberapa sentimeter dari lantai ruangan itu dan berkeliling ruangan untuk mencari tahu tentang ruangan itu.
Qia Qia kemudian menemukan sebuah lorong yang memanjang dengan lebar empat meter dan tinggi lima meter.
"Jadi ada lorong lainnya dan kenapa ular ular itu tertahan disini tidak melintasi lorong ini" ucap Qia Qia sambil melihat ke arah lorong di depannya sambil berusaha mempelajari lorong itu.
"Jadi lantai ini lantai ilusi bukan lantai sebenarnya, coba kita lihat ada apa di balik lantai ilusi ini" ucap Qia Qia sambil berjongkok mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan kemudian melemparkannya ke tengah tengah lorong itu.
Batu yang di lemparkan oleh Qia Qia tidak mendarat di lantai melainkan langsung menghilang seolah olah tertelan oleh lantai ruangan itu.
Qia Qia kemudian mengarahkan apinya untuk memasuki lorong itu dan terlihat jika api itu juga menghilang yang di lantai namun tidak dengan yang di dinding kiri kanan dan juga yang di atas.
"Jadi hanya lantai ini saja yang ilusi, sedangkan lainnya adalah nyata, pantas ular ular itu terjebak di ruangan ini saja, benar benar perlindungan yang sempurna" ucap Qia Qia sambil melihat jika apinya kini mulai padam.
Qia Qia kemudian menggerakkan tangannya dengan cepat dan langsung menunjuk ke lantai lorong itu dan cahaya putih kembali keluar dari dalam jari telunjuknya yang langsung melesat ke arah lantai lalu menyebar ke seluruh bagian lantai ilusi.
__ADS_1
Boooooooooooooooooom
Satu suara ledakan yang sangat kencang terdengar dan gunung itu kembali bergetar dengan kencang.
Kun Yi yang melihat ruangan di bawahnya sudah terang kembali dan tidak memiliki api langsung berlari ke ruangan itu dan dia tidak lagi melihat bangkai ular melainkan abu abu nya saja, dia langsung melayang dan melesat ke arah Qia Qia dan langsung berdiri di samping Qia Qia dengan melihat ke arah Qia Qia.
"Dewi syukurlah anda tidak kenapa napa, saya lihat ruangan ini terbakar dan tertutup sepenuhnya oleh api dan barusan saya mendengar ada suara ledakan yang sangat kencang" ucap Kun Yi dengan suara yang cukup berat karena dari tadi dia menangis dan bekas air mata juga terlihat di pipinya.
Qia Qia melihat ke arah Kun Yi dan dia melihat Kun Yi dengan ramah sambil memegang kedua pundak Kun Yi.
"Api itu api milikku jadi tidak akan melukaiku, terima kasih sudah khawatir dengan ku, sekarang kamu mau ikut atau mau nunggu di luar saja" ucap Qia Qia dengan ramah sambil melepaskan pegangan tangannya.
"Dewi, tentu saja saya akan selalu mengikuti Dewi" ucap Kun Yi dengan sangat hormat sambil mengusap pipinya membersihkan sisa air matanya.
"Kita akan terbang ke sana dan pastikan kau tidak terjatuh ke lava itu" ucap Qia Qia sambil mulai melayang lalu terbang melesat menuju ujung lorong.
Kun Yi yang di tinggal oleh Qia Qia langsung terbang melesat mengikuti Qia Qia dan dia merasakan tekanan hawa panas dari lava di bawahnya itu.
Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di ujung lorong dan kini mereka memasuki sebuah ruangan besar dengan banyak harta di dalamnya namun bukan itu yang menarik minat Qia Qia melainkan sebuah pedang yang tertancap di sebuah kolam lava dimana setengah pedang itu tertancap dan setengahnya lagi terlihat olehnya.
"Dewi semua harta ini" ucap Kun Yi sambil melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Kun Yi lupakan sebentar aku mau bertanya kepada mu apakah kau mau pedang itu atau tidak" ucap Qia Qia sambil terus memandangi pedang tersebut.
"Dewi, pedang itu sampai merah terbakar lava, saya tidak minat dengan pedang itu dan juga saya pengguna elemen kayu jadi tidak bisa menggunakan pedang elemen api" ucap Kun Yi dengan hormat.
"Oke jika demikian setengah harta ini aku berikan kepadamu, kau simpanlah dan pilihlah mana yang kau suka" ucap Qia Qia sambil melayang mendekati pedang itu karena kolam lava itu sendiri berdiameter sampai sepuluh meter dan pedang itu persis ada di tengahnya.
"Baik Dewi terima kasih, anda berhati hatilah" ucap Kun Yi sambil melihat Qia Qia melayang hanya beberapa sentimeter dari lava yang meluap luap.
Qia Qia sama sekali tidak merasakan panas lava itu karena dia sendiri pengguna elemen api tingkat Ilahi meskipun bukan tingkat suci jadi terus melayang hingga sampai di depan pedang itu.
Qia Qia mencabut pedang berwarna merah itu dan suhu ruangan itu menjadi sangat panas, Qia Qia yang sedang memegang pedang itu tidak merasakan perbedaan suhu itu berbeda dengan Kun Yi yang sampai keluar keringat karena perbedaan suhu yang drastis itu.
Sebuah gulungan kuno tiba tiba keluar dari dalam lava persis dimana pedang itu tertancap dan ada sebuah cincin dimensi yang ikut keluar dari dalam lava tersebut berbarengan dengan lava itu perlahan mulai suruh.
Qia Qia kemudian menggigit ujung jarinya san meneteskan darahnya ke kristal segi delapan yang ada di ujung gagang pedang dan fenomena langsung terjadi dimana pedang itu kini bersinar terang berwarna merah dan sinar merah itu langsung menyebar ke seluruh ruangan bahkan sampai keruangan pertama yang mereka temukan yang penuh dengan ular ular itu.
Cahaya merah yang memenuhi ruangan itu juga membuat Kun Yi sampai memejamkan matanya karena sangat menyilaukan matanya.
Berbeda dengan Kun Yi, Qia Qia kini terbalut oleh lava yang tiba tiba naik ke atas dan langsung melapisi tubuh Qia Qia bahkan mulai masuk ke dalam pori pori tubuh Qia Qia.
Arrrrrrrgggggggggg
__ADS_1
Teriakan Qia Qia terdengar jelas bahkan saking kencangnya sampai bergema di ruangan besar itu