
"Saya akan berjalan jalan dulu di dalam kota dan Wi Ni bareskan semuanya dan bayar untuk semua jubah jika sudah ada harganya" ucap Qia Qia sambil berdiri dan diikuti oleh keduanya.
"Baik Dewi saya akan menyelesaikan semua pembayaran dan transaksi nya" ucap Wi Ni dengan hormat.
Qia Qia kemudian meninggalkan mereka berdua dan dia menuju ke kedai yang kemarin sempat dia bikin heboh.
Semua penduduk kota yang kini merupakan bawahannya selalu menyapanya dengan ramah dan sangat hormat, Qia Qia pun meluangkan waktunya untuk menyapa dan melihat usaha mereka di kota mawar.
Membutuhkan waktu sampai tiga jam untuk Qia Qia sampai di kedai karena seringnya dia berhenti untuk bertegur sapa dengan para penduduk.
"Dewi silahkan masuk" ucap pria sepuh pemilik kedai dengan sangat hormat.
"Terima kasih, kenapa disini jadi sepi begini" ucap Qia Qia dengan ramah sambil duduk di salah satu kursi.
"Dewi disini hanya ramai di pagi hari dan malam hari saja kecuali dia itu yang selalu kesini" ucap pria sepuh itu sambil menunjuk ke pria sepuh yang kemarin menerima cincin dimensi dari Qia Qia.
"Hormat kepada Dewi Mawar" ucap pria sepuh itu dengan hormat sambil membungkukkan badannya di depan Qia Qia.
"Duduklah aku tau masih ada yang ingin kau bicarakan padaku, paman tolong bawakan teh terbaik anda dan makanan untuk kami berdua" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Baik Dewi saya akan segera menyiapkannya untuk anda dan pengganguran satu ini" ucap pria sepuh pemilik kedai dengan ramah sambil tertawa terbahak bahak dan meninggalkan Qia Qia dan pria sepuh itu.
__ADS_1
"Bicaralah dan jangan pedulikan ucapan bercanda saudara mu itu" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Baik Dewi, saya hanya bertanya apakah kami boleh berkultivasi kembali karena di dunia bulan ini sejak ratusan juta tahun lalu sudah dilarang untuk kami kaum laki laki berkultivasi mencapai tingkat pencipta abadi hanya boleh sampai di tingkat pencipta semesta saja" ucap pria sepuh itu dengan sangat hormat dan sambil melihat sekelilingnya karena takut ada bukan penduduk kota yang mendengarnya.
"Bukan aku yang membuat peraturan itu, aku tidak akan melarang bawahanku untuk berkultivasi bahkan jika sampai melebihi ku pun aku perbolehkan namun karena itu larangan yang di buat oleh kaisar dan jika sampai ketahuan kira kira apa yang akan dilakukannya kepadamu" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke pria sepuh itu.
"Dewi, kami akan di tangkap dan di lumpuhkan kultivasi lalu di masukan ke Gunung terlarang dan dibiarkan mati di gunung terlarang" ucap pria sepuh itu dengan hormat.
"Lalu apakah kau mau kehilangan kultivasi mu dan dimasukkan ke gunung terlarang?" Tanya Qia Qia dengan ramah.
"Tidak dewi, saya tidak mau tapi jika saya hanya di dalam kota mawar sepertinya pihak kerajaan dan kekaisaran tidak akan mengetahui hal ini" ucap pria sepuh itu kembali.
"Disini banyak pelancong dan kita tidak mengenal mereka, saran ku hanya satu bersabarlah, semoga saja larangan itu segera menghilang" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Benar bukankah sudah aku sampaikan kepada kalian semua, aku tahu arah mu dan bukankah sudah ku sampaikan temui wakil ku Wi Ni jika kau ingin mendapatkan lahan, tapi ingat untuk berusaha, terserah kau mau usaha apa aku tidak akan mengatur mu selama usaha itu usaha yang benar" ucap Qia Qia sambil tertawa ringan.
"Dewi jika untuk peternakan apakah boleh, saya ingin beternak sapi sejak dulu namun jika pindah ke desa saya tidak berani karena kota ini kota kelahiran saya dan semua keluarga saya" ucap pria sepuh itu dengan sangat hormat.
"Nanti aku akan mengatur agar ada area khusus untuk peternakan dan pertanian untuk kalian, seberapa luas yang di butuhkan" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Dewi jika satu hektar apakah boleh" ucap pria sepuh itu dengan penuh harap.
__ADS_1
"Nanti kita lihat apakah cukup untuk kalian semua, karena kota baru yang aku buat tidak akan sekusut kota mawar saat ini, aku saja pusing jika mau berbelanja karena penataan di kota ini sungguh berantakan" ucap Qia Qia sambil melihat jika pria sepuh pemilik kedai sudah datang bersama istrinya membawa hidangan untuk nya dan juga pria sepuh itu.
"Dewi, maaf membuat anda menunggu lama" ucap pria sepuh pemilik kedai dengan sangat hormat sambil menyajikan hidangan untuk Qia Qia dan juga pria sepuh yang duduk di depannya.
"Terima kasih, ayo kita habiskan hidangan ini dulu baru kita berbincang kembali" ucap Qia Qia dengan ramah sambil meminta pria sepuh di depannya untuk ikut makan bersamanya.
Qia Qia tidak berbicara lagi melainkan langsung menyantap makanan yang ada di mejanya demikian juga dengan pria sepuh itu yang kini sudah menjadi bawahan Qia Qia.
Sepuluh menit berlalu dan semua makanan yang ada di atas meja juga sudah habis di santap oleh mereka berdua.
"Tolong berikan ini kepada paman itu dan sisanya untuk mu saja, karena saya akan kembali ke kediaman saya, untuk keinginanmu akan aku lihat nanti sesuai dengan Jumlah penduduk kota yang ingin beternak atau bertani jadi tugas mu adalah mendata mereka dan memberikan datanya ke Wi Ni" ucap Qia Qia dengan ramah ke pria sepuh itu sambil mengeluarkan seratus keping koin emas dan meletakkannya di atas meja.
"Baik Dewi, terima kasih ini suatu kebanggaan ku bisa makan berdua bersama Dewi mawar" ucap pria sepuh itu dengan sangat sopan dan juga hormat.
Qia Qia kemudian meninggalkan kedai tersebut dan melangkah menuju kediamannya karena hari sudah mulai malam sehingga kota itu sudah semakin ramai dan beberapa kali Qia Qia harus berhenti untuk berbincang sebentar dengan warga kota yang menyapanya.
Banyak hal kini yang dia ketahui dari para penduduk kota mawar dan dia sudah melihat apa yang harus dia lakukan untuk kemajuan penduduk kota mawar.
Empat jam berlalu dan Qia Qia pun sudah sampai kembali di kediamannya disambut baik oleh Jenderal Wi Yu dan juga Wi Ni.
"Hormat kami kepada penguasa" ucap Wi Yu dan Wi Ni dengan kompak dan sangat hormat yang berdiri dari kursinya untuk menyambut Qia Qia.
__ADS_1
"Duduklah lagi, dan Wi Yu bagaimana apakah sudah selesai" ucap Qia Qia dengan sangat ramah.
"Dewi benar ada satu orang penyusup yang sudah hamba hapus keberadaannya dari dunia bulan ini dan tidak akan ada seorang pun yang tahu dimana keberadaannya saat ini atau siapa yang menghapusnya, dan ini cincin dimensi milik pemuda itu didalamnya ada medali milik pasukan kekaisaran namun dia sepertinya baru bergabung karena di medali nya tidak ada namanya sedangkan yang sudah kontrak jiwa dengan kaisar di medali mereka ada namanya" ucap Wi Yu dengan sangat sopan dan juga hormat ke Qia Qia sambil memberikan sebuah cincin dimensi.