
Mereka mendarat di atas dahan pohon terbesar dan jarak mereka dengan tanah mencapai seratus lima puluh meter.
Kun Gu langsung masuk ke dalam lubang besar yang ada di batang pohon itu di ikuti oleh Qia Qia dengan menuruni anak tangga sampai mereka masuk ke dalam sebuah ruangan besar di bawah tanah dan Qia Qia melihat banyak sekali rumah kecil di sana.
Pencahayaan ruang bawah tanah yang seperti kota kecil itu juga cukup bagus karena banyak sekali kristal cahaya disana bahkan Qia Qia melihat jika itu adalah tambang kristal cahaya.
"Dewi ini kota kecil kami klan Gu di benua kedua ini, kami semua sudah dua puluh tahun tinggal di sini selama ini" ucap Kun Gu sambil mengajak Qia Qia memasuki sebuah rumah terbesar yang terbuat semuanya dari kayu demikian juga dengan rumah rumah kecil yang ada di dalam ruangan bawah tanah itu.
Seorang wanita sepuh menyambut mereka dengan sangat ramah dan mempersilakan Qia Qia untuk duduk di kursi kayu yang ada di sana.
"Istri ku Ini Dewi mawar dan dewi ini adalah pemimpin dari anak dan cucu kita di kota kayu" ucap Kun Gu menjelaskan mengenai Qia Qia ke istrinya.
"Dewi Mawar bagaimana kondisi anak anak dan cucu cucu saya, sudah dua puluh tahun saya tidak bertemu dengan mereka" ucap wanita sepuh istri dari Kun Gu sambil menangis di depan Qia Qia.
"Nyonya mereka semuanya sehat anda jangan bersedih seperti ini, dan kenapa anda bisa sampai terluka dalam seperti ini" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke wanita sepuh itu.
"Dewi ini semua karena kami berusaha kembali ke benua kami namun di ketahui oleh pihak kerajaan, kami terpaksa melawan namun dulu kultivasi kami masih pencipta bumi tahap awal sehingga istri saya terluka seperti saat ini" ucap Kun Gu menjelaskan dengan sangat hormat.
"Dewi syukurlah jika anak dan cucu cucu saya sehat semua, anda jangan khawatir dengan saya meskipun saya terluka namun saya masih bisa beraktivitas dengan normal hanya saja sudah tidak bisa bertarung lagi" ucap Wanita sepuh itu dengan hormat dan air matanya meski sudah berhenti, Qia Qia masih melihat rasa sedih yang terpancar dari matanya.
"Kehadiran saya ke Dunia peri ini untuk menjadikan sahabat saya Dewi Li Mei menjadi pemimpin tunggal dunia peri ini dan kedatangan saya ke benua ini untuk membasmi raja benua ini dan semua bawahannya, jika semuanya sudah selesai saya akan membawa anda menemui anak dan cucu anda jadi nyonya jangan bersedih lagi ya" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke wanita sepuh itu.
__ADS_1
"Dewi raja saat ini memiliki kultivasi tingkat pencipta Ilahi tahap akhir demikian juga dengan sepuluh pengawal setianya, dan ada lima juta prajurit khususnya jadi saya rasa akan susah untuk anda menghabisi mereka" ucap Kun Gu dengan sangat hormat.
"Itu mudah untuk ku, namun kenapa kau tidak berteleportasi membawa istrimu pulang ke kota kayu" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke mereka berdua.
"Dewi, kemampuan teleportasi saya berbeda dengan anda, saya hanya bisa mendatangi tempat ini karena ada ini" ucap Kun Gu sambil memperlihatkan sebuah artefak teleportasi dan Qia Qia tahu jika artefak itu berpasangan dan memang siapapun yang memegang salah satunya akan dapat berpindah tempat ke lokasi satunya.
"Dewi apakah benar yang saya dengar jika Dewi Li Mei masih hidup dan akan anda jadikan pemimpin dunia peri kami ini" ucap istri Kun Gu dengan sangat hormat.
"Benar dan bukankah anda juga bermarga Li, siapa nama anda" ucap Qia Qia dengan sangat ramah.
"Dewi nama saya Li Yanji" ucap istri pria sepuh itu dengan sangat hormat.
"Dewi kami memang satu marga namun tidak bersaudara, saya keturunan sedarah dari Dewi Li Mei sedangkan Li Wanyi tidak sedarah langsung, saya yakin jika Dewi menanyakan hal ini ke Dewi Li Mei pasti dia mengenali saya karena saat saya kecil Dewi Li Mei yang mengurus saya" ucap Li Wanyi dengan sangat hormat.
"Sebentar, saya akan menanyakan ini dulu ke Dewi Li Mei, jadi kau keponakannya dan Li Wanyi keponakan jauh" ucap Qia Qia dengan ramah dan di balas anggukan kepala oleh Li Yanji.
"Dewi Li Mei apakah anda senggang saya ingin menarik anda kesini sebentar saja" ucap Qia Qia dengan ramah melalui telepati.
"Qia saya senggang dan berhentilah memanggil ku Dewi atau aku akan memanggilmu Dewi mawar" ucap Li Mei melalui telepati juga dan Qia Qia langsung menarik Li Mei kehadapannya.
"Dewi Mawar setidaknya bilang saya sudah siap apa belum" ucap Li Mei yang nyaris terjatuh jika tidak menstabilkan tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf maaf, apakah mengenal mereka berdua" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke Li Mei.
Kun Gu dan Li Yanji langsung berlutut dan bersujud tiga kali untuk menghormati Li Mei dan tetap berlutut sesudahnya.
"Wajahmu tidak asing siapa nama kalian" ucap Li Mei dengan sangat ramah sambil duduk di sebelah Qia Qia karena Qia Qia duduk di kursi panjang yang muat untuk di duduki bertiga.
"Dewi saya Li Yanji dan ini suami saya Kun Gu" ucap Li Yanji dengan sangat hormat.
"Yanji bayi kecil sudah lima ratus juta tahun lebih kau masih ada tapi kenapa kau jadi tua seperti ini" ucap Li Mei sambil mendekati Li Yanji dan membantu Li Yanji untuk bangun dan duduk kembali.
"Dewi mawar ini sungguh di luar dugaan aku kira setelah sekian lama sudah tidak ada lagi keluargaku, terima kasih" ucap Li Mei setelah membantu Li Yanji dan Kun Gu untuk duduk kembali.
"Baguslah jika ternyata kalian masih bersaudara, Dewi Li Mei, sebentar lagi kau akan kembali memimpin dunia peri ini segera setelah aku membersihkan ras iblis darah bertanduk empat yang menyamar menjadi raja dan pasukan khusus kerajaan." Ucap Qia Qia dengan ramah.
"Dewi, apakah anda memerlukan bantuan pasukanku" ucap Li Mei dengan sangat ramah.
"Itu tidak perlu, aku masih bisa melakukannya sendiri untuk saat ini, sekarang kau silahkan berbincang dulu dengan keponakan mu ini" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke semuanya.
"Yanji apakah yang lainnya masih ada" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Dewi garis darah langsung hanya tinggal kita saja, tapi garis darah kedua masih banyak, mungkin anda masih ingat dengan Li Wanyi" ucap Li Yanji dengan sangat hormat.
__ADS_1