
Qia Qia muncul di angkasa dan langsung mengedarkan kesadaran jiwanya sejauh dia bisa.
"Sepertinya dunia itu bisa jadi yang pertama untuk aku kunjungi" ucap Qia Qia sambil menyimpan gelang ilusi miliknya ke dalam cincin dimensi lalu merubah wujudnya kembali menjadi ras iblis darah bertanduk empat.
Qia Qia berteleportasi ke angkasa dunia yang dia temukan lalu berteleportasi kembali ke dalamnya.
Qia Qia muncul di sebuah jalan di antara hutan dan langsung berjalan ke arah sebuah kota yang sempat dia lihat dari angkasa.
"Kita lihat kota ini, jika orang orang nya bajingan semua maka akan aku habisi semuanya" ucap Qia Qia dalam hatinya sambil terus melangkah menuju gerbang kota.
"Lima koin emas atau perlihatkan medali mu" ucap seorang prajurit yang berjaga di gerbang kota berbicara dengan nada meremehkan ke seorang ras iblis darah yang berwujud seorang kakek tua.
"Jadi kalian menggunakan wujud manusia toh, oke ini lebih seru" ucap Qia Qia yang melihat dan mendengar kejadian di gerbang desa itu dari belakang sebuah pohon besar lima ratus meter dari gerbang kota.
Qia Qia langsung merubah kembali wujudnya menjadi manusia namun tidak menggunakan gelang ilusi.
Qia Qia berjalan dengan cepat ke arah gerbang kota itu dan melihat jika jika prajurit yang berjaga di gerbang kota hendak menendang kakek tua itu.
"Hentikan" teriak Qia Qia ke prajurit penjaga gerbang sesaat sebelum kaki prajurit itu mengenai kakek tua itu.
"Ini sepuluh koin emas, dan sekarang biarkan kami masuk" ucap Qia Qia sambil memberikan satu kantong kulit kecil berisi sepuluh koin emas.
Prajurit penjaga gerbang itu tidak menjawabnya namun hanya membuka sedikit gerbang sambil menerima kantong kulit kecil berisi sepuluh koin emas itu.
"Kakek, ayo masuk" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke sosok kakek tua itu.
"Terima kasih cucuku mari masuk" ucap kakek tua itu sambil melangkah perlahan ke dalam kota bersamaan dengan Qia Qia.
"Kakek, ada urusan apa ke kota ini" ucap Qia Qia dengan ramah.
__ADS_1
"Kakek hanya ingin mencari anak kakek yang tinggal di kota ini, namun tidak tahu jika masuk kota harus membayar, terima kasih ya atas bantuannya" ucap kakek tua itu dengan sangat sopan.
"Iya, ini untuk kakek, bisa buat pegangan kakek selama di dalam kota" ucap Qia Qia sambil memberikan satu kantong kulit kecil berisi seratus keping koin emas ke kakek tua itu.
"Terima kasih, suatu hari nanti kakek akan menggantinya ya" ucap kakek tua itu sambil menyimpan kantong kulit kecil berisi seratus keping koin emas itu ke selipan sabuknya.
"Baik, saya permisi dulu ya kek" ucap Qia Qia sambil berbelok ke kanan, meninggalkan kakek tua itu.
Qia Qia terus berjalan mengikuti jalan di dalam kota sampai dia melihat sebuah rumah makan dan dia pun langsung memasukinya.
Qia Qia langsung duduk di dalam rumah makan itu dan seorang wanita paruh baya mendatanginya.
"Nona apakah anda ingin memesan sesuatu" ucap wanita paruh baya itu dengan ramah.
"Nek, apakah punya daging rusa bakar, dan teh hijau yang segar" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Sebentar nenek siap kan dulu ya, dan sebaiknya nona berhati hati dengan mereka yang duduk di pojok sana, karena mereka pedagang budak wanita" ucap wanita paruh baya itu dengan ramah dan berbicara pelan namun terdengar oleh Qia Qia.
Wanita paruh baya itu kemudian meninggalkan Qia Qia dan kembali ke bagian dapur rumah makan itu.
"Nona apakah anda sendirian" ucap seorang pemuda yang sebelumnya duduk di pojok rumah makan itu dan pemuda ini juga yang di sebut pedagang budak oleh pemilik rumah makan itu.
"Bukankah anda sudah memiliki tempat duduk, jadi anda sebaiknya kembali kesana" ucap Qia Qia dengan sangat santai.
"Nona jangan jadi pemarah, setidaknya izinkanlah aku mengenal mu" ucap pemuda itu sambil berusaha untuk duduk di sebelah Qia Qia namun Qia Qia menendang pelan kursi tersebut.
Bruuuuuug pemuda itu terjatuh ke lantai dan semua pengunjung rumah makan melihatnya, bahkan ada beberapa orang yang tertawa terbahak bahak melihat kejadian itu.
"Maaf tapi jika ingin membersihkan lantai nanti saja ya" ucap Qia Qia sambil melihat pemuda yang masih duduk di lantai itu.
__ADS_1
Pemuda itu tidak menjawabnya melainkan langsung kembali ke pojok rumah makan lalu duduk kembali di kursinya.
Qia Qia hanya tersenyum sendiri melihat tingkah pemuda itu.
"Hanya tingkat pencipta semesta tahap akhir saja kok sudah banyak tingkah" ucap Qia Qia dalam hatinya.
Lima menit menunggu dan wanita paruh baya itu sudah kembali mendatangi Qia Qia lalu meletakkan pesanan Qia Qia di atas meja.
"Silahkan Nona, jika ada lagi yang kau inginkan angkat tangan mu saja nanti, nenek akan kesini lagi" ucap wanita paruh baya itu dengan ramah.
"Iya terima kasih" ucap Qia Qia dengan ramah sambil menuangkan teh hijau dari poci tanah liat ke cangkir yang juga dari tanah liat.
Wanita paruh baya itu pun kemudian berjalan kembali ke arah dapurnya dan Qia Qia langsung menikmati hidangan lezat itu dengan sangat lahap.
"Nenek itu sungguh pintar memasak, dagingnya sangat empuk dan tingkat kematangannya juga sangat sempurna" ucap Qia Qia dalam hatinya sambil terus menikmati makanannya
Qia Qia yang sudah mengedarkan kesadaran jiwanya mengetahui jika pemuda itu terus mengawasinya dan kini di meja itu bukan hanya pemuda itu seorang melainkan ada empat orang lainnya.
"Aku ingin tahu dimana markas kalian sebenarnya, oke setelah aku selesai makan akan aku ikuti permainan kalian semua" ucap Qia Qia dalam hatinya sambil terus memakan makanannya itu.
Sepuluh menit berlalu dan semua daging rusa bakar itu sudah berpindah ke perutnya demikian juga dengan teh hijau di poci tanah liat itu.
Qia Qia pun kemudian memanggil wanita paruh baya itu untuk membayar makanannya.
"Semuanya jadi empat keping emas saja" ucap Wanita paruh baya itu dengan ramah.
"Ini nek, sisanya untuk nenek saja" ucap Qia Qia sambil memberikan sepuluh keping koin emas ke wanita paruh baya itu.
"Terima kasih, dan jangan lupa mampir lagi ya, berhati hatilah di jalan ya" ucap Wanita paruh baya itu dengan ramah sambil mengambil koin emas itu dari atas meja.
__ADS_1
"Iya Nek, saya permisi ya" ucap Qia Qia sambil berdiri lalu melangkah keluar dari dalam rumah makan itu dan langsung berjalan ke lorong di seberang rumah makan itu dengan maksud agar ke empat orang itu mengikutinya.