
Bola bola Lava suci ilahi itu kemudian melesat keluar dari aula utama istana itu dan di luar aula utama bola bola lava suci ilahi itu kemudian menjadi sangat banyak lalu beterbangan menuju jutaan orang yang sudah di tandai oleh Qia Qia sebelumnya.
"Ayah sepertinya harus menghitung ulang penduduk dunia kecil ini, karena lebih dari setengahnya memiliki jiwa yang sangat jahat dan mereka adalah duri dalam daging yang aku musnahkan" ucap Qia Qia sambil tersenyum hangat ke Raja Qia Zi.
"Anakku jika memang mereka adalah duri dalam daging maka sudah sepantasnya kau musnahkan dan ayah tidak keberatan dengan itu sudah terlalu lama ayah dan ibumu tidak ke sini mengawasi mereka sehingga tumbuh bibit bibit pengkhianat" ucap Raja Qia Zi dengan sangat berwibawa.
"Ayah, jika boleh sekarang permintaan ku adalah Jenderal Qia Hung memimpin pasukannya untuk menyita harta mereka semua yang telah menjadi abu" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Jenderal Qia Hung segera laksanakan, sita semua aset dan harta mereka" ucap Raja Qia Zi dengan sangat berwibawa.
"Siap Baginda Raja, hamba akan melaksanakan perintah Baginda" ucap Jenderal Qia Zi dengan sangat hormat sambil berlutut satu kaki di hadapan Raja Qia Zi.
"Ya Pergilah dan lakukan dengan cepat" untuk Raja Qia Zi.
Jenderal Qia Hung langsung berdiri lalu membagikan badannya dan memberikan penghormatan kepada Qia Qia lalu terbang melesat meninggalkan aula utama istana.
"Kalian semua persiapkan semua yang akan ikut ke dunia lava untuk membangun dunia lava, kita akan berangkat besok pagi" ucap Raja Qia Zi ke delapan orang bawahannya yang tersisa.
Delapan orang itu pun kemudian berjalan ke depan raja Qia Zi lalu memberikan penghormatan kepada Raja Qia Zi dan juga Qia Qia.
Mereka kemudian bergegas meninggalkan aula utama istana itu.
Raja Qia Zi kemudian turun dari singgasananya dan kemudian berdiri di depan Qia Qia demikian juga dengan istrinya.
"Ayah maaf aku sampai melakukan ini karena jika tidak maka mereka sangat mungkin suatu hari nanti akan melakukan pengkhianatan kepada ayah dan ibu" ucap Qia Qia sambil merasakan jika lava suci ilahi miliknya kembali dan langsung masuk kedalam tubuhnya.
"Iya, ayah paham dengan tindakan mu, ayah juga pastinya akan melakukan hal yang sama jika mempunyai kekuatan sepertinya mu" ucap Raja Qia Zi dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Waduh aku lupa" ucap Qia Qia sambil memukul jidatnya sendiri dengan menggunakan telapak tangan kanannya.
"Apa yang kau lupakan?" Ucap Raja Qia Zi.
"Aku lupa menyampaikan pesan untuk Tuan Jia" ucap Qia Qia sambil tertawa ringan.
"Sebentar ayah, panggil dia dulu" ucap Raja Qia Zi dengan ramah dan langsung bertelepati dengan tuan Jia yang merupakan salah seorang pejabat istana.
"Hormat kepada Baginda Raja, permaisuri dan Putri Qia" ucap Tuan Ji sambil berlutut satu kaki di depan mereka bertiga yang kini sudah duduk di salah satu kursi.
"Jia bangun dan duduklah" ucap Raja Qia Zi dengan ramah.
"Siap Baginda Raja" ucap Tuan Jia sambil berdiri lalu duduk di seberang mereka bertiga.
"Paman Jia, apa kabar" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Putri, paman sehat namun bibi mu sudah lama wafat" ucap Tuan Jia dengan sangat hormat.
"Putri apakah kedua putri saya masih hidup, dimana mereka sekarang, paman sangat merindukan mereka" ucap Tuan Jia dengan sangat hormat dan terlihat matanya mulai basah akibat kerinduan ke Jia Ni dan Jia Yu.
"Mereka berdua sehat, Jia Yu sekarang saya jadikan pemimpin dunia lotus milik saya sedangkan Jia Ni sekarang memiliki tugas menjaga perdamaian dunia peri dan dunia lainnya" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Putri, apakah saya boleh berjumpa dengan kedua anak saya, sebentar saja" ucap Tuan Jia sambil berlutut di depan Qia Qia.
"Paman, bangunlah dulu dan duduk lagi ya, aku akan menghadirkan mereka berdua" ucap Qia Qia sambil membantu Tuan Jia untuk bangun kembali.
"Jia Ni dan Jia Yu lagi apa kalian" ucap Qia Qia melalui telepati ke kedua bawahannya itu.
__ADS_1
"Kami berdua di bukit mawar sedang bersantai saja berdua di taman belakang, Dewi dimana?" Ucap Jia Ni melalui telepati.
"Kalian berdua berdirilah karena aku akan menarik kalian ke tempat ku" ucap Qia Qia melalui telepati sambil kembali ke kursi yang sebelumnya dia duduki.
"Iya Dewi, kami berdua sudah berdiri" ucap Jia Yu melalui telepati.
Qia Qia kemudian menteleportasikan Jia Ni dan Jia Yu ke aula utama istana ayahnya itu dan keduanya muncul di depan Qia Qia.
"Hormat kepada Raja Qia Zi, permaisuri Qia Yui dan juga Dewi Mawar" ucap Jia Yu dan Jia Ni dengan sangat hormat sambil berlutut satu kaki.
"Kalian berdua berdirilah dan lihatlah siapa yang duduk di belakang kalian itu" ucap Raja Qia Zi dengan ramah.
Jia Yu dan Jia Ni berdiri kembali lalu menoleh ke belakang dan mereka melihat sosok orang yang sangat mereka rindukan.
"Ayaaaaah" ucap Jia Yu dan Jia Ni kompak sambil berlari ke Tuan Jia dan langsung memeluk Tuan Jia dengan hangat sambil menangis.
Qia Qia dan kedua orang tuanya itu membiarkan mereka melepas kerinduan yang mereka simpan selama ratusan juta tahun ini hingga mereka bertiga menyadari jika ada Qia Qia dan kedua orang tuanya di sana.
"Paman Jia, Jia Ni dan Jia Yu kalian bertiga pulanglah dulu, Jia Ni dan Jia Yu kalian boleh di sini selama satu hari, namun jika Paman Jia memilih besok ikut ke dunia lotus bersama dengan kalian maka aku persilahkan" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Jia aku juga mempersilahkan jika kau untuk sementara waktu ingin ke dunia lotus bersama dengan anak mu, kau tidak perlu menyampaikan jawaban mu sekarang" ucap Raja Qia Zi dengan ramah sambil berdiri.
"Dewi terima kasih" ucap Jia Ni dan Jia Yu dengan kompak dan tampak wajah mereka sangat berbahagia.
"Baginda dan Putri saya ucapkan terima kasih, kami mohon diri untuk kembali ke kediaman kami" ucap Tuan Jia sambil berdiri demikian juga dengan Jia Yu dan Jia Ni.
Mereka langsung memberikan penghormatan kepada Raja Qia Zi lalu meninggalkan ruangan aula utama istana.
__ADS_1
"Qia ayo ikut ayah, ada yang ingin ayah perlihatkan kepada mu" ucap Raja Qia Zi dengan ramah.
"Qia ikutlah dengan ayah mu, ibu akan kembali ke kediaman kita dan memasak untuk kalian berdua, sudah lama bukan kau tidak memakan masakan ibu" ucap Ratu Qia Yui dengan Ramah.