
"Sudah aman, meskipun kalian memiliki gerbang atau pintu dimensi tidak ada seorang pun di antara kalian bisa keluar dari dalam dunia ini tanpa seizin ku" ucap Qia Qia sambil tersenyum dan langsung menyimpan artefak menara dunia kecil itu ke dalam cincin dimensinya.
Qia Qia kemudian melihat ke arah kuil di atas bukit itu dan terlihat kepanikan dari seratus prajurit yang berjaga di sana karena barang yang mereka jaga kini sudah menghilang.
Teng teng teng teng teng teng teng
Terdengar suara lonceng akibat lonceng besar yang ada di depan kuil kuno itu di pukul berulang kali oleh salah seorang prajurit khusus kekaisaran bulan itu dan hal ini membuat semua orang yang ada di kota kota di sekitarnya langsung keluar dari dalam rumah mereka dan terbang melesat menuju kuil kuno di atas bukit itu termasuk juga dengan Qia Qia yang melesat menuju atas kuil dan duduk disana untuk mendengarkan sekaligus mengawasi mereka semua.
"Lapor Jenderal, ada seseorang yang melumpuhkan array dan segel perlindungan Altar dan mengambil artefak menara dunia kecil kita" ucap salah seorang prajurit wanita kepada seorang wanita sepuh yang berpakaian layaknya seorang Jenderal Perang.
Wanita sepuh yang dipanggil Jenderal itu tidak menjawabnya melainkan langsung memeriksa Altar itu.
"Kalian semua segera ke kapal kalian dan kejar sampai dapat pencuri ini, dia sepertinya belum meninggalkan dunia kecil kita ini" ucap wanita sepuh yang dipanggil Jenderal itu dengan menggunakan Qi mendalamnya sehingga terdengar oleh semuanya termasuk juga oleh Qia Qia yang sedang duduk di atas kuil kuno itu namun masih di dalam bola cahaya transparan miliknya.
Semua prajurit wanita itu langsung terbang menuju kapal kapal perang mereka dan menaikinya namun tidak ada satu kapal pun yang bisa terbang karena susunan array dan segel artefak kapal sudah di rubah oleh Qia Qia dan siapapun yang mencoba memperbaikinya akan meledakkan kapal itu sendiri tentu saja kecuali Qia Qia yang tahu cara melumpuhkannya karena dia yang memasangnya.
Kepanikan demi kepanikan terus terjadi dan terlihat banyak prajurit wanita itu yang mencoba terbang untuk keluar dari dalam dunia kecil itu namun lagi lagi mereka kecewa karena gerbang dimensi mereka tidak bisa digunakan sama sekali.
__ADS_1
"Aku bisa saja membunuh kalian sekarang namun ini tidak menarik, jadi aku akan membiarkan kalian semua hidup disini saja sampai aku mengunjungi kalian lagi" ucap Qia Qia sambil berteleportasi keluar dari dalam dunia kecil.
Qia Qia muncul di depan gerbang dimensi yang ada tebing itu dan dia tidak merusak sedikitpun gerbang dimensi yang tertutup segel ilusi itu karena gerbang dimensi itu juga sudah tidak dapat digunakan karena pasangannya yang ada di dalam dunia kecil sudah rusak dan dunia kecilnya juga sudah tersegel oleh Qia Qia.
"Benar benar berhadap hadapan ternyata antara mulut Goa dan gerbang dimensi ini aku bahkan tidak menyadarinya saat aku berada disini, baiklah waktunya untuk kembali ke kediaman ku" ucap Qia Qia sambil berteleportasi kembali ke dalam kamarnya dan langsung menghilangkan bola cahaya transparan yang dia gunakan sebagai perlindungan dan ilusinya.
Qia Qia muncul kembali di dalam kamarnya dan dia langsung membersihkan dirinya lalu keluar dari dalam kamarnya itu untuk duduk di kursi teras karena hari sudah sangat sore.
"Dewi, apakah anda ingin saya buatkan Teh hangat dan kebetulan saya sudah membuat roti kukus untuk anda" ucap salah seorang bawahan nya yang ada di dalam kediamannya saat melihat Qia Qia keluar dari dalam kamarnya.
"Boleh, dan tolong bawakan ke teras ya, oh ya apakah ada yang mencari ku saat aku di dalam kamar" ucap Qia Qia dengan sangat ramah.
"Baiklah, aku tidak jadi ke teras, bawakan saja ke taman belakang, aku selama disini belum pernah bersantai di taman belakang" ucap Qia Qia sambil kemudian tertawa ringan.
"Baik Dewi, saya akan membawakan teh hangat dan roti kukus ke taman belakang segera, permisi Dewi" ucap bawahannya itu dengan hormat sambil kemudian melangkah menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan untuk Qia Qia.
Qia Qia kemudian melangkah menuju ke taman belakang kediamannya karena memang selama ini dia belum pernah ke sana.
__ADS_1
"Ternyata disini lebih enak untuk bersantai meskipun jika disini yang aku lihat bukan pemandangan kota melainkan gunung itu" ucap Qia Qia sambil melihat sekelilingnya.
"Mereka pasti sengaja menanam mawar mawar ini untuk ku" ucap Qia Qia kembali berbicara sendiri sambil melihat jika di taman belakang kediamannya itu banyak sekali mawar yang baru di tanam.
Qia Qia kemudian duduk di kursi taman dan menikmati taman bunga mawar itu dan di dekat kursi yang dia duduki ada sebuah kolam ikan kecil sehingga menambah kenyamanan disana.
"Dewi, ini teh hangat dan roti kukus nya semoga anda suka" ucap bawahannya sambil menyimpan nampan yang berisi satu poci teh dengan empat gelas dan juga sepiring besar roti kukus yang masih tampak panas di atas meja di depan Qia Qia.
"Iya terima kasih, kalian tahu saja aku paling suka kebun bunga mawar, terima kasih ya" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke bawahannya itu.
"Sama sama Dewi, tapi maaf jika mawar mawar ini masih belum banyak yang berbunga karena kami masih belajar untuk merawatnya" ucap bawahannya itu dengan sangat hormat.
"Tidak apa apa, nanti juga kalian akan bisa merawat mawar mawar ini, apakah kau tahu kenapa aku menyukai bunga mawar" ucap Qia Qia dengan ramah sambil melihat bawahannya itu menuangkan teh untuknya.
"Tidak Dewi, kan anda belum pernah bercerita kepada saya" ucap bawahannya itu sambil tersenyum simpul ke Qia Qia.
"Bunga mawar meskipun hanya satu batang namun tetap indah dan di batangnya terdapat banyak duri yang melindunginya yang akan melukai siapapun yang hendak merusaknya itulah kenapa aku menyukainya karena dengan begitu aku bisa selalu waspada dan selalu berhati hati dalam bertindak, duri duri itu adalah keahlian ku dalam bela diri dan dengan duri itu juga aku membela diriku dan juga semua bawahanku, apakah kau mengerti maksud ucapan ku" ucap Qia Qia dengan ramah sambil tersenyum hangat ke bawahannya itu.
__ADS_1
"Dewi saya paham, jadi kita harus selalu berlatih keras agar mampu bertahan apabila ada yang hendak melukai kita dan kita juga harus bisa melindungi orang orang yang menyayangi kita seperti duri di batang mawar yang melindungi kelopak bunganya" ucap bawahannya itu dengan sangat hormat sambil memandangi bunga bunga mawar di taman itu.