
"Baik Nona, saya akan segera memasaknya untuk anda, dan saya yakin anda akan menyukai masakan saya" ucap Wanita muda itu dengan ceria namun tetap sopan.
"Iya, jika nanti beneran enak, aku akan memberimu bonus lebih banyak ya" ucap Qia Qia dengan ramah sambil bersandar di tiang pintu.
"Siap Nona, saya permisi, terima kasih" ucap Wanita muda itu sambil kemudian berbalik badan dan bergegas menuju ke bawah.
"Hati mu sungguh baik, aku menyukainya" ucap Qia Qia berbicara sendiri sambil kemudian berjalan masuk dan membiarkan pintu kamarnya terbuka sedikit agar dia tidak perlu bolak balik membukanya jika makanan pesanannya datang.
Qia Qia kemudian kembali duduk samping jendela dan mengedarkan kesadaran jiwanya untuk mengetahui apa saja yang terjadi di kota itu.
Hari mulai masuk malam, dan bukan hanya asap hitam yang terlihat melainkan juga api yang membara dimana mana.
Boooooooooom Boooooooooom Boooooooooom tiga ledakan besar terdengar oleh Qia Qia yang bahkan sampai membuat penginapan mewah itu sedikitĀ bergetar.
Tok tok tok suara pintu kamar Qia Qia kembali di ketuk.
"Nona, saya sudah datang kembali" ucap Wanita muda pekerja penginapan itu berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah baki besar yang di atasnya terlihat sebuah piring besar dengan irisan daging rusa bakar dan ada juga sebuah poci besar.
"Masuklah sini" ucap Qia Qia dengan ramah sambil berjalan ke meja makan yang tersedia di ruang tamu kamarnya lalu menduduki salah satu kursi yang ada disana.
"Nona silahkan dicicipi dulu daging rusa bakarnya" ucap Wanita muda itu sambil menyajikan piring besar yang berisi daging rusa bakar itu di atas meja persis di depan Qia Qia.
Qia Qia kemudian mengambil satu buah dan memakannya perlahan.
"Sungguh enak, kematangannya sangat pas, dan aku juga sangat suka bumbunya, ini hadiah yang ku janjikan" ucap Qia Qia sambil memberikan sebuah kantong kulit kecil yang berisi seratus keping koin emas kembali ke wanita muda itu.
"Nona, saya tidak enak menerimanya, yang anda berikan sudah sangat banyak ke saya" ucap Wanita muda itu berusaha menolaknya dengan sangat hormat.
"Sudah terima saja, tidak masalah, itu janjiku, dan kenapa kau sudah berganti pakaian, apakah kau sudah selesai bekerja" ucap Qia Qia dengan ramah.
__ADS_1
"Baik Nona jika demikian, terima kasih atas kebaikan anda, saya sudah selesai bekerja namun belum berani untuk pulang, karena situasi kota sangat kacau saat ini" ucap Wanita muda itu dengan sangat hormat.
"Apakah penginapan ini menyediakan kalian tempat beristirahat" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Ada Nona, kami mendapatkan kamar khusus untuk kami gunakan" ucap Wanita muda itu sambil tetap berdiri dengan sopan di depan Qia Qia.
"Oke, kau beristirahatlah, jika ada yang membahayakan mu maka kemarilah aku akan membantu mu" ucap Qia Qia sambil tersenyum hangat ke wanita muda itu.
"Baik Nona, jika demikian saya permisi" ucap Wanita muda itu.
"Iya dan tolong tutup pintunya ya" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Baik" ucap Wanita muda itu sambil kemudian melangkah meninggalkan Qia Qia dan dia pun menutup rapat pintu kamar itu.
Qia Qia pun langsung menuangkan isi poci itu ke cangkir giok yang ada di atas meja itu lalu mulai menikmati makanannya dengan tenang tanpa sedikit pun memikirkan tentang apa yang terjadi di luar.
Satu jam berlalu dan kini tiga porsi daging rusa bakar itu sudah berpindah ke dalam perut Qia Qia demikian juga dengan beberapa gelas teh hijau itu.
Qia Qia melangkah menuju pintu kamarnya lalu menguncinya dan saat dia mengunci pintu itu cahaya transparan keluar dari telapak tangannya lalu menyebar ke seluruh area kamarnya menjadikan kamar itu satu satunya tempat yang terlindungi dari apapun juga.
"Makan sudah, perlindungan juga sudah sekarang sebaiknya aku tidur saja, toh pasukan istana akan segera datang mengatasi kekacauan ini dengan tadi adanya putri mahkota di kota ini maka pastinya pasukan istana tidak akan tinggal diam" ucap Qia Qia berbicara sendiri sambil kemudian melangkah menuju kamar tidurnya dan langsung pulas di atas kasur yang sangat empuk.
Matahari pagi kembali bersinar dengan terang dan Qia Qia terbangun dari tidurnya lalu melangkah menuju kamar mandi lalu membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya.
Qia Qia pun kemudian berjalan ke arah jendela kembali lalu mengeluarkan satu apel emasnya dan mulai duduk di kursi yang semalam dia simpan di dekat jendela itu.
"Sepertinya kota sudah mulai tenang kembali" ucap Qia Qia sambil melihat keluar lalu mulai memakan apel emasnya dengan perlahan.
Meskipun hari masih sangat pagi namun suasana kota kini masih terasa mencekam dampak kerusuhan semalam di kota itu.
__ADS_1
Tiga apel emas sudah masuk ke perut tanpa batas Qia Qia dan Qia Qia pun kemudian menyentuh dinding di samping jendela.
Cahaya transparan yang menjadi pelindung kamar itu pun kini menghilang kembali membuat kamar itu tanpa perlindungan apapun juga.
Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu.
"Nona maaf ini saya" ucap Wanita muda pekerja penginapan mewah itu.
Qia Qia kemudian berjalan mendekati pintu dan membukanya dengan perlahan.
"Nona maaf saya hendak mengambil piring kotor yang semalam, karena saya tidak melihatnya di luar sini" ucap Wanita muda itu yang sudah menggunakan seragam penginapan kembali.
"Iya masih ada di meja maaf aku lupa mengeluarkannya, ayo masuk" ucap Qia Qia dengan ramah sambil membuka lebar pintu kamarnya itu.
Wanita muda itu kemudian memasuki kamar itu dengan sangat sopan.
"Nona mau sarapan apa?" Tanya wanita muda itu sambil menaruh piring kotor dan poci teh yang sudah dingin itu ke atas nampan.
"Aku masih sangat kenyang, jadi cukup ambilkan aku teh hijau panas lagi saja ya" ucap Qia Qia dengan sangat ramah sambil duduk kembali di samping jendela.
"Baik Nona, tapi saya ingin menawarkan roti kukus buatan saya, mungkin nona mau mencobanya sebagai teman minum teh" ucap wanita muda itu dengan sangat ramah.
"Boleh juga, bawakan saja beberapa untukku ya, pintunya biarkan saja terbuka kan kau juga tidak lama akan kembali lagi" ucap Qia Qia.
"Baik Nona, saya permisi" ucap Wanita muda itu sambil mengangkat nampan dan melangkah keluar dari kamar Qia Qia.
"Benar dugaan ku, prajurit istana tidak tinggal diam" ucap Qia Qia berbicara sendiri sambil melihat jika di jalan sampai penginapan itu kini banyak sekali prajurit yang berpatroli.
"Ya setidaknya mereka berhati baik, tidak seperti prajurit kota yang angkuh dan sombong itu" ucap Qia Qia kembali berbicara sendiri.
__ADS_1