
Polisi dan yang lainnya langsung bergegas menuju rumah mbak Dwi. Lily memimpin jalan karena memang hanya dia yang mengetahui rumahnya. Meskipun kondisi tubuhnya belum stabil, Lily ingin segera mengetahui penjelasan mbak Dwi tentang kejadian ini.
"Biarkan polisi yang mengurusnya Li..Kamu sebaiknya istirahat saja!" Raya tidak ingin sahabatnya terlalu lelah setelah rasa syok yang dialaminya.
"Iya Ly..Biarkan kami yang mengurus semua ini." Papa Sigit dan om Reno juga khawatir dengan keadaan Lily.
"Tidak bisa..Aku harus segera tahu apa motif mbak Dwi melakukan ini. Ini masalah nyawa kedua orangtuaku loh!" Lily sudah tidak bisa dibujuk lagi. Seandainya ini terjadi pada Raya, dia pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Tak ada yang bisa mencegah keinginan Lily. Semua yang ada tetap mengikuti Lily menuju ke rumah mbak Dwi.
Rumah mbak Dwi tidak begitu mewah. Hanya rumah kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Suasana tampak sepi seakan tak berpenghuni. Polisi sudah mengepung sekeliling rumah, tapi sepertinya memang tidak ada siapapun disana.
"Siapa yang anda cari?" seorang tetangga langsung bertanya karena melihat banyak polisi sudah mengepung rumah mbak Dwi menggunakan senpi.
"Apa anda tahu kemana perginya penghuni rumah ini?" om Haris langsung mencari informasi kepada tetangga tersebut.
Tetangga yang lain pun ikut mendekat karena penasaran. Dipikirnya ada masalah apa, sehingga polisi melakukan penggerebekan. Namun polisi lainnya berhasil mengatasi masalah warga yang semakin banyak tersebut.
Menurut informasi dari tetangga, pemilik rumah yaitu ibunya mbak Dwi memang sudah dua hari tidak di rumah karena menunggu cucunya yaitu anak mbak Dwi yang sedang di opname. Sedangkan mbak Dwi jarang kelihatan pulang ke rumah.
"Memang mbak Dwi tinggal di rumahku dan pulang seminggu sekali saat libur." ucap Lily membenarkan keterangan tetangga itu.
"Tapi jarak rumah kamu kesini tidak jauh, kenapa harus seminggu sekali pulangnya?" Raya mulai merasa curiga.
"Entahlah!" Lily memang tidak tau dan tidak mau tau urusan mbak Dwi sebelumnya. Bagi keluarganya yang penting urusan rumah beres.
__ADS_1
Setelah mendapatkan informasi tentang tempat perawatan anak mbak Dwi, tentu saja polisi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Beberapa dari mereka langsung bergerak ke puskesmas setempat, tempat dirawatnya anak dari mbak Dwi. Sedangkan yang lainnya kembali ke rumah Lily untuk menunggu kedatangan jenazah orangtua Lily setelah di autopsi di rumah sakit.
Pagi itu banyak pelayat berdatangan. Mereka tidak menyangka jika Lily sekeluarga yang dianggap sedikit tertutup itu bisa mendapatkan cobaan segini beratnya.
"Siapa sangka mereka bisa mengalami peristiwa tragis seperti itu dan kejadiannya sangat cepat sekali" ucap salah satu orang yang ikut takziah.
"Iya loh. .padahal semalam orangtua Lily kan juga hadir di pesta itu" jelas yang lainnya.
"Sudahlah..jangan mengungkit orang yang sudah tidak ada. Pamali.." orang lainnya ikut menengahi.
Meskipun berbisik, obrolan mereka masih bisa didengar oleh Lily. Lily pun menangis dan kembali ke kamarnya. Raya masih terus mengikutinya ke manapun Lily pergi.
Di puskesmas om Haris bisa langsung menemui ibunya mbak Dwi setelah ada seorang warga yang mengantarnya. Ternyata anaknya mbak Dwi mengidap penyakit aneh yang belum bisa di deteksi oleh dokter. Mau di rujuk ke rumah sakit ditolak neneknya dengan alasan tidak punya biaya.
"Jadi..dimana ibunya anak ini sekarang?" tanya om Haris pada ibunya mbak Dwi.
Om Haris, om Reno dan papa Sigit saling pandang. Memangnya mbak Dwi kerja di luar kota mana? bukannya cuma di rumah orangtuanya Lily yang jaraknya juga tidak jauh dari rumah?
"Jadi kapan mbak Dwi pulang? apakah ada nomor yang bisa dihubungi?" tanya om Haris tetap tenang.
"Kami hanya orang miskin, mana punya telepon. Saya dan Dwi tidak pernah komunikasi. Dia selalu pulang jika sudah punya uang. Biasanya juga seminggu sekali, tapi ini sudah dua Minggu belum pulang." jawab ibunya mbak Dwi lagi.
Merasa ada kejanggalan, om Haris, om Reno dan papa Sigit pamit keluar. Om Haris langsung bertanya pada pak Joko yang tadi mengantar menemui ibunya mbak Dwi.
"Apa benar pak jika mbak Dwi bekerja di luar kota?" om Haris jadi penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya saya juga kurang tahu pak! Menurut mbok Nah , anaknya memang kerja di luar kota. Namun dimana dan bekerja sebagai apa , mbok Nah tidak pernah cerita.
"Apa bapak tidak pernah tahu jika mbak Dwi bekerja di rumah pak Danu?" tanya papa Sigit.
"Saya benar tidak tahu pak. Pak Danu orangnya tertutup, lagipula beliau dan istrinya sama sama bekerja. Jadi kami tidak pernah bertemu. Hanya sesekali bertemu anaknya, tapi tidak pernah melihat mbak Dwi keluar masuk rumah itu." jelas pak Joko.
Penjelasan pak Joko membuat om Haris dan lainnya menjadi heran. Bagaimana ceritanya warga disana tidak pernah melihat mbak Dwi keluar masuk rumah majikannya.
Papa Sigit,om Reno dan om Haris juga pak Joko pamitan pada ibunya mbak Dwi setelah meninggalkan pesan jika mbak Dwi pulang harap segera melapor pada pimpinan desa setempat. Mereka kembali ke rumah Lily sekalian takziah.
Jenazah kedua orang tua Lily sudah tiba dan segera dimakamkan karena sudah dikafani langsung dari rumah sakit. Di rumah tinggal di sholati dan langsung dimakamkan di pemakaman setempat.
Setelah acara pemakaman selesai, dengan dibantu Raya, Lily mengemasi barang-barang nya. Hari ini juga Lily akan tinggal di rumah Raya. Lily tidak bisa tinggal di rumahnya sendiri karena masih trauma.
Manda yang kebetulan baru membuka ponselnya setelah pulang sekolah menjadi sangat terkejut mendengar kabar dari Raya. Pantas saja Raya dan Lily tidak masuk sekolah hari ini. Dia pun bergegas ke rumah Lily.
Namun karena hari sudah sore, Manda tentu saja tidak menemukan Lily di rumahnya.
Manda segera menelpon Raya mencaritahu keberadaan Lily. Setelah mendengar penjelasan Raya, Manda segera menuju rumahnya menggunakan motor matic nya.
"Maafin aku semalam hape ku lowbat. Karena tadi pagi buru buru sekolah jadi lupa cabut charger dan tidak membaca pesan dari kamu Ray .." ucap Manda menyesal karena tidak ada saat sahabatnya sedang kesusahan.
"Iya gapapa.." Raya dan Manda masih berdiri di dekat pintu dan hanya melihat Lily yang duduk termenung di dekat jendela kamar Raya. Mereka berdua membiarkan Lily menyendiri dulu untuk menenangkan diri.Manda dan Raya keluar dari kamar dan melanjutkan berbincang di ruang tamu.
"Kasihan Lily..Sehari hari sudah jarang ketemu orangtuanya, sekarang malah kehilangan selamanya." Manda merasa simpati pada sahabatnya tersebut. Namun Raya hanya diam saja seakan memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ray.." tanya Manda mengguncang bahu Raya yang dirasa sedang melamun.
"Hah..Apa?"