Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 39(ada apa dengan Herman?)


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan? kenapa menunda nunda pekerjaan. Menuntaskan satu keluarga saja tidak becus." Paman Agus dan paman Bayu saling pandang. Darimana kakak sulungnya bisa tau kegagalan mereka?


"Kami kecolongan!" balas paman Agus.


"Aku memberi kalian waktu untuk pulang agar bisa menuntaskan semuanya. Tapi malah bikin keributan di sana."paman Herman, saudara tertua dari ayah Ali adalah satu satunya anggota keluarga yang mewarisi sifat dari Hambali. Kakek buyut mereka.


Ambisius, tidak pantang menyerah, mengupayakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan menghasut semua anggota keluarganya untuk mendukung upaya nya untuk menghabisi seluruh keluarga Bisri karena dianggap racun yang telah membuat leluhurnya malu saat pemilihan ketua kampung pada jaman dahulu. Dan semua keluarga Hambali tanpa terkecuali telah mempercayainya.


"Hahaha...akulah sang penguasa!" teriak paman Herman di dalam kamarnya.


"Papa..Apa yang kamu lakukan? kenapa berteriak mengerikan seperti itu?" teriak Siska dari dapur yang mendengar suara papanya tertawa menyeramkan.


"Tidak apa-apa sayang, apa makanannya sudah siap?"tanya paman Herman balik.


"Sebentar lagi!"


Siska merupakan putri satu-satunya paman Herman dari istri pertamanya yang sudah tiada saat melahirkan putrinya tersebut. Paman Herman telah menyembunyikannya dari saudara-saudara nya. Karena tidak ingin putrinya diketahui saudara saudaranya dan dijadikan tumbal keluarga. Padahal selama ini paman Herman lah yang sudah menyebutkan bahwa perempuan hanya layak untuk dijadikan tumbal demi memenuhi syarat ritual.


Paman Herman sangat menyayangi putrinya tersebut. Karena wajah putrinya sangat mirip dengan almarhum istri yang disayanginya itu. Sejak istrinya meninggal paman Herman tidak pernah mencari penggantinya. Kalaupun ada wanita yang mendekat, pasti akan diserahkan pada saudaranya untuk dijadikan sebagai tumbal kejayaan keluarganya.


Dan paman Herman merawat putrinya di suatu tempat tanpa diketahui kedua adiknya itu. Dan kini tumbuh menjadi remaja yang cantik.


" Papa..apa papa punya saudara? siapa dua lelaki yang sering bertemu dengan papa? kenapa aku tidak boleh mengenal mereka?" Siska menjadi penasaran, kenapa papanya tidak pernah menceritakan tentang keluarganya? selama ini Siska hanya tau dia hidup berdua dengan papanya tanpa saudara.


"Sudah papa bilang, papa hanya sebatang kara. Kamulah keluarga papa satu satunya." paman Herman pun mengelak.

__ADS_1


"Lantas dua lelaki yang sering papa telpon dan temui itu siapa?" tanya Siska lagi.


"Mereka hanya teman kerja papa. Bukan siapa siapa! berhentilah menanyakan mereka. Papa sangat menyayangimu, papa tidak ingin terjadi sesuatu padamu." paman Herman memeluk putrinya. Beliau hanya tidak ingin putrinya bertemu saudaranya dan terjadi salah paham atas apa yang sudah ditentukan nya.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Mas Herman itu kenapa? tidak mau melakukan perlawanan tapi ngomel saja!" paman Bayu merasa resah karena kakaknya selalu menuntutnya melakukan perlawanan terhadap keluarga Bisri, sedangkan menurutnya paman Herman selalu beralasan sibuk.


"Apa ada sesuatu?" paman Agus mulai sependapat.


"Entahlah! aku merasa aneh saja!" paman Bayu menjadi gelisah karena paman Herman selalu membuat alasan yang tak masuk akal jika berurusan dengan keluarga Bisri.


"Sudahlah mas, sekarang apa yang akan kita lakukan pada Sigit?" paman Agus sebenarnya mulai curiga dengan kakak pertama nya, namun dia tidak bisa mengungkapkannya. Akhirnya paman Agus hanya diam saja.


"Lantas bagaimana sekarang mas?" paman Agus sepemikiran dengan paman Bayu.


"Kita kembali ke kota saja dulu, nanti kita bahas masalah ini dengan mas Herman." paman Bayu ingin mengakhiri semua ini. Menurutnya apa yang mereka lakukan sepertinya tak akan pernah terselesaikan.


"Baiklah! saya menurut sama mas Bayu saja!" paman Agus ikut pasrah. Paman Agus juga merasa sia sia atas apa yang mereka lakukan selama ini.


"Bagaimana dengan Ali mas?" sejenak mereka melupakan Ali yang katanya adalah senjata terakhir yang bisa menghabisi keluarga Bisri. Tapi seperti apa caranya, paman Agus dan paman Bayu tidak tahu. Karena selama ini paman Herman lah yang mengatakan hal tersebut.


"Sudah sudah! kita tanya saja pada mas Herman nanti!" paman Bayu pun sudah tidak bisa berpikiran jernih. Yang ada di benaknya saat ini adalah kembali ke kota dan membicarakan semuanya dengan kakak pertamanya itu.


Alhasil, saat itu juga paman Agus dan paman Bayu langsung berkemas dan kembali ke kota mereka. Mereka pun tidak sempat pamitan sama Ali karena Ali pergi keluar rumah dan belum kembali.

__ADS_1


Sore itu Ali pulang ke rumah. Demi menghindari kedua pamannya, Ali sengaja keluar rumah di pagi hari dan pulang saat senja. Sampai di rumah, Ali pun heran karena rumah tampak sepi. Tak ada suara berisik kedua pamannya tersebut.


"Paman...paman Bayu? paman Agus?" Ali mencari kedua pamannya tapi tak ketemu. Ali pun mengetuk pintu kamar yang ditempati pamannya, namun tak ada sahutan dari dalam. Karena penasaran, Ali masuk ke dalam kamar pamannya. Ali pun tersenyum ketika mengetahui tas pamannya sudah tidak ada. Ali memasuki kamar paman yang satunya, ternyata memang sama. Ali merasa lega.


"Syukurlah mereka sudah pergi!" Ali kembali ke kamarnya dan segera membersihkan diri.


πŸ’πŸ’πŸ’


Setelah curhat dengan kedua sahabatnya, Raya merasa sedikit lega. Meskipun belum ada solusi yang didapatnya,setidaknya beban pikiran Raya sedikit berkurang setelah menceritakan kisahnya pada kedua sahabatnya tersebut. Raya pun pamit pulang karena harus menemani mamanya yang akhir akhir ini sering melihat penampakan seseorang yang mirip dengan nenek Sari.


"Apa nenek kamu kembali?" Manda sebenarnya masih penasaran dengan cerita Raya.


"Entahlah! aku tidak bisa melihatnya dengan jelas." jawab Raya.


"Kalau ada sesuatu yang terjadi, jangan sungkan menghubungi kami. InsyaAllah kami akan langsung meluncur. Benar kan Ly?" ucap Manda menyenggol Lily yang dari tadi diam saja.


"Eh..iya!" jawab Lily.


Raya kembali ke rumah setelah cukup lama di rumah Manda. Raya melajukan mobilnya dengan perlahan karena Raya sedikit tidak fokus dengan perjalanannya. Raya menghentikan mobilnya di tepi jalan tatkala dia melihat seseorang yang dikenalnya di seberang jalan.


"Tyo? benarkah?" Raya menajamkan penglihatannya. Agak jauh memang, jadi Raya tidak begitu jelas melihatnya. Tak lama seseorang yang disangka Raya mirip dengan Tyo temannya langsung pergi mengendarai motor sport nya.


"Apa Tyo punya motor baru? biasanya juga bawa mobil!" Karena tidak jelas dan pria itu juga sudah pergi, Raya melanjutkan perjalanan pulangnya.


"Arrgggghhh....."

__ADS_1


__ADS_2