
"Hey..apa yang kalian lakukan?" Ali tiba-tiba muncul di sana dan mengagetkan para lelaki itu yang hendak menganiaya Raya.
"Kamu lagi! jangan ikut campur! Kamu harus ingat jika kamu dan wanita itu adalah musuh. Kenapa kamu selalu menolongnya?" kata seorang pria itu. Raya heran mendengar apa yang dikatakan pria itu terhadap Ali. Apa benar keluarga Ali dan keluarga Raya adalah musuh?
"Lalu kenapa kalian menganiaya wanita lemah? apa dia mengusik keluarga kalian? tidak bukan? Apa hak kalian? aku akan melaporkan tindakan kalian ini pada pengurus kampung. Biar kalian diadili karena bertindak tak senonoh pada seorang wanita" kata Ali.
Mereka pun saling pandang dan membenarkan kata kata Ali. Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Ali dan Raya.
"Kamu gapapa? mari saya bantu!" Ali melihat kaki Raya yang terluka. Dia pun langsung menggendong Raya. Raya yang memang merasa tidak kuat berjalan hanya diam saja saat Ali menggendongnya.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini? Apa kamu mengikutiku dari tadi?" tanya Raya.
"Saya kebetulan lewat!" jawab Ali singkat.
Ali pun membawa Raya pulang. Raya terus memandang Ali selama perjalanan. 'Ternyata Ali memang tampan jika dilihat dengan seksama.' batin Raya.Dia pun tersenyum.
"Kenapa?" tanya Ali yang mengagetkan Raya.
"Gapapa bang.." Raya menyembunyikan wajah malunya di bahu Ali.
Ali sudah sampai di rumahnya.Dia mendudukkan Raya di kursi tamu dan masuk ke dalam kamar mengambil kotak obat. Raya memperhatikan seluruh ruang tamu rumah Ali. Dia mendapati foto Ali bersama seorang wanita cantik.
"Apakah dia istrinya? ternyata bang Ali sudah menikah." batin Raya.
Raya juga memperhatikan semua foto yang tertempel di dinding. Semua asing baginya, namun ada seseorang yang dia ingat. Foto seorang wanita yang ternyata adalah mamanya. Raya sungguh terkejut melihatnya. Tak lama Ali datang membawa kotak obat dan segelas air minum untuk diberikan pada Raya.
"Minumlah!" kata Ali menyodorkan gelas yang dibawanya. Raya menerima gelas itu dan meminum airnya. Ali segera membuka kotak obat dan mengobati Raya.
"Boleh saya pegang?" Ali meminta ijin terlebih dahulu sebelum membasuh luka di kaki Raya. Raya hanya mengangguk, membiarkan Ali mengobati lukanya.
"Abang tinggal sendirian?" tanya Raya yang tak mendapati siapapun disana.
"Iya!" jawab Ali.
"Semua saudara Abang?" tanya Raya lagi.
__ADS_1
"Semua sudah pindah! tinggal aku dan semua kenangan di sini!" jawab Ali.
"Aku melihat foto Abang bersama seorang wanita. Cantik sekali. Apa dia istri Abang?" tanya Raya memperhatikan Ali yang membalut lukanya. Ali hanya diam tak menjawab pertanyaan Raya.
"Tidak ingin cerita juga tidak apa. Maaf!" kata Raya.
"Namanya Tata..dia tunangan saya. Namun sudah meninggal." jelas Ali.
"Sudah meninggal? kenapa?" Raya semakin penasaran. Namun Ali hanya melotot, tak suka Raya terlalu banyak bicara. Raya mengerti, dia pun diam.
"Bagaimana foto mama saya ada disana?" tunjuk Raya pada foto mamanya yang tertempel di dinding bersama seorang pemuda.
"Itu paman saya bersama tunangannya dulu!"jawab Ali.
"Tapi itu mama saya!" protes Raya. Ali tidak menggubris.
"Sudah senja, saya antar kamu pulang."Kata Ali. Raya pun mengangguk. Ali mengantar Raya pulang ke rumah nenek Sari menggunakan motornya. Rumah itu sangat sepi.
"Temanmu pasti ada di dalam!" kata Ali kemudian.
"Kenapa kalian meninggalkanku?" tanya Raya yang melihat Lily dan Manda mengintip dari jendela rumah.
"Maafkan kami Ray.. mereka membawa parang.Kami takut!" jawab Manda yang tadi sampai melupakan Raya karena ketakutan.
"Bagaimana kamu bisa bersama bang Ali?" tanya Lily sinis.
"Bang Ali yang menolongku dari amukan orang orang itu!" jawab Raya.
"Bagaimana bisa dia ada di sana?" tanya Lily lagi. Raya hanya mengangkat bahunya.
"Apa kamu cemburu Ly?" tanya Manda. Lily tak menjawab dan langsung pergi ke kamar. Raya dan Manda saling pandang.
"Apa Lily jatuh cinta pada bang Ali? bukankah kita masih kecil ya?" bisik Manda pada Raya. Raya mengangkat bahu lagi.
Tak terasa hari telah larut. Lily dan Manda sudah tidur. Raya yang belum bisa tidur, berdiri di teras rumah menghirup udara malam. Nenek Sari pun menyapa Raya.
__ADS_1
"Sudah malam Raya, tidak baik seorang gadis berdiri di luar rumah di jam segini. Ayo masuk!" kata nenek Sari membuka pintu rumahnya.
"Nenek dari mana? Kenapa seharian tidak terlihat?" tanya Raya.
" Nenek kerja di ujung kampung, pulangnya jam segini." jawab nenek Sari, Raya hanya tersenyum.
"Nenek..kita ngobrol sebentar, boleh?" Raya menghampiri nenek Sari dan mengajaknya duduk di bale.
"Nenek.. bagaimana kalau nenek ikut Raya ke kota. Di sana nenek tidak perlu bekerja. Nenek juga tidak akan kesepian." Raya memeluk nenek Sari. Hawa dingin masih dirasakan Raya saat memeluk neneknya.
"Nenek sudah tua, nenek hanya ingin mengenang semua kenangan indah nenek disini. Di rumah ini!" jawab nenek yang menolak ajakan Raya dengan halus.
"Nenek tahu tidak, jika orang orang disini tidak ada yang suka sama Raya. Mereka tidak ingin Raya disini. Kenapa nek? Apa benar Raya pembawa sial?" tanya Raya pada nenek Sari.
"Siapa yang bilang seperti itu? nenek akan mencarinya!" nenek Sari pun geram. Raya tersenyum, dia tau neneknya pasti akan marah.
"Sudahlah nek,Raya hanya bercanda. Ayo masuk nek, kita istirahat!" Raya menggandeng nenek Sari masuk ke dalam. Sekilas Raya melihat Ali berdiri tak jauh dari rumahnya.
"Sejak kapan bang Ali berdiri di situ?" gumam Raya. Namun saat melihat neneknya, nenek Sari sudah tidak bersamanya. Raya melihat ke arah Ali. Ali pun tersenyum. Raya membalas senyum Ali.
"Aku masuk" Raya menunjuk pintu yang diisyaratkan pada Ali. Ali pun mengangguk dan meninggalkan rumah nenek Sari.
"Kenapa dari tadi aku tidak sadar jika bang Ali ada di sana. Apa dia sudah lama berada disana?" Raya menutup pintu dan kembali ke kamar.
"Apa kamu suka sama Ali?" tanya nenek Sari membuat Raya salah tingkah.
"Nenek bisa saja. Malam ini bolehkah Raya tidur bersama nenek?" tanya Raya yang mendapat anggukan dari neneknya. Raya pun menggandeng tangan neneknya menuju ke kamarnya. Malam ini Raya akan tidur bersama nenek Sari,melepas kerinduan nya selama ini.
Siapa sangka Lily dari tadi memperhatikan Raya dengan tidak senang.
🌿🌿🌿
Keesokan harinya..
Raya terbangun dari tidurnya dan sudah tidak mendapati nenek Sari di sampingnya. Raya hendak menunaikan ibadah sholat subuh.
__ADS_1
"Sepagi ini nenek sudah pergi?" batin Raya. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan membangunkan kedua temannya untuk melaksanakan ibadah sholat subuh. Mereka bertiga pun bergantian membersihkan diri.