
Lily langsung teringat dengan Raya dan teman yang lainnya. Lily segera bergegas mengintip dari lubang kunci pintu. Ternyata Lily melihat pangeran kedua ada di luar kamar.
"Katanya di kamar sebelah , taunya standby di depan kamar." Lily pun berpindah ke jendela dari samping kamar. Lily membuka jendela tersebut dengan perlahan dan langsung mengamati keadaan di luar. Setelah dirasa aman, Lily langsung keluar kamar melalui jendela. Dengan mengendap-endap, Lily melewati arah belakang demi menghindari pangeran kedua.
Karena tak tahu arah, Lily melewati setiap kamar yang dilewatinya sambil mengintip ke dalamnya. Mencari tahu keberadaan teman temannya yang mungkin ada di salah satu kamar yang ada disana. Namun di setiap kamar yang dilewatinya, tak ada jejak apapun dari ketiga sahabatnya itu. Lily mulai kelelahan karena perutnya merasa lapar.
Lily berjalan kembali dan menemukan banyak wanita sedang sibuk membawa bahan bahan makanan. Namun Lily menjadi terperangah begitu melihat wajah mereka. Wajah aneh para wanita yang tidak menyerupai manusia itu membuat Lily menjadi eneg dan hampir muntah. Namun Lily tetap berusaha untuk tetap tenang.
Lily terus mengawasi para wanita yang sibuk itu. Ternyata mereka berada di sebuah dapur. Kebetulan Lily sedang lapar, tetapi tidak bisa mendapatkan makanan karena banyaknya orang disana. Lily tidak berani menampakkan diri karena takut akan terjadi sesuatu dengannya jika bertemu dengan mereka. Apalagi membayangkan bertemu lebih dekat dengan orang orangan itu membuat Lily semakin takut saja.
Tak berapa lama meskipun sudah lama menahan lapar, akhirnya penantian Lily tidak sia sia. Satu persatu para wanita itu meninggalkan dapur dengan hidangan di tangannya. Sepertinya akan dibawa ke istana. Setelah dirasa sepi, Lily memberanikan diri memasuki dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Setelah menemukan sesuatu yang menarik, Lily langsung ingin menyantapnya. Namun betapa terkejutnya Lily setelah membaca doa makan, tiba-tiba saja makanan yang ada ditangannya berubah menjadi belatung menjijikkan.
Lily yang terkejut langsung melemparkan piring yang ada di tangannya. Lily langsung berlari meninggalkan dapur tersebut sambil memegang dadanya yang berdetak. Sambil terengah-engah, Lily tetap menyusuri setiap kamar yang dilaluinya. Berharap ketiga temannya dapat ia temukan. Lily terpaksa mengabaikan perutnya yang kelaparan .
"Kenapa banyak sekali kamar disini, mana semuanya kosong lagi. Ini istana apa kos kosan? Kalian dimana sebenarnya? Raya, Manda, Siska.." Lily terus mengintip di setiap kamar. Hingga dia mendengar suara Isak tangis yang sangat kecil. Karena suasana sangat sunyi, Lily menjadi merinding dibuatnya.
"Suara apa itu? kenapa ada yang menangis di tempat ini?" Lily mencoba mendekati arah suara. Semakin dekat semakin terdengar jelas. Hingga Lily sampai pada sebuah bangunan yang lebih mirip dengan kandang sapi di dunia manusia.
Untuk lebih waspada, Lily tetap diam tak bersuara. Lily pun mencoba mengintip dari celah yang ada tetapi tak ada yang bisa dilihatnya karena di dalam sangatlah gelap.
"Raya, Lily, Siska... Kalian dimana?" Manda terus saja menangis karena ketakutan. Lily yang tahu jika itu adalah Manda karena memanggil nama temannya membuatnya membuka suara.
__ADS_1
"Manda.. jangan menangis lagi. Ini aku Lily, pelankan suaramu" Lily mencoba mengajak Manda untuk berkompromi.
"Lily..Kamu disana?" Manda segera menghentikan tangisannya dan tidak bersuara lagi.
Lily segera mencari pintu masuk untuk menemukan Manda, tetapi setelah ketemu malah tidak jadi masuk karena ternyata pintunya dijaga oleh pengawal kerajaan yang wajahnya mirip wanita di dapur tadi. Lily segera kembali ke tempatnya semula. Dari sana dia bisa berbincang dengan Manda.
"Manda..Di depan pintu ada penjaganya. Aku tidak bisa masuk menemuimu. Bagaimana ini?" bisik Lily pada Manda dari balik tembok.
"Coba kamu ke ruangan sebelah, waktu itu Raya ada disana. Namun hanya sebentar aku bisa mendengar suaranya. Jika saat ini kamu menghadap ke dinding berarti ruangan itu ada di sebelah kanan kamu. Aku tidak bis melihat apapun disini." ucap Manda memberikan petunjuk. Lily mengerti dan langsung menuju ruangan yang dimaksud Manda.
Ternyata dari sekian banyak ruangan, hanya tempat Manda saja yang dijaga pengawal sedangkan lainnya dibiarkan begitu saja. Lily segera memasuki ruangan kosong yang dimaksudkan Manda. Meskipun ruangan itu gelap, Lily masih bisa melihat dengan sedikit cahaya yang masuk. Lily hanya melihat dinding dengan lukisan besar ditengahnya...Meskipun tidak begitu jelas gambar yang ada di dalam lukisan itu, Lily menyadari jika lukisan itu sepertinya hanya disandarkan saja.
"Berat sekali.." Dengan sabar Lily menggeser akhirnya berhasil juga. Lily tak menyangka ternyata dibalik lukisan sebesar itu ada sebuah lubang setengah badan. Sepertinya itu adalah lubang yang dibuat dengan paksa dan bukan merupakan pintu utama.
Lily memasuki lubang dinding tersebut tetapi di baliknya ternyata ada sebuah lemari besar yang menutup. Lagi lagi Lily harus menggesernya, Karena Lemarinya sangat besar membuat Lily kehabisan tenaga karena lapar juga. Hanya tergeser sedikit lemari tersebut tetapi dapat membuat tubuh ramping Lily bisa menerobosnya.
Lily memanggil pelan nama Manda sambil bergerak maju. Manda yang mendengar suara Lily hanya memberikan isyarat dengan mengetuk sebuah benda agar menimbulkan bunyi. Lily menuju arah suara tersebut dengan perlahan karena tempat itu memang sangat gelap gulita.
Setelah merasakan keberadaan Lily yang sudah dekat, Manda langsung meraih tangan Lily kemudian memeluknya. Agar tidak terlalu lama disana, Lily ingin langsung mengajak Manda pergi.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, aku sudah menemukan jalan keluarnya." ucap Lily masih dengan berbisik.
__ADS_1
"Tunggu..Masih ada seseorang disini." Manda menggandeng Lily menuju seseorang yang masih tergeletak tak jauh dari mereka. Manda sengaja menjauhi tubuh tersebut karena takut dan tak tahu siapa orang tersebut.
"Apa itu teman kita?" tanya Lily penasaran.
"Entahlah aku sudah berusaha membangunkannya, tapi dia tidak bergerak sama sekali. Padahal jantungnya masih berdetak. Apa mungkin itu Siska, karena Raya sudah pasti tidak disini." ucap Manda meyakinkan asumsinya.
Masih dalam keadaan gelap, Lily dan Manda mencoba kembali membangunkan orang yang tergeletak itu. Beberapa menit kemudian, akhirnya orang itu bangun dari tidur panjangnya.
"Aku dimana? Aku siapa?" tanya orang itu linglung..
"Siska..Ini kamu kan? aku Lily dan ini Manda!" Lily memperkenalkan diri lagi.
"Kalian?" Siska sangat senang karena masih bisa bertemu dengan teman dan saudaranya.
"Bagaimana dengan Raya?"tanya Siska sangat khawatir.
"Kita bicarakan di tempat lain saja. Disini tidak aman." Lily mengajak Manda dan Siska untuk keluar dari tempat tersebut melalui jalan masuk tadi.
Setelah melewati lubang pada dinding tersebut m, tak lupa mereka mengembalikan almari dan lukisan pada tempatnya semula agar tidak merasa dicurigai.
"Bagaimana dengan Raya?" tanya Siska lagi.
__ADS_1