Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 94 (rencana)


__ADS_3

Sampai di rumah Lily, Manda menjadi merinding memperhatikan keseluruhan isi rumah. Tidak dengan Raya dan Lily yang terlihat santai.


"Gak usah berpikiran yang aneh-aneh. Bukannya kita sering kesini?" ucap Raya menenangkan Manda yang terlihat gugup.


Raya memang bisa melihat makhluk tak kasat mata. Tapi setelah masuk ke rumah Lily, dia bahkan tidak merasakan sesuatu yang aneh disana. Bukankah semalam makhluk itu sangat jelas terlihat?


Rumah Lily masih sepi seperti biasanya. Kedua orangtuanya yang bekerja tentu saja belum pulang di jam segini. Terlihat mbak Dwi datang dengan membawa nampan berisi teh dan camilan. Pandangan Raya terfokus pada mbak Dwi yang terlihat sedikit gugup.


"Mbak Dwi kenapa?" tanya Raya heran.


"Tidak ada non, hanya sedikit gugup karena sudah lama tidak melihat non Raya dan non Manda main kesini. Saya permisi ke belakang lagi non.." mbak Dwi memang terlihat sedikit aneh tapi Lily dan Manda tidak menyadarinya. Raya yang sedikit paham meskipun kurang yakin hanya diam memperhatikan.


"Menurutmu ada yang aneh gak dengan mbak Dwi?" bisik Raya pada Lily karena mbak Dwi belum hilang dari pandangan nya. Lily memperhatikan langkah mbak Dwi.


"Memangnya kenapa? mbak Dwi memang seperti itu." jawab Lily tidak menghiraukannya.


Setelah menikmati hidangan yang disajikan mbak Dwi, Lily mengajak Raya dan Manda ke kamarnya. Mereka langsung merebahkan diri di kasur milik Lily. Manda yang tiba-tiba teringat peristiwa semalam langsung memandang ke arah lemari karena semalam makhluk itu muncul di samping lemari itu.


"Ada gak Ray.." tanya Manda yang tahu jika Raya bisa melihat makhluk halus.


Raya mengamati lemari milik Lily bahkan membuka pintu dan melihat isi di dalamnya. Namun Raya tidak menemukan apapun disana. Raya sangat heran, padahal semalam dia jelas sekali melihatnya tapi sekarang malah menghilang.


Raya menyusuri setiap sudut ruangan, tapi tidak menemukan keberadaan makhluk itu. Dia bahkan berdiri di dekat jendela dan memperhatikan pemandangan di luar tapi memang tidak dijumpainya makhluk yang semalam ikut nongol di ponsel. Raya kembali ke kasur dan bergabung dengan Lily dan Manda.


"Gak ada yang aneh di kamar ini. Dan aku sama sekali tidak melihatnya ada disini. Apakah jika belum malam dia tidak muncul?" Raya kembali berpikir. Lily dan Manda hanya diam tak tahu apa yang akan dikatakan nya.


Hari telah larut, kedua orangtua Lily juga sudah pulang. Mereka sangat senang karena kehadiran Raya dan Manda. Rumah sangat ramai jika Lily mengajak Raya dan Manda main ke rumah.


"Sering sering main dan menginap kesini, biar Lily gak di dalam kamar terus." ucap mama Lily yang begitu khawatir dengan anaknya.


Memang selama ini Lily tidak pernah keluar rumah kalau tidak bersama Raya ataupun Manda. Lily hanya diam saat mamanya menceritakan banyak hal tentangnya kepada Raya dan Lily.

__ADS_1


Mereka pun bercanda ria di meja makan hingga kembali ke kamar masing-masing setelah menyelesaikan makan malam bersama. Karena hari telah larut jadi mereka memutuskan istirahat untuk melanjutkan aktifitasnya besok.


"Jadi di rumahmu ini hanya ada mbak Dwi di siang hari?" bisik Raya lagi takut menyinggung kalau kalau ada kuping di balik dinding.


"Ya begitulah! Karena kedua orangtuaku bekerja hingga larut, sedangkan aku harus sekolah dan pulangnya pun sore." jawab Lily biasa saja.


Malam itu Lily dan Manda sudah terlelap. Raya sengaja terjaga karena memang belum mengantuk. Sebelumnya Raya sudah janjian sama Ali akan melakukan panggilan VC tanpa diketahui Lily dan Manda.


Karena sudah tengah malam, Raya langsung menghubungi Ali tanpa suara. Raya hanya menghadapkan ponselnya ke seluruh ruangan kamar Lily, tapi Aku tidak melihat penampakan seperti semalam. Dan Raya memang sejak tadi tidak merasakan aura makhluk gaib disana.


"Gimana bang.." bisik Raya karena dia menggunakan earphone.


"Gak ada apapun.." jawab Ali.


Raya pun mencoba untuk keluar kamar. Dia keluar dengan mengendap-endap agar tidak membangunkan siapapun di rumah itu. Masih dengan pandangan Ali di hape, Raya mengedarkan layar ponselnya ke seluruh ruangan keluarga yang juga tembus dapur.


"Ada sesuatu di depan sana.."tunjuk Ali yang mengarah ke dapur.


"Akkhhh..." Raya terkejut menahan suaranya. Hampir saja dia teriak tapi berhasil menahannya.


Sebelum ketahuan, Raya langsung pergi kembali ke kamar. Dia sendirian tidak berani memergoki seseorang yang sedang ada di dapur tersebut.


Masih dengan dada yang bergemuruh, Raya langsung masuk kamar dan menguncinya. Suara pintu terkunci ternyata membangunkan Lily.


"Kamu darimana Ray.." Lily masih setengah sadar tapi dia tau jika yang diajaknya bicara adalah Raya.


"Mbak dwi.." Raya masih terengah-engah. Lily sudah terbangun dan segera memberikan Raya segelas air minum.


"Ada apa dengan mbak Dwi? kenapa kamu sampai berkeringat seperti ini?" Lily mengambil tisu dan membantu mengelap wajah Raya yang berkeringat.


"Kamu menelpon bang Ali?" Lily melihat ponsel Raya yang masih menyala dan ada wajah Ali disana.

__ADS_1


Raya melepas earphone nya jadi dia tidak bisa mendengar suara Ali. Raya kembali memakai earphone nya dan sebelahnya dia berikan pada Lily.


"Maaf bang aku tadi gugup.." Raya sudah bisa mengatur nafasnya.


"Sepertinya ada yang aneh dengan wanita itu." ucap Ali sehingga membuat Lily semakin heran.


"Aneh kenapa?" tanya Lily penasaran.


"Kamu percaya gak sih kalau barusan aku lihat mbak Dwi sedang makan sesuatu sampai mulutnya berlumuran darah?" bisik Raya pada Lily.


"Masak iya sih?"


Raya menceritakan semua yang dilihatnya di dapur tadi. Lily gak percaya dan mengajak Raya untuk membuktikannya. Mungkin tadi karena Raya sendirian jadi tidak berani memergoki mbak Dwi sendiri. Sekarang ada Lily kenapa tidak berani?


Raya dan Lily pergi ke dapur untuk membuktikan apa yang dikatakan Raya. Ali juga masih tersambung di telepon , jadi mereka bertiga bisa memergoki mbak Dwi bersamaan.


Ketika tiba di dapur, suasana sudah sepi. Tak ada tanda-tanda mbak Dwi seperti yang dikatakan Raya. Raya menunjukkan tempat dimana mbak Dwi makan sesuatu tadi. Namun tidak ada jejak bekas makanan ataupun darah disana. Raya menjadi heran.


"Beneran kamu melihatnya disini?" tanya Lily saat berada persis di tempat mbak Dwi makan tadi. Raya sangat yakin posisinya memang tepat. Namun disana memang tidak ada bekas apa apa.


"Cari apa non?" mbak Dwi yang tiba-tiba muncul tentu saja membuat Raya dan Lily terkejut.


"Mbak Dwi..bikin kaget saja. Ini loh Raya minta dianter ambil minum air dingin." elak Lily karena kebetulan mereka berada tidak jauh dari kulkas. Raya hanya tersenyum.


"Ohh.." mbak Dwi memandang Raya sinis tapi karena gelap, Raya tidak bisa melihatnya dengan jelas.


"Mbak Dwi ngapain malam malam begini kesini?" tanya Lily yang heran dengan keberadaan mbak Dwi yang tiba-tiba.


"Saya juga ingin mengambil air dingin non.." mbak Dwi langsung membuka kulkas dan memberikan air mineral kemasan pada Raya dan untuk dirinya sendiri kemudian pamit kembali ke kamar.


Raya dan Lily saling pandang heran tapi hanya diam.

__ADS_1


__ADS_2