Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 11(pesona sungai keramat)


__ADS_3

Raya sangat nyaman tangannya digandeng Ali. Mungkin ini baru pertama kalinya dia sedekat ini dengan lelaki, meskipun sebelumnya dia juga pernah dekat dengan Tyo.


Lelaki yang pernah ada di hatinya, namun Raya tidak berani mengungkapkannya. Karena menurutnya mereka masih terlalu dini untuk memiliki rasa saling suka. Meskipun Tyo sudah menunjukkan sinyal perasaan pada Raya. Dan kini Tyo hilang entah kemana.


"Kamu melamun?" tanya Ali yang merasa Raya memegang tangannya terlalu erat.


"Eh..tidak bang! Ayo kita lanjutkan perjalanan nya."


Tak lama mereka pun sudah sampai di atas. Raya bisa melihat batu yang dia duduki tadi di aliran sungai bagian bawah. Raya tidak menyangka jika pemandangan dari tempatnya berdiri saat ini sangatlah indah.


"Ini bagus sekali bang!" tak sengaja Raya pun memeluk Ali. Ali menjadi canggung dibuatnya. Raya pun menyadarinya.


"Maaf.." Raya segera melepaskan pelukannya dan mengalihkan perhatian nya dari Ali.


"Ayo kesana bang, sepertinya enak buat mandi." Raya meninggalkan Ali yang terlihat masih gugup. Tak berapa lama Ali langsung mengikuti Raya.


Raya dan Ali bermain air bersama. Mereka menghabiskan waktu bersama di sungai. Ali juga mendapatkan beberapa ikan di sungai tersebut. Kebersamaan mereka membuat kebahagiaan yang tak terkira dan hanya mereka berdua yang bisa merasakannya. Raya seakan lupa dengan segalanya saking bahagianya.


"Disini masih alami ya bang?" Raya menatap semua pepohonan rindang yang ada di sekitar sungai itu. Air yang jernih dan sudah pasti tak pernah ada di kotanya.


"Iya.." Ali memandang Raya dengan takjub. Raya sungguh berbeda dengan wanita yang ada di kampung yang sering dijumpainya.


Ali mulai merasakan perasaan yang berbeda. Ini kedua kalinya dia rasakan setelah dia mencintai Tata yang kini sudah tenang di alamnya. Ali terdiam sejenak.


"Bang Ali kenapa?" Raya memperhatikan Ali yang merenung. Sebentar senyum sebentar sedih, kadang lembut kadang langsung marah. Raya merasa heran pada Ali. Namun semua pikiran buruk di tepiskannya kembali.


Hari sudah siang, Ali dan Raya masih belum mau beranjak dari sungai itu. Ali pun membuat perapian disana. Dia membersihkan ikan yang didapatnya tadi kemudian membakarnya. Raya dan Ali menikmati ikan bakar di pinggir sungai. Sungguh romantis.


Raya mulai terhanyut terbawa suasana romantis bersama Ali di sungai. Begitu juga dengan Ali. Hingga mereka lupa waktu.


"Bang Ali sudah lulus sekolah?" entah kenapa Raya tiba tiba ingat dengan sekolah.


"Aku lulus SMP tiga tahun yang lalu." jawab Ali.

__ADS_1


"Tidak melanjutkan SMA?" tanya Raya lagi.


"Di kampung sini tidak ada sekolah SMA. Kalau mau melanjutkan harus pindah ke kota. Dengan keadaanku yang seperti ini mana bisa?" jawab Ali. Raya pun diam.


"Bang Ali pasti mengalami masa masa sulit. Apalagi sekarang sudah sebatang kara. Lalu kemana saudara lainnya. Nanti aku akan tanya nenek, beliau pasti tau cerita keluarga bang Ali!" batin Raya.


"Kenapa kamu melamun?" Ali mendekati Raya lagi, mengulurkan tangannya pada Raya.


"Bang Ali mau mengajakku kemana?" tanpa menunggu jawaban, Raya menerima uluran tangan Ali.


Ali pun menggandeng tangan Raya dan mengajaknya ke sebuah goa. Raya sedikit merinding saat berada di bibir goa.


"Jangan takut! tidak berbahaya! " Ali meyakinkan Raya dengan tetap menggandeng erat tangan Raya. Ali pun mengajak Raya masuk ke dalam Goa tersebut. Raya pun mengangguk.


Raya sangat takjub begitu sudah ada di dalam. Pemandangan yang sangat indah. Kalau orang kota tau ada tempat indah di sini, pasti sudah dijadikan tempat wisata. Ali semakin membawa Raya masuk ke dalam. Di sana ada sebuah danau kecil yang menampung air rembesan dinding goa. Airnya pun sangat jernih.


"Bagaimana bang Ali bisa tau ada tempat sebagus ini?" Raya masih mengagumi keindahan goa tersebut.


"Aku tak sengaja menemukannya saat mencari kayu bakar" jawab Ali.


"Kalau di luar sana aku harus berbagi dengan yang lainnya. Kalau di depan goa, aku bisa mengambil sepuasnya tanpa harus berbagi. Aku egois ya?" canda Ali.


"Iya.." Raya pun tertawa dibuatnya.


Kini Raya dan Ali malah bermain air di danau tersebut, hingga sore tiba.


"Sebentar lagi senja, ayo aku antar pulang!" Ali pun mengajak Raya pulang karena sudah hampir petang. Pamali anak muda keluyuran saat senja. Itu kata tetua kampung. Dan sepertinya memang akan terjadi sesuatu jika dilanggar.


"Baiklah!" Raya segera beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Ali meninggalkan goa tersebut.


Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang belum pernah dilewati Raya. Masih menggandeng tangan Ali, Raya mempercepat jalannya. Ali pun tersenyum. Tak lama mereka sudah berada di perkampungan. Raya semakin terkejut karena perjalanannya sangat singkat, tidak seperti saat berangkat ke sungai tadi.


"Tidak usah heran, kamu belum tau saja jalan pintas yang bisa dilalui!" kata Ali melihat kegusaran Raya. Raya pun melepaskan genggaman tangan Ali karena tidak enak jika ada yang melihat. Ali pun memahami.

__ADS_1


Ali mengantar Raya sampai rumah nenek Sari. Terlihat Manda sedang duduk di teras sendirian. Ali mengantar Raya hanya sampai halaman rumah.


"Terimakasih ya bang, sudah mengantarku pulang." ucap Raya. Lagi lagi tanpa kata Ali hanya tersenyum.


Raya langsung menghampiri Manda yang berdiri menyambutnya.


Ali pun meninggalkan rumah nenek Sari. Tak sengaja Ali melihat Lily yang berada di samping rumah dan tersenyum padanya. Ali membalas senyuman Lily sekilas dan segera pergi dari sana.


" Diantar bang Ali lagi?" Manda membolak balikkan tubuh Raya dengan khawatir.


"Kamu baik baik saja kan?" lanjutnya.


"Manda kamu kenapa? memangnya ada apa denganku? aku baik baik saja kok!" jelas Raya.


"Kamu pergi sejak pagi,dan pulang senja hari bersama laki laki. Siapa yang tidak khawatir?" Manda memandang seluruh tubuh Raya yang lembab dan agak basah.


"Aku dari sungai, jelas saja basah!" jawab Raya seakan tau apa yang dikhawatirkan Manda.


"Sejak pagi tadi?" tanya Manda lagi. Raya hanya mengangguk.


"Ya sudah mandi dulu sana! kamu pasti tidak sholat dhuhur kan? sekarang waktu ashar juga mau habis!"


"Astaghfirullah...." Raya menepuk jidatnya dan segera berlari ke belakang. Raya melupakan kewajibannya yang sudah diwanti-wanti mamanya jangan sampai meninggalkan kewajiban sholat. Raya sungguh menyesalinya.


Setelah menunaikan kewajibannya, Raya menghampiri Manda yang masih berada di teras dan memainkan ponselnya.


"Lily kemana, kok tidak ada di kamar?" tanya Raya yang tidak menjumpai Lily di dalam rumah.


"Dia juga pergi meninggalkan rumah tak lama setelah kamu pergi "


"Sejak pagi tadi?"


"Iya.."

__ADS_1


"Ini sudah hampir senja dan dia belum pulang?" Raya mulai khawatir pada Lily. Kenapa juga Lily bersikap seperti itu padanya. Apa benar semua karena bang Ali? Lily suka pada bang Ali?


__ADS_2