
Setelah Lily dan Manda pamit, Raya pun kembali ke kamarnya hendak istirahat karena semalam memang tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi. Mama Rossi sudah baikan, pikirannya sudah tidak kosong lagi seperti sebelumnya.
Di kamar bik Asih, terdengar suara sangat gaduh. Papa Sigit dan mama Rossy yang terlelap tidak bisa mendengarnya. Namun berbeda dengan Raya karena kamar bik Asih tak begitu jauh dari kamarnya. Raya yang merasa bising langsung turun dari ranjangnya dan mencari sumber suara. Raya sangat terkejut karena suara itu dari kamar bik Asih. Raya tidak mengetuk pintu karena mendengar bik Asih sedang berbincang dengan seseorang.
"Pergilah kumohon.." terdengar suara bik Asih yang memelas tetapi Raya tidak bisa mendengar suara teman ngobrolnya itu. Lama Raya terdiam di balik pintu, kini hanya mendengar suara tangis bik Asih. Raya pun memberanikan diri mengetuk pintu dan membukanya sebelum bik Asih menjawab panggilannya.
"Bik Asih kenapa?" tanya Raya tapi tidak dijawab oleh bik Asih. Raya tidak melihat siapapun disana kecuali bik Asih sendiri. Bik Asih yang terkejut langsung mengusap air matanya.
"Bibi kenapa? coba cerita padaku" Raya pun memeluk bik Asih. Bik Asih akhirnya menangis kembali dalam pelukan Raya.
Raya meminta bik Asih untuk cerita padanya. Karena bagaimanapun bik Asih sudah dianggap keluarga sendiri oleh Raya dan orangtuanya. Dengan takut bik Asih pun menceritakan tentang anaknya yang kembali. Namun hanya dalam wujud roh. Raya mendengarkan cerita bi Asih dengan seksama. Raya pun mengambil kesimpulan jika Sastro sudah menjadi hantu penasaran.
Raya berusaha menenangkan bik Asih. Raya tidak ingin bik Asih terpuruk dalam kesedihan. Sebisa mungkin saya akan membantunya.
"Terima kasih ya non.." ucap bik Asih.
Raya pamit kembali ke kamarnya. Bik Asih segera merapikan kamarnya yang porak-poranda. Saat di dalam kamar, Raya pun memikirkan tentang Sastro. Raya sudah tidak bisa tidur lagi karena sudah terusik.
Menurut cerita bik Asih, Sastro tidak pernah tahu di mana jasadnya, makanya dia menjadi arwah penasaran. Seketika itu Raya teringat tentang Ilham. Raya pun berusaha menghubungi Ilham. Mungkin dengan cerita pada Ilham Raya bisa mendapatkan petunjuk tentang Sastro. Raya menekan tombol di ponselnya dan menghubungi Ilham.
Di lain tempat, Ilham yang sedang bermain game di ponselnya merasa senang karena tiba-tiba Manda menghubunginya. Ilham dengan segera menerima teleponnya. Ternyata yang menelpon Ilham adalah Raya. Ilham semakin senang ketika Raya menjelaskan perihal nomor teleponnya yang diberikan Manda. Ilham justru merasa bersyukur dan ingin berterimakasih pada Manda.
__ADS_1
Singkat kata , Raya pun menceritakan kejadian yang menimpa bik Asih dan juga tentang Sastro anaknya. Ilham mendengar cerita Raya dengan seksama. Namun Ilham tidak ingin mengungkapkan praduganya. Ilham ingin meminta pendapat abahnya dulu. Raya mengerti. Dia ingin agar Ilham bisa membantunya.
" Kamu yang sabar ya Ray, semoga saja Abah bisa membantu" ucap Ilham agar Raya tidak begitu khawatir.
"Terima kasih ya bang.. semoga kyai Arifin bisa memberikan petunjuk." jawab Raya. Karena sudah tidak ada yang dibahas, Raya mengakhiri panggilannya. Ilham sedikit kecewa tetapi apa daya. Ilham pun langsung menemui abahnya untuk mendiskusikan masalah ini.
Malam harinya , Raya bersama Papa Sigit dan mama Rossi sedang menonton televisi. Tiba-tiba lampu di rumahnya padam. Papa Sigit mengira ada pemadaman listrik di daerahnya. Namun setelah di cek keluar, ternyata hanya rumahnya yang mati lampu.Bik Asih segera mengambil lilin dan menyalakannya. Namun setiap kali dicobanya, lilin tidak bisa dinyalakan juga. Raya hanya bisa menyalakan lampu senter di ponselnya untuk menerangi ruangan tersebut.
Tiba-tiba Raya melihat sosok pria berdiri di sudut ruangan. Raya hanya diam karena tidak ingin membuat mamanya takut. Raya terus menatap sosok pria itu. Papa Sigit memanggil pak Harun untuk mengecek listrik di rumahnya, sedangkan bik Asih masih tetap fokus menyalakan lilin di tangannya yang tak kunjung menyala.
Raya duduk di samping mamanya dan tetap mengawasi sosok misterius di sudut ruangan. Mama Rossi tidak berani kembali ke kamar dalam kondisi gelap. Jadi beliau tetap berada di tempat duduknya sembari menunggu papa Sigit.
"Sudah saya cek pak, tapi tidak ada masalah. Tapi kenapa mati ya pak? padahal rumah tetangga masih nyala semua loh?" ucap pak Harun pada papa Sigit. Papa Sigit hanya manggut-manggut saja tak tahu apa yang akan dilakukan.
Papa Sigit kembali menemui Mama Rossi. Beliau langsung menghubungi petugas PLN setempat. Karena merasa mamanya sudah aman bersama Papa Sigit, Raya segera menghampiri bik Asih.
"Bik.. Coba lihat di sudut sana!" bisik Raya yang membuat bik Asih langsung memperhatikan sudut ruangan.
"Itu Sastro bukan?" tanya Raya lagi masih dengan suara lirih. Bik Asih mulai menangis. Dia tidak menyangka jika Sastro akan berbuat senekat ini.
Raya yang masih menggenggam ponselnya langsung melakukan video call dengan Ilham. Sebelumnya Raya sudah mengirim chat jika dia melihat penampakan Sastro.Untung saja papa Sigit langsung mengajak mama Rossi ke kamar, kemungkinan mereka berdua tidak melihat keberadaan Sastro di sudut ruangan.
__ADS_1
Sesuai arahan Ilham, Raya diminta agak mendekat pada Sastro. Kini yang terhubung dengan Raya adalah kyai Arifin karena tadi Ilham langsung mencari abahnya. Bik Asih juga mengikuti Raya.
"Sastro.." panggil bik Asih kepada anaknya. Ternyata Sastro merespon panggilan ibunya itu. Raya segera menghadapkan ponselnya pada Sastro. Disana kyai Arifin langsung menerapkan ilmunya. Ternyata beliau dibantu oleh semua saudaranya.
Sastro langsung tak berkutik. Menurut pandangan Raya, Sastro sudah terikat rantai besi dan dia tidak bisa kabur. Tak lama kemudian menghilang dari pandangan. Bik Asih dan Raya merasa lega. Akhirnya lampu mulai menyala.
"Sastro sudah pergi kah non?" tanya bik Asih khawatir.
" Belum tau bik!"jawab Raya.
Raya menanyakan keberadaan Sastro pada kyai Arifin. Ternyata Sastro sudah dipindahkan ke rumah kyai Arifin untuk ditanya. Nanti setelah semua selesai, kyai Arifin akan memberitahu Raya.
Papa Sigit langsung keluar begitu lampu menyala. Beliau merasa heran melihat anaknya yang tampak mengendap-endap bersama bik Asih.
"Astaghfirullah...papa bikin kaget saja!" ucap Raya sedikit meloncat.
"Kau yang bikin papa terkejut. Istirahat sana!" pinta papa Sigit.
Raya hanya tersenyum nyengir. Dia pun bergegas ke kamar. Begitu juga dengan bik Asih yang langsung ke ruang depan mencari pak Harun.
Di dalam kamar, Raya tak bisa tidur. Dia pun menghubungi kedua sahabatnya. Raya segera menceritakan kejadian di rumahnya pada Lily dan Manda.
__ADS_1
"Bisa gak sih,gak usah cerita hal hal begituan malam malam gini. Kan ngeri.." Manda mulai gemetar. Dia langsung pamit mematikan telponnya. Sementara Lily dan Raya melanjutkan ceritanya. Lily semakin penasaran.