
"Apa mungkin selama ini Bang Ali mencoba masuk ke dalam mimpiku? Tapi karena aku sudah berdoa sebelum tidur, dia jadi terhalang. Tadi aku langsung ketiduran, makanya bag Ali bisa masuk. Trus jika aku ingin bertemu dengan bang Ali aku gak perlu berdoa sebelum tidur? Wah..gak bener ini!" Raya terjaga dari tidurnya. Antara mimpi dan kenyataan, Raya masih belum bisa membedakannya.
Raya membuka laci nakas nya, melihat ponselnya yang satunya. Ternyata memang tidak ada. Jadi apakah ponsel itu benar benar dibawa Ali?
Raya pun mencoba menghubungi nomornya sendiri yang ada di ponsel yang dibawa Ali. Ali masuk ke dalam mimpinya belum terlalu lama, pasti sekarang juga belum tidur.
"Hallo.." terdengar suara seorang pria disana. Suara yang asing menurut Raya.
"Bang Ali?" Raya mencoba memanggilnya tetapi hanya keheningan yang ada.
"Raya.." Ali pun menjawab.
Raya pun tersenyum. Ternyata suara Ali di kenyataan dengan di telepon sangat beda. Lebih dewasa menurut Raya. Raya memberanikan diri berbincang dengan Ali. Karena merasa tidak ada jarak, setelah beberapa waktu mengobrol mereka sudah sedikit tidak ada kecanggungan.
Beberapa waktu lamanya mereka berdua bercerita, Raya pun mengakhiri. Besok dia harus sekolah jadi tidak mungkin begadang malam ini. Besok juga masih ada waktu untuk teleponan dengan Ali.
"Terimakasih ya Ray.." Ali pun menutup teleponnya.
Kini Ali dan Raya sama sama tersenyum dalam tidurnya masing masing.
🪦🪦🪦
Setelah mendapat bantuan dari tuannya, Agus sudah mulai membaik. Bayu sangat memperketat perlindungan terhadap adiknya. Sejak kejadian gagalnya ritual terakhir saat masih ikut kakaknya, perlindungan Agus menjadi melemah.
Bayu merasa khawatir, dia tidak ingin kehilangan adiknya karena baginya saat ini hanya Agus lah saudara satunya. Bayu pun meminta tuannya agar memberikan perlindungan yang kuat kepadanya dan juga adiknya tersebut.
__ADS_1
Tiga bulan kemudian, sang iblis pun mendatangi Bayu dan Agus. Dia meminta Bayu dan Agus untuk mengambil anaknya dari perempuan yang saat itu menjadi sesembahan.
"Apakah hamba hanya mengambil anak tuan saja?" tanya Bayu memastikan.
"Hahaha....Tidak! Bawa juga ibunya. Aku ingin menjadikannya selir di kerajaanku."Sang iblis pun segera pergi setelah memberikan perintah.
Bayu dan Agus saling pandang. Mereka masih belum punya cara untuk mengambil keduanya. Bayu dan Agus sangat yakin jika Herman kakaknya pasti sudah memberikan perlindungan untuk anak dan cucunya kini.
"Jadi bagaimana mas?" Agus memang kurang cerdas dibandingkan kakaknya itu. Selama ini semua ide selalu muncul dari Bayu. Agus hanya pelaksana saja.
"Aku akan coba membawa mereka menggunakan ritual. Jika tidak berhasil maka harus dengan menemuinya sendiri. Kali ini mas Herman pasti tidak akan tinggal diam. Kita harus lebih waspada terhadapnya." Bayu sangat yakin jika mulai sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menghasutnya sekalipun itu adalah kakaknya sendiri. Bayu sudah memutuskan hubungan saudara dengan Herman kakaknya. Dia sudah sangat sakit hati karena hanya dimanfaatkan saja oleh kakak pertamanya itu
Saat itu juga Bayu langsung melakukan ritual penculikan terhadap keponakannya. Bayu sudah melepaskan jiwa dari raganya. Kini dia menuju rumah kakaknya mencari keberadaan Siska.
Penjagaan sangat ketat, bahkan seluruh rumah sudah dipagari. Kini Bayu tidak bisa lagi masuk ke dalam rumah. Bayu hanya berkeliaran di samping rumah yang berdinding sangat tinggi itu.
"Apa yang terjadi mas?" Agus penasaran kenapa kakaknya terus saja menggerutu.
"Aku tidak bisa masuk ke rumahnya lagi. Mas Herman sedang memagari rumahnya." Bayu semakin kesal dibuatnya.
"Apakah kita akan menculiknya secara terang-terangan mas?"
"Iya.."
Bayu dan Agus sedang menyusun rencana bagaimana bisa mengambil keturunan tuan nya tersebut. Terlebih lagi sang iblis juga meminta untuk mengambil anak dan ibunya.
__ADS_1
"Sudah saatnya kita memisahkan mas Herman dari orang yang dicintainya. Dari dulu kita bahkan harus mengorbankan orang yang kita cintai, hingga aku sudah membunuh hatiku untuk tidak mencintai perempuan. Kini mas Herman harus merasakan apa yang pernah kita rasakan." Bayu mengepalkan tangannya. Dia sangat bangga karena bisa balas dendam dengan kakaknya sendiri.
"Benar mas Bayu..Mas Herman hanya memanfaatkan kita demi kesuksesan nya sendiri. Apa yang kita dapatkan?" Agus setuju dengan pendapat kakaknya itu.
Malam itu Bayu dan Agus melancarkan aksinya. Mereka berdua pergi ke rumah Herman. Meskipun penjagaan sangat ketat, mereka sudah tahu semua situasi yang ada di dalam rumah.
Bayu dan Agus langsung meringkus dua pengawal yang berjaga di depan gerbang. Kebetulan tida ada orang di pos penjagaan. Bayu dan Agus segera menikam pengawal Herman dan membuang mayatnya di parit di samping rumah Herman dan menutupinya dengan dedaunan.
Sebelumnya Bayu juga sudah melucuti pakaian kedua pengawal tersebut dan segera memakainya, begitu juga dengan Agus. Bayu sangat hafal dan yakin jika semua anak buah Herman tidak begitu saling kenal antara satu dengan lainnya. Yang kenal mungkin hanya beberapa saja. Seperti saat ini, Bayu pertama kali kenal dengan penjaga gerbang. Sepertinya Herman sudah mengganti lagi anak buahnya.
"Mas Bayu yakin kita tida akan ketahuan?" Agus masih waspada terhadap keselamatan dirinya.
"Kamu cukup mengikuti-ku saja. Semua serahkan padaku!" Bayu meminta Agus segera bersiap.
Kini mereka kembali ke depan gerbang tempat kedua orang tadi berjaga. Ternyata di pos penjagaan masih kosong.Tak berapa lama ada dua orang pengawal menghampiri mereka.
"Kalian sudah boleh istirahat, kita bergantian jaga." ucap pengawal yang baru saja datang. Bayu dan Agus saling menunduk tanpa bersuara. Mereka pun masuk ke dalam halaman rumah dan langsung menuju kamar pelayan yang ada di belakang rumah utama.
Herman memang menyediakan bangunan di belakang rumah induk untuk semua anak buahnya. Karena Bayu sudah paham dengan situasi, dia langsung menuju belakang dengan diikuti Agus.
Sesuai dengan dugaan Bayu sebelumnya, penjagaan di dalam rumah tidak terlalu ketat. Karena sudah berseragam pengawal, Bayu merasa leluasa bergerak di dalam rumah. Meskipun sudah malam, penjaga di dalam rumah masih siaga. Bayu dan Agus berpura-pura ikut patroli.
"Kalian berdua kenapa lelet sekali. Cepat gantian bertugas." Salah seorang penjaga pintu kamar memanggil Bayu dan Agus.
Merasa mendapat jekpot, Bayu dan Agus saling tersenyum. Lagi lagi tanpa suara mereka langsung menggantikan petugas disana. Bayu sangat yakin jika kamar yang dijaga adalah kamar Siska.
__ADS_1
Setelah kedua penjaga tadi pergi, Bayu mencoba membuka pintu dengan perlahan. Ternyata benar di dalam adalah kamar Siska. Dan kini Siska sedang tidur. Di samping ranjangnya ada dua pelayan yang berjaga. Namun sepertinya mereka sedang menahan kantuk.
Bayu meminta Agus untuk berjaga di depan, sementara dia masuk ke dalam hendak memanfaatkan situasi membujuk kedua pelayan tersebut.