
"Mas..Mas Bayu kamu dimana?" suara Agus membangunkan Bayu yang terlelap di kursi panjang di depan ruang perawatan. Bayu segera bangun dan menghampiri adiknya.
"Gus..sadar Gus. Ini aku mas mu!" Bayu mengguncang tubuh Agus agar bangun dari tidurnya. Sepertinya Agus sedang bermimpi dan mengigau menyebut namanya.
"Mas..kamu sudah kembali?" Agus pun terbangun dan sangat senang bisa bertemu dengan kakaknya lagi.
"Apa yang terjadi padamu Gus? kenapa dengan mata kamu?" Bayu benar benar khawatir dengan kondisi adiknya itu.
"Cahaya silau waktu itu yang sudah membuatku seperti ini mas. Untung saja Ali menyelamatkanku." Agus pun menceritakan semua yang dilaluinya setelah kejadian waktu itu kepada kakaknya.
"Ali?'" Bayu sempat berpikir sejenak tetapi segera ditepiskannya pikiran buruk yang sempat terbersit.
"Dua hari lagi perban ini sudah bisa dibuka. Aku pasti bisa melihat lagi." Agus senang karena ternyata tidak ada hal buruk yang terjadi pada kedua matanya. Dan harapannya dua hari lagi dia sudah bisa melihat dengan normal.
"Istirahat lah, hari masih petang. Besok kita bahas lagi. Banyak yang akan ku ceritakan padamu tapi sekarang aku masih ngantuk." Bayu mulai menguap lagi.
"Iya baiklah!" begitu menurut nya Agus pada kakaknya yang satu ini.
Sejak kecil hanya mereka berdua yang terlihat akrab. Apa saja hal yang dilakukan, pasti mereka lakukan bersama. Seakan tak ada ikatan yang terpisah diantara keduanya, hingga sekarang.
Hari pun berganti..
Ternyata memang tidak ada hal buruk dengan kedua mata Agus. Setelah perbannya di buka, kini Agus sudah bisa melihat lagi. Agus juga sangat senang karena bisa berkumpul lagi dengan kakaknya.
Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit, Agus dan Bayu langsung pulang. Bayu juga sudah menyewa sebuah rumah minimalis untuk mereka tinggali.
"Untuk sementara kita tinggal di sini dulu. Nanti jika keuangan kita sudah stabil, kita bisa mencari tempat tinggal yang lebih baik lagi."ucap Bayu.
"Iya mas ." jawab Agus menurut.
__ADS_1
Bayu dan Agus hanya bisa bertahan dengan tabungan mereka yang semakin menipis karena sudah tidak mungkin mendapat kiriman dari kakak tertua nya lagi.
Setelah berbincang-bincang berdua tentang keadaan masing-masing setelah kejadian tersebut, mereka pun mengambil kesimpulan jika semua yang terjadi selama ini memang hanya akal akalan kakaknya saja. Bayu dan Agus yang menjalankan misinya tetapi Herman lah yang menuai hasilnya. Agus dan Bayu hanya merasakan greget pada kakaknya itu.
"Jadi tumbal wanita itu hanya untuk mencari kekayaan saja mas? Aku tidak mengerti.." tanya Agus memastikan.
"Kemungkinan seperti itu. Sekarang coba kamu pikir saja, kita bersusah payah mencari tumbal dan menyerahkannya pada sosok hitam itu tetapi tidak ada perubahan pada kita. Uang yang kita dapat juga dari mas Herman. Semua yang kita miliki juga dari pemberian mas Herman. Kalau soal kutukan keluarga, sepertinya memang tidak ada." Bayu pun menjelaskan.
"Bagaimana dengan keluarga Bisri yang katanya keturunan terakhirnya bisa memusnahkan kita jika kita tidak memusnahkannya duluan?" Agus masih penasaran.
"Namun sampai sekarang keluarga Sigit masih baik baik saja, tak ada kejadian yang berhubungan dengan masa lalu. Lagipula mereka juga tidak pernah mengusik kita. Aku semakin yakin ini hanyalah siasat mas Herman yang hanya ingin melindungi anaknya agar tidak dijadikan tumbal."
Agus dan Bayu terdiam dan sedang berkutat dengan pikirannya masing-masing. Bayu pun tersenyum.
"Kamu tidak usah khawatir, sebentar lagi kita akan menjadi kaya raya dan bisa menghancurkan mas Herman. Sepertinya yang berniat menghancurkan kita bukanlah keluarga Bisri, tapi mas Herman sendiri karena ingin menjadi kaya raya dengan mengorbankan kita." ucap Bayu penuh keyakinan.
"Kamu tahu alasan kenapa aku bisa sampai ke tempatmu?" Bayu pun membisikkan sesuatu pada Agus.
"Apa? kau yakin akan melakukan hal yang sama dengan mas Herman? ini tidak mudah loh mas? syaratnya terlalu berat!" Agus jadi khawatir, bagaimana jika ternyata mereka tidak bisa mendapatkan sesembahan yang diinginkan. Akan tetapi Agus sedikit yakin jika kakaknya yang satu ini tidak mungkin mencelakainya.
"Kita bisa mendapatkannya dengan mudah. Bukankah selama ini kita dengan mudahnya mendapatkan seorang wanita?" ucap Bayu yakin.
"Tapi kali ini harus perawan mas?" Agus meyakinkan kakaknya lagi.
"Percaya saja padaku. Kita belum terlalu tua untuk mendapatkan seorang gadis." Lagi lagi Bayu sangat yakin.
"Aku ikut kamu mas ." ucap Agus.
"Bagus..."
__ADS_1
🪦🪦🪦
Di tempat yang lain..
Sosok hitam besar tengah berputar di atas tubuh seorang wanita yang sudah pingsan. Seorang pria paruh baya menutup pintu kamar dan bernapas lega.
"Kemana aku harus mencari mereka berdua. Bahkan guru Noe saja sudah tidak bisa membantuku. Apa aku harus mencari guru lain?" Herman menjadi ragu. Jika kedua adiknya Hilang, siapa lagi yang bisa dia manfaatkan? Selama ini di sudah mengatur semua rencana dengan matang. Namun siapa sangka dia bisa kecolongan, dan bahkan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Herman sangat sayang kepada putri satu-satunya yang dia sembunyikan dari kedua adiknya. Dan sekarang dia telah kehilangan kedua adiknya tersebut. Herman pun berpikir bagaimana cara mengakhiri perjanjiannya dengan bangsa lain itu. Jika dia tidak sanggup memenuhinya, yang ada putri kesayangannya lah yang akan menjadi korban selanjutnya. Apakah dia rela?
Herman kembali pulang ke rumahnya, dia memperhatikan Siska putrinya yang sedang terlelap.
"Kenapa wajahmu harus mirip dengan ibumu?" Herman membelai pipi sang putri dan menatapnya. Andai saja istrinya masih hidup, mungkin dia dan keluarga kecilnya akan hidup bahagia.
Herman tidak menyangka jika istri kesayangannya harus pergi meninggalkan nya setelah melahirkan. Dan hingga sekarang Herman tidak bisa menemukan sosok yang begitu tulus mencintainya disaat dia tidak punya apa-apa.
"Perempuan sekarang sama saja, hanya uang uang dan uang" Herman merebahkan tubuhnya di samping putrinya.
Seketika dia sadar, kenapa dia harus menyesal kehilangan kedua adiknya itu jika dia sendiri bisa melakukannya.
Tidak sulit baginya untuk mendapatkan perempuan dengan harta yang dimilikinya. Toh sesembahan yang harus dia berikan hanyalah seorang wanita bukan gadis yang masih perawan.
"Hahaha.....Kenapa aku pusing memikirkannya. Aku bisa..aku bisa ..." Herman pun teriak saking girangnya.
"Papa..apa yang kamu lakukan? kenapa berteriak seperti itu?" Siska pun terbangun mendengar teriakan papanya yang begitu lantang.
"Tidak apa-apa sayang, maafkan papa karena sudah mengganggu tidurmu. Lanjutkan tidurmu, papa akan kembali ke kamar" Herman mencium kening putrinya dan bergegas kembali ke kamarnya.
Herman sangat bahagia setelah menemukan cara untuk melanjutkan hidupnya yang bergelimang harta. Saat ini dia sudah tidak peduli lagi dengan kedua adiknya yang entah dimana itu.
__ADS_1