Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 77 (Bertemu Ali)


__ADS_3

Sastro kembali ke tempat tinggal ibunya. Meskipun senang karena bisa menemukan jasadnya, tapi dia belum tenang sebelum jasadnya tersebut dikebumikan dengan baik. Untuk urusan balas dendam, sepertinya Sastro tidak ingin terlalu banyak bertindak. Yang penting baginya sekarang adalah menceritakan semuanya pada sang ibu dan mendapatkan keadilan.


"Jadi kamu sudah menemukan dimana jasadmu dikubur?" bik Asih langsung menangis setelah mendengar cerita anaknya tersebut.


"Tolong saya Bu..saya ingin kedamaian." Sastro memeluk ibunya dan berharap bisa tinggal dengan tenang di alamnya yang lain.


"Kamu tenang saja, ibu akan meminta bantuan non Raya." bik Asih pun meminta Sastro agar sabar. Bik asih berjanji akan menguburkan anaknya dengan layak.


"Terimakasih Bu.." Sastro langsung menghilang.


Bik Asih menyeka matanya dan bergegas mencari Raya untuk menceritakan semuanya dan meminta bantuannya untuk mencari jasad Sastro yang sudah diketahui lokasinya. Bik Asih menjadi kebingungan karena Raya selalu bersama kedua orangtuanya. Bik Asih belum mempunyai kesempatan untuk bicara berdua dengan Raya. Apakah harus mengatakannya kepada kedua majikannya juga?


Melihat gelagat yang aneh dari bik Asih, mama Rossi langsung memanggilnya. Bik Asih semakin gugup. Apa yang harus dia jelaskan?


"Memangnya ada apa bik?'" tanya mama Rossi setelah meminta bik Asih duduk bersama mereka.


"Sebenarnya saya ingin bicara dengan non Raya, Bu.." ucap bik Asih kemudian.


"Langsung ngomong saja bik..Papa sama mama sudah tau kok!" ucap Raya membuat bik Asih menjadi sungkan.


Karena sudah menganggap bik Asih seperti keluarganya sendiri, Raya merasa perlu menceritakan semua kejadian yang menimpa bik Asih kepada orangtuanya. Mungkin dengan menceritakan kepada orangtuanya, Papa dan mamanya bisa membantu bik Asih untuk urusan yang lainnya.


Karena merasa dihargai, bik Asih tak sungkan lagi menceritakan apa yang sudah dikatakan Sastro sebelumnya. Raya dan kedua orangtuanya sangat terkejut tetapi juga bersyukur karena sudah ada titik terang.


"Bik Asih tenang saja. Saya pasti akan membantu bik Asih dan kita akan mengusut tuntas pelakunya." papa Sigit penuh percaya diri ingin membantu bik Asih.


"Terimakasih pak!" bik Asih sangat senang karena sudah mendapatkan majikan yang sangat baik dan sudah menganggapnya sebagai bagian keluarga.

__ADS_1


Papa Sigit pun langsung menelpon dokter Reno untuk mengajak ketemuan membahas masalah ini. Dokter Reno punya banyak kenalan di kepolisian. Pasti bisa membantu mengusut kasus pembunuhan Sastro.


Raya sangat senang karena papanya pasti bisa membantu. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Ali. Kini Raya bingung bagaimana caranya bisa bicara dengan Ali. Raya yakin jika Ali yang sudah membantu Sastro. Sejak Ilham sudah kembali ke kota, Raya tidak bisa meminta bantuannya lagi untuk menyampaikan pesan pada Ali.


Malam itu, Raya mencari Sastro dibawah pohon jambu tempatnya berada. Raya sudah tidak bisa berpikiran jernih jika menyangkut urusan Ali. Bagaimana lagi bisa menghubungi Ali yang tidak punya ponsel tersebut, kalau bukan meminta tolong pada seseorang yang pernah berhubungan dengan Ali.


Raya celingukan menuju ke tempat Sastro. Takut aksinya membangunkan orang rumah yang mungkin saja belum tidur. Dia mengendap-endap keluar dari rumahnya.


"Terimakasih ya Ray.. karena kamu dan temanmu itu, aku bisa menemukan jasadku kembali." Sastro tiba-tiba muncul di samping Raya dan membuatnya terkejut.


"Hampir saja jantungku mau copot. Kenapa gak menunggu aku panggil dulu sih?" Raya memegang dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.


"Maaf.."Sastro pun meringis karena dia pikir Raya sudah bisa menebak kehadirannya. Ternyata salah.


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu.." Raya pun menceritakan keinginannya yang ingin bertemu dengan Ali. Raya berharap Sastro bisa menolongnya kali ini. Bukannya bertanya kenapa atau bagaimana, Sastro malah tertawa mendengar cerita Raya.


"Tapi kamu kan bisa menghilang, hanya memejamkan mata langsung sampai ke tempat tujuan." Raya pun mengeyel.


"Jika aku belum pernah kesana ya gak tau tempatnya. Mencari jasadku sendiri saja aku gak bisa." Sastro masih menertawakan tingkah Raya dan langsung meninggalkannya.


Raya kesal dengan Sastro dan segera kembali ke kamarnya. Raya masih bingung bagaimana caranya bisa bertemu dengan Ali lagi. Karena tidak menemukan solusi dan rasa kantuknya tak tertahankan, Raya akhirnya terlelap.


"Bang Ali?" Raya terkejut karena tiba-tiba Aku sudah ada di kamarnya.


"Raya.. akhirnya bisa ketemu kamu lagi. Aku kangen.."jawab Ali spontan.


Raya menjadi tertegun mendengar ucapan Ali. Sepertinya Ali tidak ada rasa sungkan mengucapkan kata itu. Raya menjadi canggung. Melihat Raya yang terdiam,Ali menjadi panik. Apakah ada masalah dengan ucapannya tadi?Ali pun memikirkan kembali kata kata yang sudah diucapkannya barusan. Namun menurutnya tak ada yang salah, jadi Ali PeDe saja.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ray.."tanya Ali tanpa sungkan. Raya masih gelagapan tak bisa berkata apa-apa.


"Kamu merindukanku bang?" ucap Raya terbata bata. Ali pun tersadar jika dia sudah mengucapkan hal tersebut dan sekarang membuatnya salah tingkah sendiri.


"Maafkan aku Ray.."Ali menjadi gugup dan memegang tengkuk lehernya.


Kini Ali dan Raya saling diam. Mereka bingung harus ngomong apa. Padahal sejak tadi Raya sudah mempunyai uneg-uneg yang ingin dibahas dengan Ali jika bertemu. Kini semua hanya tertelan di pikirannya saja.


"Bagaimana bang Ali bisa masuk ke dalam mimpiku?" Raya pun memberanikan diri bertanya.


"Hanya dengan cara ini aku bisa menemui kamu Ray.."Ali selalu jujur dalam berkata kepada siapapun. Dia pun malu malu mengatakannya. Raya pun tersenyum.


"Terimakasih ya bang, kamu masih mengingatku."Raya semakin berdebar dan bingung harus bilang apa lagi. Kini hanya kecanggungan yang ada diantara mereka berdua.


"Maafin aku ya Ray..aku gak bisa lama-lama. Tapi aku senang bisa melihat kamu lagi.Aku pulang dulu."Sebenarnya Ali bisa saja sampai pagi menemui Raya. Karena rasa canggung membuatnya bingung harus berkata apa. Jadi sebaiknya dia pulang saja.


"Tunggu bang..Bang Ali bawa ini" Raya memberikan salah satu ponselnya kepada Ali.


"Tapi Ray.." Ali menolaknya.Bukannya apa, karena dia memang gaptek dan pasti bingung cara menggunakannya. Raya tersenyum dan memaksa Ali untuk membawanya.


"Nanti aku yang akan menghubungi bang Ali." Raya mengajari Ali cara mengisi baterai. Nanti Raya sendiri yang akan menelpon duluan. Seketika Raya teringat sesuatu..


"Tunggu bang..Memangnya Abang bisa membawanya sekarang?" Raya menjadi khawatir. Bukankah Ali yang ada di hadapannya sekarang hanyalah roh. Apa mungkin bisa membawa benda nyata pergi bersamanya? Ali tersenyum dan mengangguk.


"Aku pulang.." Ali segera menghilang dengan senyuman.


Raya menjadi tersipu, tak menyangka bisa mengalami kejadian seperti ini. Dulu dia hanya berandai andai saja jika ingin bertemu dengan Ali. Dan sekarang dengan leluasa Ali bisa masuk ke dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2