
Karena merasa diperhatikan Ilham, Raya hanya bisa menunduk malu. Manda yang menyadari akan hal itu hanya senyum senyum sendiri. Sedangkan Lily merasa aneh setelah ingat jika Ilham berasal dari kampung nya Raya.
"Ingatlah dengan bang Ali!" bisik Lily pada Raya sehingga dia mendapat cubitan kecil dari Raya.
"Gak usah aneh aneh!" balas Raya membuat Lily meringis menahan sakit karena cubitan Raya.
Karena pertemuan tak disengaja itu, kini mereka mencari tempat makan yang pas buat ngobrol juga. Tentu saja setelah membeli buku yang mereka cari.
"Gak nyangka kita bisa ketemu di sini. Mungkin jodoh!" ucap Manda.
"Bisa jadi!" jawab Ilham tak lepas dari pandangannya terhadap Raya. Raya yang merasa diperhatikan dari tadi hanya diam saja, pura pura acuh.
Setelah pertemuan tak disengaja itu, Ilham semakin semangat dalam menjalani hidupnya yang sendirian di kota. Setelah setiap hari merasa risih karena selalu diikuti wanita dengan pengawalnya tersebut. Iya..wanita itu adalah Siska, putri paman Herman.
Sebenarnya baik juga buat Ilham, dengan begitu tidak ada perempuan usil yang mengganggunya. Namun kehadiran Siska yang terus saja menempel padanya, membuat Ilham tidak leluasa bergerak dan beraktifitas.
๐ธ๐ธ๐ธ
Sementara itu di rumah paman Herman..
Brakkkk....
Krompyangg.....
Pyarr......
Siska membanting semua barang yang ada di kamarnya. Dirinya merasa terabaikan. Siska sudah jatuh hati pada Ilham sejak masuk SMA pertama kalinya. Meskipun tak mendapat balasan dari Ilham, Siska tetap mengikuti kemana pun Ilham berada.
Tak ada siswi di sekolah yang berani mendekati Ilham, karena Siska sudah mengklaim Jika Ilham adalah miliknya. Sekali terlihat ada perempuan yang berusaha mendekati Ilham, dengan segera Siska memerintahkan pengawalnya untuk menyingkirkannya.
Siska menangis se jadi jadinya di dalam kamar. Semua pembantu tak ada yang berani mendekati, mereka hanya diam di depan pintu kamar Siska.
__ADS_1
"Tidak....tidak akan ku ijinkan siapapun merebut kak Ilham. Kak Ilham hanya milikku seorang!"
Siska terus saja melempar semua benda yang ada di meja, mengobrak abrik isi lemari dan juga membuat tempat tidurnya berantakan. Sebentar dia menangis, sebentar dia tertawa.
"Cepat telpon tuan besar!" perintah salah seorang pengawal pada bawahannya.
Tak berapa lama, paman Herman datang dan panik mendengar putrinya mengamuk. Paman Herman tak pernah menjumpai putrinya sampai murka seperti ini. Selama ini paman Herman selalu memenuhi apa yang diinginkan Siska dan selalu membuat putrinya tersenyum bahagia.
"Sayang.. buka pintunya!" paman Herman mengetuk pintu kamar anaknya dengan lembut.
"Aku ingin sendiri Pa..." jawab Siska dari dalam kamar.
"Keluar sayang.. Bicarakan semua sama papa!" paman Herman terus saja membujuk putrinya agar mau terbuka dengannya. Karena Siska tetap tidak mau membuka pintu, paman Herman tambah murka dan melampiaskan amarahnya pada pengawal Siska.
"Apa yang kalian lakukan? kenapa putriku sampai seperti ini? apa yang sudah terjadi dengannya?" paman Herman terus saja memukuli anak buahnya satu persatu. Paman Herman merasa pengawal putrinya tidak bisa menjaga Siska dengan baik.
"Sebenarnya tuan.." kepala pengawal pun menceritakan asmara nona mudanya kepada majikannya.
"Siapa lelaki itu dan bagaimana asal usulnya?" tanya paman Herman penasaran.
"Dia anak perantauan dan melanjutkan sekolah di sekolah nona" jelas pengawal tanpa rinci.
Paman Herman merasa khawatir dengan Siska. Takut jika putrinya salah pilih dan terluka nantinya. Paman Herman meminta pengawalnya untuk menyelidiki seluk beluk keluarga lelaki yang dimaksud. Paman Herman ingin tau apa yang membuat putrinya sampai tergila-gila dengan lelaki tersebut.
"Cepat cari informasi yang detail tentang lelaki itu! Semuanya harus jelas dan laporkan padaku segera!"
"Baik Bos!"
Pengawal itu pun pergi guna mencari informasi tentang Ilham. Paman Herman kembali ke kamar putrinya dan mencoba menyakinkan Siska jika semua baik baik saja. Paman Herman juga berjanji akan memenuhi semua keinginan putri nya, apapun itu termasuk mendapatkan lelaki yang diinginkan putrinya.
"Apa papa yakin dengan ucapan papa?"
__ADS_1
"Tentu sayang.."
Siska sangat senang dengan janji papanya. Dia pun membuka pintu dan memeluk papanya. Paman Herman mengajak putrinya keluar kamar. Semua pembantu yang dari tadi berdiri langsung masuk ke kamar nona mudanya dan segera membersihkannya.
"Ternyata nona muda sangat brutal jika marah. Lihat semua barang-barang mewahnya, hancur berantakan." ucap salah seorang pembantu.
"Jaga ucapan mu! Kalau sampai terdengar oleh tuan besar, bisa habis kamu!" tegur pembantu yang lain. Pembantu itu pun langsung menutup mulutnya dan tidak berkata apa-apa lagi. Mereka pun membersihkan kamar Siska tanpa komentar.
Siska mulai menceritakan ketertarikannya pada Ilham kepada papanya. Siska sangat antusias menceritakan siapa Ilham sebenarnya. Mendengar cerita Siska tentang kebaikan Ilham, membuat paman Herman yakin jika pilihan putrinya adalah yang terbaik. Namun semua sirna ketika Siska bilang jika Ilham sangat acuh pada putrinya apalagi tentang cerita hari ini.
"Kamu tidak usah khawatir sayang..papa pastikan semua akan baik-baik saja. Dan lelaki itu pasti akan memilihmu!" paman Herman meyakinkan putrinya agar tidak terlalu sedih. Paman Herman berjanji akan membuat putrinya mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Benarkah? Papa akan membantu Siska mendapatkan Kak Ilham?"tanya Siska. Paman Herman pun tersenyum dan mengangguk. Beliau merasa senang melihat putrinya kembali tersenyum.
๐ธ๐ธ๐ธ
Setelah pertemuan singkatnya tadi siang dengan Raya, Ilham menjadi tidak tenang di kamar kostnya. Dia masih kepikiran Raya. Ilham menyesal karena tidak sempat meminta nomor telpon Raya.
"Oh ya..Manda!" Ilham langsung ingat jika dia pernah meminta nomor telpon Manda dan menyimpannya. Dengan segera Ilham menghubungi nomor yang diberikan Manda pada waktu itu.
Berkali-kali Ilham menghubungi Manda, tapi tidak ada jawaban. Padahal nomor tersebut aktif.
"Mungkin lagi istirahat!" batin Ilham. Ilham pun mengirim chat WA pada nomor tersebut untuk memperkenalkan dirinya. Karena merasa tidak ada balasan, Ilham pun hanya bisa menunggu.
Sepulang dari acara jalan-jalan mencari buku membuat Raya sangat lelah. Setelah melakukan kewajibannya, Raya langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya.
Setelah kepergian orang tuanya ke kampung tadi pagi, Raya merasa kesepian di rumah. Raya sudah meminta Lily atau Manda untuk menemani, tapi hari ini mereka ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Dan Raya juga kurang berkenan jika tinggal di rumah kedua sahabatnya itu.
Raya merasa rumahnya sangat sepi, padahal ada bik Asih dan pak Harun yang menemani. Sosok yang selalu mengganggu mamanya pun tidak menampakkan diri. Kenapa penampakan itu hanya muncul saat mama Rossy ada. Namun saat bertemu Raya langsung menghilang. Pikir Raya.
Raya pun terlelap dalam lelahnya..
__ADS_1