
Pertemuan itu memakan waktu hingga tiga jam. Padahal urusan petinggi kerajaan, kenapa harus melibatkan Bayu dan Agus yang sama sekali tidak penting untuk kondisi kerajaan. Bukankan kehadiran mereka hanya untuk memperbaiki keturunan saja?
Setelah acara selesai, Bayu dan Agus kembali ke kamarnya masing-masing. Begitu hendak masuk ke dalam kamar, Bayu menghentikan adiknya. Agus pun terkejut kenapa kakaknya menariknya secara terpaksa.
"Ada apa mas?" tanya Agus heran.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan yang cantik?" Bayu semakin penasaran dengan Agus. Apakah Agus sebelumnya sudah curi perhatian dari tuan putri yang satu itu?
"Mana aku tahu mas? aku bertemu dengannya saja saat pernikahan kita. Lagipula saat itu aku juga tidak bisa melihat wajahnya" Agus pun sedikit berbohong. Memang benar Agus tidak tahu jika Sofia adalah tuan putri, tapi siapa sangka jika Agus sudah bertemu Sofia sehari sebelum pernikahan.
"Lagipula dari info para dayang, istriku itu tidak pernah keluar dari kamar. Jadi jarang ada yang melihatnya." lanjut Agus membuat Bayu sudah tenang. Berarti memang bukan Agus yang memilihnya.
Bayu meninggalkan Agus dan kembali ke kamarnya. Agus tidak menyangka hanya karena wanita, kakaknya bisa berbuat kasar terhadapnya.
"Ingatlah saat bersama dulu mas, bahkan kamu rela membuang wanita yang kamu suka demi diriku." sesal Agus melihat kakaknya yang semakin jauh darinya.
"Kamu gapapa?" tanya Sofia begitu melihat wajah Agus yang ditekuk.
"Aku baik baik saja!" jawab Agus datar.
"Oh ya.. Apakah dunia manusia sangat bagus?" tanya Sofia.Agus sangat heran dengan pertanyaan istrinya. Apakah Sofia penasaran dengan dunia manusia?
"Kalau memang begitu, pasti dia bisa membawaku kesana. Aku bisa kembali ke alamku dan meninggalkan tempat ini melalui Sofia." batin Agus berbunga-bunga. Disaat dia sudah tidak punya harapan untuk bisa kembali ke dunianya, sekarang seakan mempunyai titik harapan lagi untuk bisa kembali bersama manusia normal lainnya.
Agus tersenyum pada istrinya. Dia sudah mempunyai siasat untuk meyakinkan istrinya agar bisa membawanya keluar ke dunia manusia.
__ADS_1
"Disana hampir sama dengan disini. Hanya saja tidak monoton seperti disini yang hanya dikamar, bertemu keluarga di aula, balik lagi ke kamar... Kalau di duniaku, apapun bisa kita lakukan dengan bebas." Akhirnya Agus hanya bisa membohongi istrinya. Bebas yang bagaimana di dunia manusia? yang ada hanya bikin emosi saja! Agus terkekeh sendiri.
"Hanya saja aku tidak bisa membawamu kesana!" Agus pun memasang wajah sedih.
"Kenapa?" tanya Sofia semakin penasaran.
"Karena aku gak tau caranya keluar dari sini!" Agus tersenyum kecut menyadari jika dia tidak bisa berbuat apapun di dunia iblis ini. Sofia pun berpikir, bagaimana sang raja bisa leluasa keluar masuk dunia manusia? Apakah kakaknya punya cara? atau memang karena ilmunya sudah tinggi?
"Kamu kenapa?" tanya Agus melihat istrinya diam seolah memikirkan sesuatu. Sofia masih terdiam seakan tidak mendengar ucapan suaminya, hingga Agus menepuk pundaknya sampai membuat Sofia meloncat kaget.
"Kamu kenapa?" tanya Agus lagi.
"Tidak apa! aku hanya berpikir bagaimana kakakku bisa keluar masuk ke dunia manusia dengan mudahnya. Bahkan bisa membawa kalian ikut serta." Sofia masih berandai andai bagaimana cara kakaknya bisa memindahkan manusia ini untuk masuk ke dunia iblis.
Agus merasa senang karena istrinya sudah tergugah dengan rasa penasarannya terhadap manusia. Mungkin nasibnya akan berubah dan tidak terkekang hidup di dunia iblis meskipun di sini semua bisa dia dapatkan sesuai keinginannya.
Apa yang dialami Sofia ternyata tidak sama dengan yang dialami Lusia. Sejak Bayu sudah menancapkan juniornya ke dalam gua lembab miliknya justru membuat Lusia ingin selalu melakukannya lagi dan lagi. Bayu merasa senang karena bisa menaklukkan batu yang keras.
Sejak saat itu, Bayu sudah tidak ada kesempatan keluar kamar lagi kecuali ada pertemuan keluarga di aula. Apalagi bersenang-senang dengan para dayang pilihannya. Lusia terus saja meminta Bayu melakukan hal itu terus menerus sepanjang waktu. Bahkan memakai sehelai kain pun Bayu sudah tidak punya kesempatan.
Waktu istirahat nya hanya bisa dia gunakan untuk makan agar menambah stamina dan juga tidur meskipun hanya sebentar saja.Sedangkan Lusia, bukannya lelah malah semakin bersemangat.
Siska yang selama ini hanya diam saja di dalam kamar, akhirnya merasakan kejenuhan. Entah kenapa dia mulai kangen dengan papanya. Biasanya dia selalu bermanja-manja dengan sang papa, kini dia merasa sendiri dan harus menjaga anak anaknya yang berjumlah enam itu.
"Aku ini manusia apa kucing? melahirkan enam anak dengan begitu santainya." Siska memaksakan senyumnya. Dia kembali memandang keenam anaknya di ranjang panjang. Tiga diantaranya mirip manusia, tiga lainnya entah seperti apa. Siska sendiri tidak bisa menyebutkannya.
__ADS_1
Kini Siska merasa sendiri karena sang raja sibuk dengan urusan kerajaan. Para dayang membantu merawat semua kebutuhan bayi, Siska hanya menunggunya saja. Dan jika ada apa apa, Siska hanya teriak dan dayang yang mengurusnya.
Sesuai keinginan raja yang tidak ingin membuat Siska kelelahan jika harus mengurus keenam anaknya itu. Jadi sang raja hanya meminta Siska untuk melihatnya saja. Siapa sangka kegiatan tersebut justru membuat Siska bosan.
Seketika Siska teringan dengan kedua pamannya yang sudah resmi menjadi menantu kerajaan sama sepertinya. Siska pun meminta pelayannya untuk meminta ijin pada sang raja agar bisa bertemu dengan pamannya tersebut.
Sang raja tidak menolak, hanya saja Siska harus mendapatkan pengawalan ketat. Siska tidak mempermasalahkannya, karena baginya bisa bertemu dengan pamannya saja itu sudah cukup.
Setelah mendapat ijin dari sang raja, dengan dikawal delapan orang di sekelilingnya,Siska berhasil menemui Agus . Siska ingin bicara berdua dengan Agus tanpa ada Sofia. Sofia ternyata memahami setelah tahu jika di dunia manusia ternyata mereka adalah saudara. Siska pergi ke ruang baca dan membiarkan suaminya ngobrol berdua dengan permaisuri.
"Kamu apa kabar Siska? maafkan paman! Ini semua salah paman!" Agus menyesali semua yang sudah dia lakukan terhadap Siska.
"Sebenarnya aku tidak masalah karena disini aku diperlakukan dengan baik. Hanya saja aku masih penasaran kenapa paman tidak akur dengan papa?" tanya Siska ingin tau seperti apa hubungan kedua pamannya dengan papanya sebenarnya.
Agus pun menceritakan pengalamannya dan keluarganya saat di kampung dulu. Hingga mereka pindah ke kota sampai terkuak semua kebohongan Herman saat itu.
"Jadi ini semua karena ulah papa?" tanya Siska yang mulai mengerti.
"Iya.."jawab Agus singkat.
Tapi aku tidak mati itu sungguh baik..Selama ini aku juga tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya karena papa selalu mengelak jika aku bertanya tentang keluarga. Bahkan mungkin tidak akan tahu jika masih punya paman kalau bukan paman sendiri yang waktu itu mengatakannya." jelas Siska.
"Apa kamu akan selamanya tinggal disini?" tanya Agus memberanikan diri. Melihat wajah Siska yang sepertinya bahagia, Agus menyimpulkan jika sepertinya Siska betah tinggal disini.
"Aku ingin pulang paman.."
__ADS_1