Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 61(Herman murka)


__ADS_3

Kyai Arifin dan ketiga adiknya kewalahan menahan ruh nya Sastro. Sastro memberontak ingin melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya. Kyai Arifin mencoba menenangkan Sastro, tetapi Sastro memiliki kemampuan untuk menghindar.


"Bagaimana ini mas?" adik kyai Arifin yang bernama Gus Ipul sudah hampir kehabisan tenaga dalamnya.


"Kita belum mendapat informasi apapun darinya." tegas kyai Arifin.


Kyai Arifin sengaja menarik Sastro ke kediamannya agar bisa menguak informasi lebih banyak tentangnya atas permohonan Raya. Namun sepertinya semua di luar dugaan. Sastro memiliki banyak kelebihan dan bukan makhluk sembarangan seperti hantu penasaran pada umumnya.


Namun bukan kyai Arifin namanya jika tidak bisa menaklukkan makhluk itu. Dengan segala upaya, Sastro dibuat tak berdaya oleh kyai Arifin dan ketiga adiknya tersebut.


"Aku menyerah!" suara berat Sastro pun membuat kyai Arifin dan ketiga adiknya menghembuskan napas lega.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di suatu tempat..


"Pergi! menjauh dariku! Siapa kamu?" Siska terus meronta. Tak ada siapapun yang bisa dimintai tolong.


"Papa..." Siska menangis memanggil nama papanya. Namun sepertinya bayangan hitam itu semakin mendekatinya. Siska sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ketakutan setengah mati.


"Ayo ikutlah dengan papa.."


"Kamu bukan papaku! Pergi menjauh dariku!" Siska terus berteriak memanggil nama papanya. Siska menyadari jika yang dihadapannya bukanlah papanya karena memang suaranya berbeda meskipun bentuknya sama.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


"Kita tidak bisa tinggal diam. Mas Herman harus merasakan sakit hati kita. Selama ini kita hanya dijadikan alat untuk keuntungannya sendiri. Lalu kita dapat apa?" Bayu semakin geram dengan kakak pertamanya itu.


" Biar saja dia ikut merasakan betapa sakitnya kehilangan. Selama ini aku bahkan sudah membunuh hatiku sendiri untuk tidak menyukai wanita. Ternyata semua itu hanya tipuan kakak kita."Agus mengingat semua wanita yang pernah dekat dengannya dan akhirnya hanya berakhir di meja sesembahan. Meskipun dia bilang sudah membunuh hatinya, kedatangan Rossy saat di kampung halamannya waktu itu masih bisa mengobrak Abrik jiwanya. Agus tersenyum sendiri.


Malam ini adalah saatnya memuja leluhur. Agus dan Bayu sangat bahagia karena merasa tidak perlu lagi membujuk wanita untuk mereka jadikan sesembahan. Karena ternyata darah keturunan mereka masih ada yang berjenis kelamin perempuan. Tak butuh waktu lama, Agus dan Bayu sudah menyiapkan segala keperluannya untuk sesembahan nanti tepat tengah malam. Mereka merasa lega dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sambil menunggu waktunya tiba.


Sementara itu, Herman menjadi panik karena putrinya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Herman segera membawanya ke rumah sakit, dokter pun menyatakan jika Siska dalam keadaan koma.


Herman tidak terima. Bagaimana mungkin putrinya bisa koma, padahal tidak terjadi sesuatu padanya. Ya benar, sesaat sebelumnya Siska hanya berpamitan untuk istirahat. Dan setelah itu tidak bisa dibangunkan sekalipun Herman mengguncang tubuh anaknya itu. Siska seperti orang mati, tetapi jantung dan nadinya masih berdetak. Begitu juga dengan napasnya yang masih berhembus.


Herman terlihat kacau, dia pun teriak memanggil nama putrinya dari luar pintu NICU.


Di saat yang bersamaan, Sigit dan Raya sedang mengantar Rossy untuk cek up di rumah sakit yang sama. Sigit menjadi penasaran dengan orang yang berteriak itu, sehingga dia ingin memastikan ada apa sebenarnya dengan bertanya pada suster yang sedang lewat.


"Putrinya koma padahal tidak mengalami kecelakaan atau suatu penyakit apapun." cerita dari suster tersebut.


"Kamu..Ini semua gara gara kamu!" Herman Langsung mencengkeram kerah kemeja yang dipakai Sigit. Raya dan mamanya sangat kaget. Raya pun mengajak mamanya menepi.


Tak ada gerakan dari anak buah Herman. Mereka hanya diam melihat saja, begitu juga dengan pengunjung rumah sakit lainnya. Tak ada yang berani melerai mereka. Meskipun mereka sudah membuat kegaduhan disana karena teriakan dari Herman.


"Apa maksudmu? dan apa hubungannya denganku?" Sigit pun berusaha melepas cengkeraman Herman. Sigit tetap sabar tanpa melawan.


"Karena kamu, kedua adikku memberontak. Dan sekarang, bahkan putriku sendiri yang jadi korban." Herman tidak melepaskan cengkeramannya. Sigit tida memberontak, karena dia tahu jika Herman dalam kondisi sedang kacau.


"Ini semua salahmu sendiri. Kamu yang tidak pernah jujur pada mereka. Dan sekarang mereka memberontak, apa hubungannya denganku? bahkan mengganggumu saja aku tidak pernah. Justru kamu yang sudah mengelabuhi kedua adikmu untuk memusuhiku." Ucapan Sigit langsung mengena di hati Herman. Tak lama kemudian Herman melepaskan cengkeramannya. Sigit merapikan kemejanya dan segera pergi meninggalkan Herman yang terduduk di lantai.

__ADS_1


Sigit segera menghampiri istri dan anaknya, kemudian bergegas menemui dokter untuk melakukan cek up pada Rossy.


Herman dibantu anak buahnya berdiri dan kembali ke depan kamar NICU. Herman terus merenungi nasib putrinya. Tiba-tiba dia pun bangkit dan memanggil anak buahnya.


Herman meminta kepala pengawal membagi tugas. Beberapa orang menjaga di luar ruang rawat. Yang lainnya mengikuti Herman ke suatu tempat.


Ya..malam ini juga, Herman akan membuat perhitungan dengan kedua adiknya. Herman akan meminta pertanggungjawaban kedua adiknya itu. Apa yang sudah terjadi pada Siska putrinya, pasti adalah ulah Bayu dan Agus.


Butuh waktu dua jam untuk sampai di rumah Bayu dan Agus. Selama ini Bayu dan Agus menempati salah satu villa milik Herman yang lokasinya di pinggiran kota. Tempat itu sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Bayu dan Agus sengaja menggunakan villa tersebut untuk melakukan ritualnya setiap bulan purnama. Namun di kota, Bayu dan Agus juga punya tempat tinggal yang tidak diketahui Herman kakaknya.


Setelah tiba di Villa, Herman langsung meminta anak buahnya untuk mendobrak pintu, dan alhasil pintu pun roboh oleh dua pengawalnya yang bertubuh kekar.


"Agus, Bayu..Dimana kalian? cepat keluar!" Herman terus teriak memanggil nama kedua adiknya itu.


Sementara itu di kamar, Bayu dan Agus yang mendengar kegaduhan di lantai bawah langsung bergegas turun setelah mendengar suara kakaknya memanggil mereka. Agus sedikit ketakutan, tetapi tidak dengan Bayu.


"Kenapa bikin rusuh disini mas?" tanya Bayu dengan polosnya seakan tidak tahu dengan masalah kakaknya itu.


"Apa yang sudah kalian lakukan pada putriku?" Herman tampak marah dan ingin mencabik-cabik sesuatu.


"Memangnya apalagi yang bisa kami lakukan disini? Kami hanya menurutimu melakukan ritual seperti biasanya. "Jawab Bayu, . sementara Agus hanya diam berdiri di samping Bayu.


"Hentikan semuanya! Cari wanita lain sebagai gantinya!" perintah Herman.


"Maaf mas tidak bisa! Semua sudah terjadi. Lagipula sudah tidak dapat diganggu gugat." Bayu masih dengan pendiriannya. Herman pun mengerahkan anak buahnya untuk mengobrak abrik semua yang ada di Villa tersebut.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa seperti ini mas! Kalau malam ini gagal, kita yang akan binasa sebagai gantinya!"


__ADS_2