
"Paman.. berhentilah mengganggu keluarga Bisri, mereka tidak bersalah. Aku mohon dengan sangat padamu paman!" Ali memohon pada pamannya agar memaafkan keluarga Bisri.
"Ada apa denganmu Ali? ini sudah menjadi takdir keluarga kita. Jika bukan kita yang memusnahkan mereka, maka suatu hari nanti merekalah yang akan memusnahkan kita!" ucap paman Agus pada Ali.
Agus, paman Ali dan saudara-saudara nya yang masih hidup tetap berkeyakinan jika suatu saat mereka akan dimusnahkan oleh salah seorang keluarga Bisri dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya.
Sampai saat ini keluarga Hambali belum ada yang tau jika Raya telah memiliki kekuatan Indra ke enam. Hanya nenek Sari dan orang tua Raya lah yang mengetahuinya,namun mereka juga tidak menceritakan kepada siapapun.
Raya pun tidak begitu yakin dengan kekuatan yang dimilikinya karena dia tidak pernah sekalipun mengasah kemampuannya. Hanya saja sesekali Raya bisa tau keberadaan mahluk halus di sekitarnya.
"Tapi keluarga Bisri hanya tinggal pak Sigit dan putrinya saja paman. Lagipula pak Sigit sudah menghapus semua dendam diantara keluarga kita." kata Ali meyakinkan pamannya.
"Kamu belum tau yang sebenarnya Ali. Itu hanya tipu muslihat Sigit untuk menyempurnakan kekuatannya. Setelah dia merasa cukup kuat, maka dia tidak akan segan untuk menghancurkan kita!" Agus tetap bersikukuh mempercayai ucapan leluhurnya, jika suatu hati nanti akan ada keluarga Bisri yang akan menaklukannya.
Jadi, untuk menghindari semua itu Agus dan saudara lainnya tetap membatasi diri dan mengumpulkan tenaga jika sewaktu-waktu ada serangan dari keluarga Bisri.
" Jangan terkecoh dengan sikapnya Ali! percayalah jika Sigit tidak sebaik yang kamu lihat! buktinya, dia sudah mengambil Rossi dariku!" ucap Agus lagi.
Ali jadi dilema. Apa yang dikatakan pamannya ada benarnya juga. Ali tidak tau kisah sebenarnya, jadi dia ragu harus percaya pada siapa?
Pada saat yang bersamaan, paman Ali yang lainnya pun ikut masuk ke dalam mimpi Agus dan bersitegang dengan Ali. Semua pamannya tidak mengerti dengan tindakan Ali yang seolah-olah membela Sigit. Padahal sudah jelas bagi mereka jika Sigit adalah keluarga Bisri yang siap kapan saja bisa memusnahkan mereka.
"Kamu jangan terlena Ali. Jangan mengikuti jejak ayahmu yang ingin memisahkan diri dengan kami. Ketahuilah! semua yang dilakukannya hanyalah sia sia. Apa kamu ingin bernasib sama seperti ayahmu yang mati sia sia sebelum membalaskan dendam keluarga kita?" kata paman Ali yang lainnya. Mereka pun memojokkan Ali.
__ADS_1
Ali semakin berpikir, semua yang dikatakan pamannya sangat bertolak belakang dengan apa yang telah terjadi terhadap ayahnya. Ali tau pasti jika ayahnya mengalami penderitaan selama ini karena sempat lalai dengan ritualnya. Bukan karena ingin meninggalkan pamannya. Ali semakin dilema.
Ali pun mengakhiri komunikasinya bersama paman pamannya. Ali akan memikirkan cara bagaimana supaya tidak terjadi kericuhan di kampungnya. Seperti yang sudah digembar-gemborkan warga, jika ada keluarga Bisri yang datang maka akan terjadi bencana di kampung tersebut.
"Mas.. Sepertinya Ali akan jadi ancaman bagi keluarga kita." ucap Agus pada kakaknya.
"Kamu tidak usah khawatir, kita akan tetap mengawasi Ali dari tempat kita masing masing." Jawab kakaknya Agus.
Saat ini Agus dan saudara saudaranya masih ada kesibukan di kota. Meskipun mereka tahu jika Sigit sudah berada di kampung nya, namun mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk kembali ke kampung tersebut. Namun mereka yakin jika hasutan yang diberikan pada warga kampung pasti bisa mengusir Sigit dari kampung tersebut.
Namun mereka tidak tau kebenarannya, jika saat ini Sigit ada dalam lindungan kyai Arifin tetua terpandang di kampungnya.
🌸🌸🌸
Setelah membersihkan diri dengan dibantu mama Rossi, Raya dan yang lainnya melaksanakan sholat subuh berjamaah. Mereka di imami oleh istri kyai Arifin. Setelah sholat berjamaah, tentu saja Raya, mama Rossi, Lily dan Manda menunggu papa Sigit untuk pulang ke rumah nenek Sari.
"Assalamualaikum sayang.. bagaimana kabar kamu?" tanya papa Sigit pada Raya.
"Waalaikumsalam papa.. Alhamdulillah Raya baik baik saja." jawab Raya.
Papa Sigit pun menghampiri Raya dan memeluknya. Mereka melepas kangen berdua. Raya memeluk papanya dengan erat, dia pun menangis.
"Papa..nenek.." ucap Raya sambil menangis.
__ADS_1
"Iya sayang..papa sudah tau. Sekarang jika kamu sudah baikan sebaiknya Raya cerita pada kami ada kejadian apa sampai sampai Raya berada di dalam hutan belantara?" tanya papa Sigit lagi.
"Sebenarnya..."Raya menceritakan semua kejadian yang dialaminya waktu itu. Mulai dari bertemu Nina sampai melihat hantu nenek yang membuatnya ketakutan. Papa Sigit dan kyai Arifin mendengarkan dengan seksama.
"Jadi siapa yang telah menyelamatkan ku kemarin?" tanya Raya penasaran siapa yang telah mengetahui keberadaannya di dalam hutan belantara.
"Ali!" jawab papa Sigit. Raya merasa senang karena lagi lagi Ali menyelamatkannya. Raya pun tersenyum.
"Lalu dimana bang Ali sekarang? kenapa bang Ali tidak kelihatan?" tanya Raya lagi.
"Dia langsung pulang setelah membawamu kemari. Sepertinya Ali kelelahan, makanya dia langsung pamit pulang karena ingin istirahat." jawab kyai Arifin.
Raya pun mengerti, dia sudah paham dengan sikap Ali. Pasti Ali malu bertemu dengan orang tuanya. Nanti Raya akan mengunjungi Ali jika sudah baikan.Pikir Raya.
Kyai Arifin pun menceritakan kejadian hilangnya nenek Sari beberapa tahun yang lalu. Tidak ada yang tau dimana keberadaan beliau. Nenek Sari menghilang secara misterius. Kalaupun nenek Sari meninggal seperti yang diceritakan Raya barusan, dimana makam nenek Sari pun tidak ada yang tau.
"Tapi saya tau dimana nenek dikuburkan!" jawab Raya memecahkan misteri hilangnya nenek Sari. Semua yang ada di sana menjadi terkejut. Raya memang menceritakan kejadian meninggalnya nenek Sari hingga arwahnya dikejar Raya sampai ke hutan. Ternyata Raya tidak sepenuhnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bahwa dia lah yang dikejar arwah nenek Sari yang ternyata adalah jin yang ingin menyesatkannya.
"Dimana makam nenek sayang?" tanya papa Sigit penasaran.
" Ada di halaman belakang rumah nenek. Sebaiknya kita pindahkan makam nenek ke pemakaman umum Pa.. Kasihan nenek sendirian di sana"ucap Raya merasa iba mengingat kembali neneknya yang dimakamkan secara tidak wajar oleh ayahnya Ali. Namun Raya tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada siapapun.
"Kalau begitu bagaimana jika kita ke sana kyai, untuk memastikannya." usul papa Sigit. Kyai Arifin pun setuju.
__ADS_1
Kini mereka semua kembali ke rumah nenek Sari. Termasuk orang-orang yang dari tadi pagi sudah setia berada di luar rumah kyai Arifin. Mereka masih penasaran dengan kisah nenek Sari yang telah hilang beberapa tahun yang lalu.
Sampai di rumah nenek Sari, Raya langsung menunjukkan gundukan tanah tempat neneknya dimakamkan. Semua orang yang mengetahuinya sangat tertegun dibuatnya. Gundukan tanah yang dikira hanya gundukan tanah biasa ternyata adalah tempat tinggal nenek Sari setelah diperkirakan hilang oleh warga.