Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 96 ( sesuatu)


__ADS_3

Lily dan Manda masih berjaga dengan tongkat ditangannya masing-masing. Raya juga masih mengarahkan kamera ponselnya ke arah pintu yang seakan mau didobrak dari luar. Goyangan gagang pintu sudah semakin melambat hingga terdengar panggilan dari luar.


"Lily...sayang..ada apa nak?" suara mama Lily terdengar oleh mereka bertiga. Lily, Raya dan Manda saling berpandangan. Antara percaya dan tidak, itu beneran mama Lily atau bukan.


"Siapa?" Lily memberanikan diri berkomunikasi dengan seseorang di luar kamar yang mengaku mamanya.


"Ini mama nak.." sekali lagi ucapan mama Lily sangat meyakinkan.


"Buka saja." ucap Ali membuat Lily berani tapi tetap menggandeng Raya dan Manda.


Lily memberanikan diri memegang gagang pintu yang sudah tidak bergerak dan membuka kunci pintunya. Perlahan dia membuka pintu dan mendapati mamanya sedang cemas di sana.


"Kamu gapapa? kenapa membawa tongkat segala?" tanya mama Lily heran.


"Tidak ada apa apa ma...tadi ada kecoak terbang jadi kami berjaga-jaga saja." Lily pun meringis membuat mamanya tidak khawatir lagi.


"Mama kira ada apa? tadi berisik sekali di dalam kamar kamu, makanya mama kesini. Mana papa gak mau nemenin lagi, kan mama jadi khawatir.." ucap mama Lily lagi, membuat Lily dan yang lainnya terkejut tapi berusaha santai.


"Kami baik baik saja kok ma..Bisa kami atasi sendiri." jawab Lily meyakinkan mamanya.


"Ya sudah..Kalian lanjut istirahat! masih malam..."


"Iya ma..."


Mama Lily meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya. Raya, Lily dan Manda kembali berpandangan dengan heran. Bukankah yang gaduh tadi berasal dari luar kamar? kenapa mamanya Lily justru bilang dari dalam kamar?


Karena situasi sudah tenang, mereka pun memutuskan menuju dapur untuk mengambil kamera yang mereka sembunyikan di dekat pot bunga. Namun saat hendak mengambil kamera tersebut, mbak Dwi langsung muncul dan mengejutkan mereka.


"Mbak Dwi..kenapa selalu bikin kaget saja?" Lily memang terlihat panik saat melihat mbak Dwi. Untung saja belum menyentuh kameranya.


"Ada apa non rame rame gini di dapur?" tanya mbak Dwi polos.

__ADS_1


"Kami kelaparan, jadi mau bikin mie instan." ucap Lily asal.


"Biar saya bantu non.." ucap mbak Dwi langsung mengambil mie instan di laci rak piring.


Tidak ada yang aneh dengan mbak Dwi. Dia memasak mie, sementara mereka bertiga duduk di meja makan sambil memperhatikannya dan juga melihat ke arah kamera yang sepertinya masih aman karena posisinya tidak berubah. Semoga mbak Dwi tidak menyadarinya.


Setelah mie siap, mbak Dwi segera memberikannya kepada mereka dan langsung pamit kembali ke kamarnya. Merasa ada kesempatan, Lily langsung berdiri dan segera mengambil kameranya. Mereka bertiga pun langsung membawa makanannya ke kamar.


"Hampir saja!' ucap mereka hampir bersamaan.


Mereka meletakkan makanannya di meja tanpa ada begitu saja. Mereka hanya penasaran dengan apa yang terekam di kamera.


Lily menyimpan hasil rekaman sebelum memutarnya. Setelah siap dia memutar hasil rekaman di dapur.


Tak ada yang aneh saat mereka bertiga membereskan sisa makan malam tadi. Hingga beberapa lama suasana sunyi. Tiba-tiba ada bayangan hitam seperti mengendap-endap di dapur. Lampu dapur mati, jadi tidak terekam jelas di kamera.


"Hadeww...aku lupa tidak menyalakan infrared nya. Gelap kan jadinya?" Lily menyesali perbuatannya yang lalai karena tadi memang gugup, takut ketahuan sebelum bertindak.


"Lihat..dia melakukannya di tempat yang sama seperti kemarin." tunjuk Raya pada sosok di kamera. Lily dan Manda lebih fokus lagi.


Raya yang bisa melihat makhluk lain semakin heran dengan yang ada di rekaman. Bayangan itu bukanlah milik mbak Dwi, itu adalah sosok yang lain.


"Tapi dia sepertinya perempuan. Rambutnya panjang, itu seperti mbak Dwi." Lily menyangkal ucapan Raya yang mengatakan jika itu bukanlah mbak Dwi.


Mereka terus mengamati dengan seksama. Dan tiba-tiba bayangan hitam yang dikira mbak Dwi itu langsung melihat ke kamera dan secepat kilat mendekat.


"Aaakkhhhhh....." Raya, Lily dan Manda langsung berteriak barengan. Wajah hancur makhluk itu tepat di depan kamera dan sedang tersenyum menakutkan.


Lily yang memegang kamera tentu saja langsung melempar kameranya karena terkejut. Mereka bertiga saling berpelukan karena ketakutan. Mereka masih pada tempatnya dengan tubuh gemetar.


"Cepat ambil tongkat kalian untuk berjaga-jaga. Sepertinya dia bukan makhluk biasa." perintah Ali yang masih terhubung di ponsel Raya.

__ADS_1


"Aduhh....tongkat baseball nya ketinggalan di dapur." ucap Manda merutuki kesalahannya.


"Gak ada benda lain lagi di kamarku." ucap Lily yang memang terlihat jika kamarnya hanya berisi ranjang, lemari dan meja rias. Bahkan meja belajar saja tidak ada karena Lily meletakkan tas dan buku sekolahnya di dalam lemari bagian bawah.


"Pinjam ikat pinggang kamu!" Raya segera beranjak karena Lily menunjukkan ikat pinggangnya yang digantung di pintu.


"Apa yang kita lakukan selanjutnya bang?" tanya Raya meminta pendapat Ali.


Sebelum terjawab oleh Ali, gagang pintu kembali bergerak dengan cepat seakan seseorang hendak membuka pintu dengan paksa. Raya yang masih di depan pintu tentu saja langsung menyusul Lily dan Manda di ranjang. Mereka kembali tegang mengalami kejadian itu lagi.


"Telpon mama kamu Ly.." usul Manda. Lily segera mengambil ponselnya dan menelpon mamanya tapi tidak tersambung. Begitu juga ponsel papanya yang ternyata malah tidak aktif.


"Bagaimana ini?" mereka bertiga semakin gelisah. Kamera yang dilempar Lily ikutan bergetar seakan ada sesuatu yang mengguncangnya. Mereka semakin ketakutan.


"Baca ayat kursi!" Raya hampir saja lupa jika berurusan dengan hal begitu harus dikembalikan ke pemiliknya. Mereka bertiga membaca ayat kursi sebisanya. Saking takutnya Lily berkali-kali salah menghafal. Raya masih terus berkonsentrasi membaca ayat kursi begitu juga dengan Manda.


Tak berapa lama suara gaduh tadi menghilang. Raya dan yang lainnya bernapas lega dan mengucap syukur. Adzan subuh berkumandang, menambah kelegaan di hati mereka bertiga.


"Apakah semua sudah aman?" Manda masih khawatir.


"Sudah pagi, kita sudah aman." jawab Raya.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Manda lagi.


"Apa kita ceritakan semua ini ke orangtuaku?" tanya Lily meminta pendapat kedua temannya.


"Bagaimana bang?" Raya meminta pendapat Ali tetapi tidak ada jawaban karena ternyata sambungan mereka terputus. Ternyata ponsel Raya lowbat. Raya segera mencharge ponselnya.


Karena masih penasaran dengan hasil rekaman, Lily mengambil kembali kameranya dan ingin memutar ulang hasil rekaman. Namun belum memulai, ajakan Raya untuk melaksanakan sholat subuh membuat Lily terkejut dan melempar kembali kameranya. Kali ini bukan terlempar ke kasur tetapi malah jatuh ke lantai.


"Raya..." Lily dan Manda teriak barengan.

__ADS_1


"Kenapa?"


__ADS_2