Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 49(mimpi)


__ADS_3

Malam ini Raya terlelap begitu saja tanpa menyadari jika sampai saat ini papanya belum juga kembali.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Ibu.."


"Sudah kubilang jangan muncul lagi di sini! kenapa kamu tidak mendengarkan ku?"


"Aku takut sendirian Bu.. Aku butuh teman"


"Pergilah! cari teman di luaran sana! jangan di sini! majikan ku orang baik semua!"


"Ibu.."


"Pergi!"


Bik Asih mengusir anaknya yang sudah menjadi hantu itu. Setelah sekian lama dikabarkan menghilang.. tiba-tiba saja putra bik Asih yang bernama Sastro muncul dengan wujud hantu penasaran. Saat bik Asih bertanya dimana raganya, Sastro hanya menggelengkan kepalanya.


Beberapa waktu tinggal di rumah Raya, setelah keberadaannya dapat dilihat oleh mama Rossi, Sastro merasa gembira. Sastro seakan mendapatkan teman selain ibunya. Namun saat bertemu dengan Raya, Sastro merasa keberadaannya terancam.


Entah mengapa Sastro merasa takut yang luar biasa, seakan Raya bisa memusnahkannya kapan saja. Setelah cerita pada ibunya, Bik Asih merasa kasihan dan meminta Sastro agar pergi mencari jasadnya. Namun Sastro menolak dan memilih tetap tinggal di rumah Raya. Bik Asih tidak bisa berbuat apa-apa. Bik Asih hanya tidak ingin jika arwah putranya mengganggu majikannya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Papa..."


Raya terbangun dari mimpinya. Sungguh mimpi yang buruk menurutnya. Karena masih tengah malam, Raya menyempatkan diri untuk sholat malam. Saat hendak mengambil wudhu dan melewati kamar bik Asih, tak sengaja Raya mendengarkan pembicaraan bik Asih dan putranya yang memang sudah diketahuinya telah tiada. Raya tidak menyangka jika putra bik Asih gentayangan di rumahnya.


"Jadi selama ini bayangan yang sering muncul dan bisa kulihat itu anaknya bik Asih yang sudah meninggal? kenapa masih gentayangan? tidak tenang atau apa?"


Raya meninggalkan kamar bik Asih dan segera menyelesaikan kewajibannya. Mungkin besok saja dia meminta penjelasan pada bik Asih tentang ini semua. Itu pun jika bik Asih mau bercerita padanya. Setelah melakukan sholat malamnya, Raya kembali tidur karena esok hari dia harus sekolah.


Keesokan paginya..


Raya menikmati sarapan pagi hanya sendirian. Raya menyadari jika papanya belum kelihatan sejak kemarin hingga saat ini.

__ADS_1


"Bik..papa kemana?" tanya Raya masih mengunyah makanannya.


"Semalam bapak tidak pulang non!" jawab Bik Asih.


" Bibik sepertinya sedang bimbang, ada yang ingin diceritakan?" Raya memancing keinginan bik Asih agar bicara terlebih dahulu tanpa diminta cerita.


"Tidak ada non.." bik Asih mulai gugup.


Raya hanya tersenyum melihat tingkah bik Asih yang tampak bingung. Raya tak bertanya lagi, dia segera menyelesaikan sarapan nya dan bergegas berangkat ke sekolah.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sementara itu di kampung halaman...


"Rossi.. bagaimana keadaan kamu sekarang?sudah baikan?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik Bu Hajjah..Terimakasih atas perhatiannya"


Sudah dua hari mama Rossy tinggal di rumah kyai Arifin. Keadaan beliau pun sudah membaik. Karena merasa lebih baik, mama Rossy menyempatkan diri keluar halaman untuk menghirup udara segar pedesaan. Sejuk dan nyaman.


"Itu kan Bu Rossi, kenapa ada di sini lagi? apa Raya ada bersama beliau juga?" Ali berhenti sejenak dan memperhatikan mama Rossy dengan seksama. Ali pun menghampiri mama Rossy setelah yakin jika yang dilihatnya memang benar adanya.


"Bu Rossi kenapa ada di sini?" sapa Ali yang tiba-tiba sehingga membuat mama Rossy terperanjat kaget.


"Eh..Ali bikin kaget saja!"


"Maaf.."Ali pun mendekati mama Rossy dan mendengar cerita tentang keberadaan Mama Rossy di sana.


Namun Ali tak habis pikir kenapa mama Rossy kembali ke kampung ini setelah susah payah dirinya dan Raya menyelamatkan mama Rossy dari kedua pamannya itu.


"Kenapa Bu Rossi malah kembali ke sini? bukankah seharusnya anda berada di kota?" tanya Ali.


"Entahlah! sepertinya ada yang aneh di rumah itu. Saya merasa tidak nyaman."mama Rossy mengingat kembali kejadian di rumahnya yang ada di kota. Semua yang dialaminya di kota telah diceritakan pada Ali.


"Paman Agus dan paman Bayu telah kembali ke kota setelah kejadian waktu itu. Saya selalu mengecek apa yang mereka berdua lakukan. Sepertinya keberadaan makhluk itu bukan ulah kedua paman saya." jelas Ali.

__ADS_1


"Maksud kamu ada orang lain yang tidak suka dengan keluarga saya?" Mama Rossi jadi penasaran dengan perkataan Ali. Namun Ali hanya mengangkat bahunya.


Setelah berbincang cukup lama, Ali pun pamit. Ali sedikit kecewa karena Raya tidak bersama mama Rossy. Namun Ali yakin jika Raya baik baik saja di kota.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Malam pun tiba, Ali melakukan ritual ingin masuk ke dalam mimpi Raya. Entah kenapa tiba-tiba Ali begitu rindu dengannya. Lama mencoba, tapi Ali tidak berhasil masuk ke dalam mimpi Raya.


"Apa Raya masih terjaga? sudah selarut ini?" Ali melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 2 dinihari.


Karena tak bisa masuk ke dalam mimpi Raya, Ali pun menghentikan aktivitasnya. Kini dia merebahkan tubuhnya mencoba untuk istirahat. Namun Ali semakin tersadar. Dia tidak bisa tidur malam ini. Bayangan Raya terus saja mengganggunya. Ali semakin gelisah.


"Semoga kamu baik baik saja di sana Raya ." batin Ali.


Tak lama Ali pun tertidur. Ali merasa tengah berada di tanah lapang, tapi tak tau dimana keberadaan nya. Tiba-tiba bayangan seorang wanita mirip sekali dengan ibunya sudah berdiri tak jauh dari Ali.


Ali memandang wanita itu. Ali sangat rindu sekali, karena telah lama dia tidak pernah berjumpa. Ali ingat jika ibunya telah tiada saat dia masih kecil. Jadi, Ali tidak begitu yakin dengan sosok wanita yang ada di depannya tersebut.


Wanita itu tersenyum pada Ali. Tangannya diulurkan mengharap sambutan yang baik dari Ali, tapi Ali tidak menghiraukannya. Pandangan Ali tertuju pada wanita yang lebih muda berdiri tepat di belakang wanita tadi.


"Raya.." panggil Ali.


Merasa nama itu tertuju padanya, wanita muda itupun tersenyum dan mengulurkan tangannya. Ali pun bimbang, dia bingung harus memilih uluran tangan siapa?


Ali menundukkan kepalanya. Dia tidak mau memilih. Kedua wanita itu sangat berharga bagi nya. Kedua wanita itu pun memanggil nama Ali dan membuat Ali akhirnya menutup kedua telinganya..


"Ali..kembalilah!"


Ali membuka kedua matanya dan berusaha mencari suara berat yang memanggil namanya. Ali tersenyum


melihat ayahnya juga tersenyum dan memintanya untuk pergi.


Ali tak menghiraukan kedua wanita belahan jiwanya itu dan memilih pergi mengikuti ayahnya. Tak lama Ali sudah berada di sebuah kamar kosong.


Kosong..

__ADS_1


Karena tak ada apapun di sana atau siapapun. Ali mencoba berteriak minta tolong, tapi ruangan itu seakan tak ada pintu untuk jalur keluar masuk. Seolah olah hanya dirinya saja yang tengah berada di dalam.


__ADS_2