Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 97 (hilang)


__ADS_3

"Raya.." Lily dan Manda teriak barengan.


"Kenapa?" meskipun sedikit merasa bersalah, Raya pura pura tidak tahu apa apa. Dia kembali mengajak Lily dan Manda melaksanakan sholat subuh.


Dengan wajah cemberut, Lily dan Manda segera mengikuti Raya ke kamar mandi di dekat dapur untuk membersihkan diri karena akan melaksanakan kewajibannya. Mereka pun melupakan kameranya yang masih tergeletak di lantai.


Pagi pun tiba, karena hari Minggu.. Raya, Lily dan Manda memutuskan jalan jalan di taman kota. Mereka sudah melupakan kejadian semalam. Namun masih banyak pertanyaan yang melintas di kepala mereka masing-masing.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Manda pada Lily yang terlihat murung.


"Bisakah malam ini kalian menginap lagi di rumahku?" pinta Lily memohon pada Raya dan Manda.


"Maaf Ly sepertinya aku gak bisa. Aku sudah dua malam menginap, pasti orangtuaku khawatir." jawab Raya menolak. Lagipula besok sudah harus sekolah.


"Aku juga gak bisa Ly, gak banget deh di rumah kamu.." Manda gak mau cari resiko jika hanya berdua dengan Lily tanpa Raya.


"Trus..Bagaimana denganku malam ini?" Lily pun mulai khawatir.


"Ayo pulang, aku menginap di rumah kamu saja Ray.." Lily bergegas tanpa menunggu jawaban dari Raya dan Manda. Raya dan Manda hanya saling pandang dan mengikuti Lily pulang.


Sampai di rumah, Lily segera mengemasi pakaiannya termasuk seragam sekolah dan buku pelajaran.


"Kamu mau pindahan?" tanya Raya dan Manda hampir barengan karena terkejut melihat Lily memasukkan baju dan bukunya ke dalam koper.


"Iya..pindah ke rumah kamu. Kalau gak boleh aku mau ngekos saja!" Lily secepatnya memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


Mama Lily yang melihat anaknya berkemas tentu saja menjadi heran. Beliau langsung memanggil suaminya supaya mencegah kepergian Lily. Karena jika beliau sendiri yang bersuara pasti Lily tidak akan menghiraukannya.

__ADS_1


"Lily .kamu mau kemana dengan koper sebesar itu?" papa Lily pun langsung menanyai anaknya.


"Minggu ini aku banyak tugas sekolah pa.. Lagipula sebentar lagi mau ujian. Aku pasti pulang larut. Jadi selama seminggu mungkin aku akan menginap di rumah Raya karena tidak begitu jauh dari sekolah. Boleh ya pa? Daripada harus kemalaman pulang sekolahnya trus paginya harus sampai sekolah lagi." Lily pun memohon pada papanya dan melirik Raya agar membantunya meminta ijin.


"Benar om...Kami bisa mengerjakan tugas bersama-sama jadi bisa lebih ringan." Raya pun terpaksa berbohong pada papa Lily.


"Baiklah kalau begitu, tapi hanya satu Minggu saja ya?"


"Siap pa.." Lily senang sekali mendapat ijin dari papanya. Biasanya sulit sekali minta ijin papanya. Mungkin karena ada Raya dan Manda disana. Tapi tidak masalah bagi lily, yang penting baginya malam ini tidak mengalami hal buruk seperti semalam karena besok pagi dia harus sekolah.


Mereka bertiga pun pamit. Tak lupa Lily membawa kameranya. Syukurlah tidak rusak tapi entah di dalamnya.


Saat hendak keluar dari rumah Raya melihat ke arah mbak Dwi yang sedang berdiri di dapur sedang memperhatikan dengan kesal. Namun begitu tahu Raya sedang memperhatikannya juga, Mbak Dwi segera berpaling dan berpura-pura mencuci piring sambil melirik.


Raya masih merasa aneh dengan sikap mbak Dwi yang tidak seperti sebelumnya. Apa mungkin hanya perasaan Raya saja karena belum pernah tinggal di rumah Lily dengan waktu yang lama.


"Aku gak begitu akrab dengan mbak Dwi. Setahuku dia itu nurut banget. Jarang ngomong, kalau disuruh hanya bilang 'ya' dan 'baik', itu saja."jawab Lily.


"Memangnya selama ini gak terlihat sesuatu yang aneh dengan mbak Dwi?" tanya Raya penasaran.


"Aku jarang ngobrol dengan mbak Dwi. Hey lihat! rekaman semalam menghilang.." Lily berhasil membuka hasil rekaman semalam. Ternyata kameranya memang baik baik saja, tetapi rekaman yang menunjukkan makhluk aneh semalam sudah hilang dan sepertinya ada yang memotong hasil rekamannya.


"Kok bisa sih?" Raya sudah mematikan mesin mobilnya karena sudah sampai di halaman rumahnya. Dia mengambil kamera Lily dan mencoba memutar ulang rekaman semalam.


Ternyata rekaman makhluk aneh semalam memang hilang. Padahal hasil rekaman normal sampai Lily mengambil kameranya. Namun bagian munculnya bayangan mirip mbak Dwi dan sosok yang tiba-tiba muncul di depan kamera sudah tidak ada.


Mereka bertiga saling berpandangan dan mulai merasa ngeri. Raya dan yang lainnya segera masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya setelah mencuci tangan dan kaki masing-masing.

__ADS_1


Raya segera mengaktifkan layar komputernya untuk melihat lebih jelas hasil rekaman kamera Lily. Setelah diamati dengan cermat, bagian gambar yang semalam terekam memang sudah terhapus.


"Siapa yang menghapusnya? atau jangan-jangan memang tidak terekam sama sekali?" Lily merasakan keanehan pada kameranya.


"Itu memang seperti dihapus. Lihat durasi waktunya, sepertinya memang meloncat beberapa menit." Manda pun melihat waktu yang tercantum pada rekaman.


Mereka bertiga pun merasa heran tapi tidak menemukan solusi. Siapa memangnya yang sempat menghapus rekaman. Padahal posisi kamera masih tetap sama seperti semalam waktu jatuh sebelum diambil kembali oleh Lily tadi saat akan membawanya.


Kalau memang tidak terekam, bagaimana mungkin waktu di layar bisa meloncat tepat saat kejadian yang memunculkan sosok bayangan yang dikira mbak Dwi itu.


Raya sudah tidak bisa berpikir, apalagi Lily dan Manda. Mereka pun merebahkan tubuhnya berjajar di kasur milik Raya dan melihat langit langit kamar dengan pikirannya masing masing.


🪦🪦🪦


Sementara itu di rumah Lily...


Orangtua Lily sedang kondangan. Di rumah hanya ada mbak Dwi seorang. Dia sedang komat-kamit di dalam kamarnya. Seperti sedang melakukan ritual.


Ritual? Mbak Dwi sedang memanggil tuannya untuk melapor.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa mengurus satu orang saja tidak beres?" bentak sosok hitam gak jelas yang kini sudah berdiri di hadapan mbak Dwi. Mbak Dwi hanya menunduk tak berani memandang tuannya tersebut.


"Maafkan hamba, ini semua karena non Lily kedatangan teman temannya." Mbak Dwi hanya bisa membela diri. Jika alasannya kurang tepat, entah apa yang akan terjadi padanya setelah itu.


"Kamu harus secepatnya memberikan perempuan itu, jika tidak maka kamu yang harus menggantikannya. Hahaha....." Makhluk itu pun pergi meninggalkan Mbak Dwi. Mbak Dwi merasa lega karena terhindar dari marabahaya dari tuannya yang sudah membantunya melewati masa masa sulit dulu.


"Aku harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Begitu non Lily pulang, aku bisa langsung menjadikannya sesembahan bagi tuanku. Hehehe..." Mbak Dwi tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa yakin setelah ini pasti temannya Lily yaitu Raya dan Manda tidak akan berani lagi menginap di rumah Lily.

__ADS_1


Mbak Dwi segera mengemasi peralatan ritualnya dan menyembunyikannya di dalam almari. Mbak Dwi kembali membereskan pekerjaannya sambil menunggu tuan rumah pulang.


__ADS_2