Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 95 (rencana 2)


__ADS_3

Raya dan Lily segera kembali ke kamar. Mereka pun heran dengan kedatangan mbak Dwi yang tiba-tiba muncul tadi.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Raya ingin tau pendapat Lily tentang mbak Dwi.


"Tidak ada yang aneh, tapi apa benar yang kamu bilang tadi kalau mbak Dwi mulutnya banyak darah? Tapi disana juga tidak ada jejak apapun?" Raya memang tidak bisa meyakinkan Lily karena memang tidak punya bukti. Sementara Ali juga tidak bisa berbuat apapun karena tidak berada di lokasi kejadian secara langsung.


"Bagaimana bang?" Raya meminta pendapat Ali.


"Memang sulit untuk dijelaskan karena tidak ada bukti." Ali pun menyerah.


"Ya sudahlah! Kita pikirkan besok saja. Aku ingin lanjut tidur dulu." Lily kembali ke tempat tidurnya dengan Manda yang masih menikmati mimpi indahnya.


"Sebaiknya kamu juga istirahat, besok saja kita bahas lagi." Ali pun pamit dan mengakhiri panggilannya.


Raya ikut bergabung dengan Lily dan Manda. Namun dia tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih pada kejadian di dapur tadi. Semua jelas di matanya, tapi kenapa semua hilang saat dia dan Lily ingin memergokinya?


"Kenapa aku jadi penasaran seperti ini? aku rasa mbak Dwi sudah tahu jika aku melihatnya. Apakah dia akan mencari ku setelah ini?" Raya akhirnya bisa memejamkan matanya. Hari yang melelahkan baginya sampai menguras pikirannya.


Pagi pun tiba, semua berjalan seperti biasanya. Namun Raya memang merasakan aura yang tak lazim dari mbak Dwi. Jika sebelumnya mbak Dwi terlihat gugup saat bertemu Raya, kini mbak Dwi seakan memancarkan aura kebencian pada Raya.


"Kenapa mbak Dwi melihatmu seperti itu?" Manda yang melihat tatapan aneh mbak Dwi jadi penasaran dan berbisik pada Raya.


"Kenapa tidak kamu tanyakan padanya saja? aku juga penasaran kenapa dia melihatku seperti itu?" Raya sebenarnya juga ngeri melihat tatapan mbak Dwi, tapi apa yang bisa dia perbuat?


Setelah sarapan, orangtua Lily pamitan berangkat bekerja. Lily mengajak Raya dan Manda ke kebun belakang rumahnya.

__ADS_1


Manda sangat menikmati udara pagi saat itu. Suasana yang sejuk dan tenang jauh dari keramaian kendaraan membuat Manda menghirup udara dalam dalam. Namun berbeda dengan Raya yang merasakan keanehan dengan keheningan disana.


"Apakah suasana rumahmu memang seperti ini sebelumnya? Dulu saat aku berkunjung ke sini suasananya tidak begitu hening?" Raya memperhatikan kebun mini milik Lily yang ditanami banyak macam sayuran segar.


"Entahlah! Aku sudah jarang kesini. Tiap hari hanya sekolah dan masuk kamar. Kalau libur juga keluar rumah dan jalan dengan kalian." Lily memang tidak begitu peduli dengan keadaan rumahnya karena kesibukannya yang lain. Apalagi semua tugas rumah sudah diserahkan pada mbak Dwi , jadi lily tidak terlalu pusing dengan urusan rumah.


Saat asik mengobrol dan bercanda, tak sengaja Raya melihat mbak Dwi sedang memperhatikan mereka dari balik tirai jendela dapur. Saat aksinya diketahui Raya, mbak Dwi segera pergi.


"Kenapa aku jadi merinding ya begitu melihat mbak Dwi?" ucap Raya sedikit berbisik tapi masih bisa didengar Lily dan Manda. Mereka kemudian melihat ke arah dapur tapi tidak melihat siapapun disana karena mbak Dwi sudah pergi.


"Bagaimana kalau malam ini kita melakukan penyelidikan? kenapa di rumahmu tidak dipasang CCTV saja? kan jadi mudah untuk mengawasi?" saran Manda yang tiba-tiba membuat Lily dan Raya tercengang kemudian tertawa bersama.


"Kalian menertawakan ku?" Manda mulai sewot.


"Bukan seperti itu. Usul kamu sangat menakjubkan, kami hanya kagum saja." Lily sudah sangat paham dengan sikap Manda.


"Kalau pakai kamera biasa buat merekam bagaimana?" usul Lily karena dia teringat punya kamera tapi jarang digunakan.


Raya setuju dengan usul Lily. Apa salahnya jika mereka menggunakan untuk melihat kondisi malam ini tanpa harus keluar dari kamar. Mereka pun sepakat malam ini akan mencari informasi tentang yang dilakukan mbak Dwi. Sejenak mereka merupakan kehadiran makhluk halus yang seharusnya mereka selidiki.


Seharian mereka bertiga berada di kamar. Mereka hanya keluar saat makan siang setelah dipanggil mbak Dwi ketika makanan sudah siap. Setelah itu mereka kembali ke kamar lagi.


Setelah makan malam bersama orangtua Lily, Raya, Lily dan Manda langsung melancarkan aksinya. Sebelumnya mereka membantu membereskan sisa makan malam di dapur.


Ketika dirasa cukup aman dan mbak Dwi juga sedang mengunci pintu pagar, Lily segera menyiapkan kamera nya. Dia meletakkan di sudut dapur yang dirasa cukup memadai. Lokasi yang kemarin dilihat Raya juga bisa terlihat.

__ADS_1


Karena tidak ada waktu banyak mereka segera pergi dari dapur dan kembali ke kamar. Mereka sangat antusias ingin tahu apakah mbak Dwi akan melakukan hal sama seperti kemarin.


Malam berlanjut, suasana semakin sepi daripada siang hari. Hanya suara jangkrik, cicak dan tokek yang terdengar. Ketiga perempuan itu bahkan belum ada yang mengantuk. Entah apa yang mereka harapkan, yang pasti saat ini mereka bertiga duduk berhimpitan di atas ranjang.


Tiba-tiba suara kucing teriak langsung mengejutkan mereka bertiga. Suara itu berasal dari dapur menurut Lily. Namun mereka bertiga masih diam di tempatnya.


"Apa yang terjadi?" Manda sepertinya sudah tidak sabar. Lily dan Raya hanya menyuruhnya diam.


Mereka kembali terpaku tak berani membuka suara. Suara kucing itu kemudian menghilang. Tak hanya sampai disitu, setelahnya terdengar suara meja sedang dipindahkan dan suaranya tak jauh dari kamar Lily.


"Apakah pintunya sudah dikunci?" Raya mulai gelisah. Mereka pun melihat ke arah pintu dan sedikit lega karena posisi pintu sudah terkunci.


Tiba-tiba pegangan pintu bergerak sendiri seakan ada yang ingin membukanya dari luar. Mereka bertiga semakin ketakutan dan berpelukan . Semakin lama pegangan pintu semakin cepat bergerak tanda yang ingin membukanya sudah tidak sabar ingin masuk. Raya, Lily dan Manda hanya saling berpandangan tanpa berani berteriak.


Pada saat yang bersamaan, ponsel Raya bergetar dan ternyata Ali sedang mengirimkan pesan. Seketika Raya teringat belum menelpon Ali seharian ini padahal semalam Raya berjanji akan menelpon Ali.


Raya langsung menelpon Ali dengan earphone di telinganya dan mengarahkan kamera ponselnya pada pintu yang pegangannya terus bergerak. Ali memperhatikannya dan dia tahu untuk tidak harus bertanya.


Pegangan pintu itu masih terus bergerak dan sekarang ada sedikit dorongan pada pintu. Tentu saja hal itu membuat Raya dan kawan-kawan menjadi khawatir.


"Apa itu bang?" tanya Raya pada Ali.


"Ambil apa aja untuk berjaga-jaga. Jangan melalukan perlawanan apapun jika pintu itu masih tertutup."


Raya segera menginstruksikan Lily dan Manda agar membawa sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi diri.

__ADS_1


Lily mengambil tongkat Pramuka yang disimpannya di samping lemari . Manda menemukan tongkat baseball di sampingnya. Sedangkan Raya tidak membawa apa apa dan hanya berlindung di belakang Lily dan Manda sambil terus mengarahkan kamera ponselnya ke pintu karena ada Ali yang masih terhubung dengannya.


Mereka bertiga pun berdiri agak menjauh dari pintu dengan perlindungannya.


__ADS_2