
Anton sudah melakukan ritual, tapi tidak menemukan keberadaan Siska. Herman sangat khawatir dengan keadaan putrinya.
"Jadi bagaimana? apa yang harus aku lakukan? bagaimana keadaan anakku?" Herman merasa frustasi karena Anton tidak bisa menemukan jejak Siska.
"Sepertinya putrimu sudah tidak di dunia ini lagi!"
"Maksudmu anakku sudah meninggal?" Herman sangat terkejut dengan ucapan Anton. Dia tidak terima jika putrinya meninggal begitu saja.
" Bukan begitu, maksudku anak kamu sudah tidak di dunia nyata . Kalau masih ada disini pasti aku bisa mengetahui keberadaannya, tapi sekarang sama sekali tidak ada tanda-tandanya."
"Tapi anakku dibawa pergi baru tadi malam. Masak iya secepat ini sudah tidak di dunia ini?" Herman tidak habis pikir, apa sebenarnya yang diinginkan Bayu dan Agus.
Apakah kedua adiknya melakukan ritual yang sama dengannya? Atau apakah mereka juga memberikan sesembahan yang sama dengannya kepada tuannya? Herman terlalu banyak berpikir hingga kepalanya menjadi sakit.
"Kenapa kamu tidak mencari adikmu itu dan bertanya kepada mereka dimana putrimu berada?" Anton memberi saran.
"Tapi aku sendiri tidak tahu keberadaan mereka!"
"Kalau mereka masih di dunia ini, tentu saja aku bisa melacak keberadaannya.."
Mendengar ucapan Anton, Herman jadi bersemangat lagi. Benar juga yang dibilang Anton, dia memang tidak bisa menemukan putrinya karena mungkin memang sudah dibawa ke alam lainnya, tetapi kedua adiknya itu? Herman yakin jika mereka pasti masih di alam nyata untuk melanjutkan hidupnya. Herman pun meminta Anton segera melacak keberadaan Bayu dan Agus.
Tak berapa lama, keberadaan mereka sudah diketahui oleh Anton. Tak perlu berpikir lama, Herman langsung mengajak Anton dan anak buahnya menuju lokasi.
__ADS_1
"Ternyata mereka tinggal tak jauh dari sini, pantas saja bisa bergerak dengan cepat." sebelumnya Herman sangat bingung mencari keberadaan kedua adiknya itu. Siapa sangka ternyata Bayu dan Agus malah tinggal di apartemen mewah yang tak jauh dari rumah Herman.
Herman dan Anton sangat terkejut begitu sampai di depan apartemen mewah milik adiknya. Gedung menjulang tinggi yang entah berapa lantai itu, dan juga memang masuk dalam kawasan elit.
"Ternyata kedua adikmu adalah orang kaya baru. Kamu kalah Herman.." sindir Anton membuat Herman ciut nyali.
Sudah bertahun tahun dia menyembah makhluk gaib untuk mencari pesugihan dengan banyak korban. Tapi kedua adiknya hanya dalam tiga bulan saja sudah bisa tinggal di apartemen mewah.
Herman dan Anton langsung turun dari mobil dan masuk ke apartemen setelah bertanya pada penjaga disana. Mereka berdua langsung menuju kamar Bayu dan Agus.
Lagi lagi Herman dikejutkan dengan banyaknya polisi disana. Herman dan Anton saling pandang, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa para polisi berjaga di depan kamar Bayu dan Agus.
Herman langsung menghampiri polisi yang berdiri tak jauh darinya. Dia pun bertanya ada masalah apa disana?
Polisi itupun menjawab jika Bayu dan Agus terlibat kasus pembunuhan massal di pinggiran kota, tepatnya di sebuah villa kosong. Mendengar jawaban polisi tersebut,Herman segera mengajak pergi Anton dan tidak jadi menemui adiknya.
"Kenapa kamu tidak jadi bertemu dengan mereka?" bisik Anton saat mereka meninggalkan tempat itu.
"Aku punya firasat buruk, sebaiknya kita jangan muncul dulu!" Herman belum menceritakan semuanya pada Anton. Baginya saat ini adalah bagaimana dia bisa pergi dari tempat tersebut.
🪦🪦🪦
Di hari itu, polisi langsung melakukan penyergapan pada Bayu dan Agus setelah mendapat laporan dari papa Sigit tentang mayat anak dari pembantunya yang sudah lama tidak pulang, tiba-tiba datang meminta pertolongan.
__ADS_1
Karena tak ada bukti real dan hanya bersumber pada omongan hantu Sastro, sudah pasti polisi tidak akan percaya. Namun dengan bantuan teman dokter Reno yang juga seorang polisi maka kasusnya dibuat lebih mudah.
Sebelumnya laporan dibuat berdasarkan mimpi bik Asih yang didatangi putranya dan bilang jika jasadnya dikubur di sebuah hutan belakang Villa di pinggiran kota. Polisi dan jajarannya langsung menuju tempat kejadian perkara.
Setelah ketemu lokasi yang ditunjukkan, semua yang datang langsung menutup hidungnya. Bau anyir sangat menusuk di Indra penciuman mereka. Berdasarkan petunjuk dari bik asih menurut mimpinya tersebut maka petugas penggalian langsung bekerja. Mereka menggali gundukan tanah yang dimaksudkan. Ternyata tidak terlalu dalam, mereka sudah menemukan jasad manusia yang sudah tidak utuh.
"Innalilahi wa innailaihi rojiunn.." papa Sigit dan dokter Reno yang ikut kesana langsung mengucap. Ternyata memang ada kerangka manusia disana, bahkan masih ada sisa daging yang terselimuti kain lusuh.
"Sepertinya mereka memang langsung dibuang dan dikubur begitu saja." Bisik papa Sigit pada dokter Reno. Dokter Reno hanya mengangguk tanda setuju.
Bik asih juga memberitahukan pada polisi jika anaknya bilang masih banyak jasad yang lainnya di gundukan yang lain. Polisi langsung bergegas, menggali lagi beberapa gundukan untuk mencari jasad lain yang diperkirakan. Dan lagi lagi mereka sangat tercengang begitu gundukan digali, ternyata memang terdapat beberapa kerangka manusia yang sepertinya sudah lebih lama karena sudah bersih tak ada daging yang melekat.
Bik Asih yang melihatnya menjadi lemas seketika. Mama Rossi yang juga ikut menemani bik Asih merasa mual. Papa Sigit pun membawa kedua wanita itu menjauh dan beristirahat sejenak.
Polisi melakukan penggalian lagi di beberapa gundukan yang terlihat dan menemukan banyak tengkorak dan kerangka disana. Setelah beberapa jam tidak menemukan kerangka lagi, akhirnya polisi mengakhiri pencariannya. Mereka memutuskan untuk kembali ke kota dan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Setelah melakukan autopsi terhadap kerangka yang diduga adalah milik Sastro, pihak forensik langsung menyendirikan bagiannya. Setelah dipastikan jasad Sastro sesuai dengan identifikasi, tentu saja jasadnya sudah boleh dibawa pulang untuk dimakamkan dengan layak.
Kerangka yang ada dan masih tersisa beberapa daging melekat itu langsung disucikan di rumah sakit. Setelah beres baru dibawa pulang ke rumah papa Sigit menggunakan ambulan.
Proses pemakaman Sastro berjalan dengan lancar. Bik Asih pun merasa tenang. Bik asih dan yang lainnya akhirnya pulang ke rumah dan menunggu kabar selanjutnya dari kepolisian untuk melakukan tindakan pada pelaku yang sudah diketahui identitasnya tersebut.
Malam itu Sastro muncul di hadapan bik Asih dan Raya. Meskipun Papa Sigit dan mama Rossi ada di sana, tetapi mereka berdua tidak bisa melihat Sastro. Hanya Raya dan bik Asih saja yang bisa melihatnya.
__ADS_1
"Ibu..Raya..Terimakasih atas bantuannya. Sampaikan juga rasa terimakasih ku kepada orangtua kamu dan juga pada Ali. Terimakasih semuanya, aku bisa pergi dengan tenang sekarang." Sastro memeluk ibunya tanda perpisahan. Tentu saja bik Asih langsung menangis dibuatnya. Sementara papa Sigit dan mama Rossi hanya saling pandang melihat bik asih yang menangis dan seperti memeluk sesuatu.