Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 51(bertemu kembali)


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Siska masih merasakan sakit di bagian perutnya. Paman Herman semakin panik. Paman Herman langsung menuju kamarnya untuk melakukan ritual mengunjungi kedua adiknya.


Ritual pun dilakukan, paman Herman sangat terkejut melihat kedua adiknya melakukan penyerangan terhadap putrinya. Paman Herman pun marah dan berusaha menggagalkan ritual penyerangan adiknya terhadap putrinya yang menggunakan sebuah foto dan boneka.


"Apa yang kalian lakukan?" bentak paman Herman. Paman Agus dan paman Bayu terkejut melihat kedatangan kakaknya yang tiba-tiba itu.


"Jadi kalian yang sudah berbuat jahat pada Siska?" lanjutnya. Paman Agus dan paman Bayu hanya saling pandang. Paman Bayu memandang sinis kakak pertamanya itu.


"Mulai sekarang kita adalah musuh! Kamu sudah menghianati kami dan menghasut kami dengan omong kosong kamu itu. Kamu pikir kami tidak tau apa yang kamu lakukan selama ini Hah?" paman Bayu tertawa tidak suka. Paman Herman pun merasa kesal.


Paman Herman pergi begitu saja meninggalkan kedua adiknya. Dia tau watak kedua adiknya yang tidak akan mudah goyah jika sudah mempunyai pendirian. Paman Herman sudah tidak bisa lagi menguasai pikiran kedua adiknya itu. Langkah selanjutnya hanyalah untuk melindungi Siska, putri semata wayangnya yang terlalu dimanjakan nya.


Meskipun sedikit menyesal karena garis keturunannya adalah perempuan, tapi paman Herman sangat menyayangi putrinya itu. Tapi kini bagaimana dia bisa melindunginya dari ancaman kedua adiknya itu?


Seelah kembali ke ruangannya, paman Herman pun melakukan ritual untuk menyembuhkan putrinya. Dan untuk melawan kedua adiknya, paman Herman masih memikirkannya.


"Bagaimana caraku menghindari kedua orang itu? sementara guruku saja tidak mau ikut campur?" batin paman Herman.


Dulu paman Herman berguru karena ingin menghancurkan orang yang menjadi musuhnya. Guru Noe pun memberikan sedikit ilmunya untuk dipelajari paman Herman. Namun ilmu menghancurkan itu hanya dikhususkan untuk musuh, bukan saudara sendiri. Karena silaturahmi dan kekompakan saudara itulah yang menjadi kekuatannya. Jika kekompakan itu dilanggar, maka hanya akan menjadi bumerang bagi keabadian yang selama ini didapatkan. Begitu juga jika guru Noe membantu perselisihan keluarga paman Herman, maka tidak akan baik juga untuk keluarganya. Oleh karena itu guru Noe tidak bisa membantu apa apa.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" paman Herman tampak berpikir bagaimana cara meyakinkan kedua adiknya itu agar kembali pada tujuan semula yaitu dendam keluarganya dan mendapatkan semua kekuatan spiritual yang ternyata dimiliki keluarga Bisri. Dan hanya dengan memusnahkan keluarga Bisri semuanya, maka secara otomatis kekuatan spiritual akan didapatkan keluarga Hambali lagi.


🌸🌸🌸


"Sudah hampir satu Minggu wanita dan pengawalnya itu tidak menggangguku. Baguslah!" Ilham melangkahkan kakinya menuju perpustakaan kota.


Untuk menghilangkan kepenatan nya, Ilham selalu menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan.

__ADS_1


"Daripada melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, alangkah baiknya menghabiskan waktu membaca buku. Dapat ilmu yang bermanfaat!" batinnya.


Setelah tiba di perpustakaan, Ilham segera mencari buku favorit nya dan tempat pojok biasa dia membaca buku. Mata Ilham berbinar tatkala melihat sosok wanita yang selalu dirindukan nya.


"Raya.." Ilham segera duduk di bangku kosong tempat Raya membaca buku tanpa menegurnya.


Sepertinya Raya tidak menyadari kehadiran Ilham di sampingnya. Dia sangat serius membaca hingga acuh terhadap sekitar. Hingga suara pelan Manda mampu membuyarkan konsentrasinya.


"Bang Ilham.." sapa Manda yang baru saja duduk tepat di depan Raya.


Karena Manda menyebutkan nama Ilham, otomatis Raya mencari sumber nama tersebut. Raya sangat terkejut ketika melihat Ilham sudah duduk di sampingnya dengan tersenyum.


"Bang Ilham.." sapa Raya. Ilham yang merasa keberadaannya sudah dianggap oleh Raya akhirnya tersenyum merekah.


"Kamu serius sekali bacanya, jadi gak enak menyapa. Takut mengganggu!" kata Ilham membuat Raya malu.


Mereka bertiga pun menghabiskan waktu bersama membaca buku dan mengobrol banyak. Sepertinya pertemuan waktu itu memang belum cukup untuk menceritakan semua uneg-uneg yang ada.


Raya pun menceritakan perihal mamanya kepada Ilham yang hingga kini tinggal di rumahnya di kampung. Ternyata Ilham tidak mengetahuinya karena sudah dua Minggu ini tidak pulang karena sedang ujian sekolah.


"Maaf ya Ray..aku sama sekali tidak tau!" ucap Ilham.


"Iya gapapa.." jawab Raya singkat.


Setelah puas membaca buku di perpustakaan kota, mereka bertiga pun mencari tempat makan untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Setelah beberapa hari yang lalu Manda menghilang karena saudaranya ada yang meninggal, kini ganti Lily yang absen karena mengunjungi neneknya yang sedang sakit di luar kota. Namun Lily sudah memberi kabar pada Raya sehingga tidak membuat temannya ini khawatir.


" Maafin aku ya Ray..Waktu itu tiba-tiba saja dapat kabar buruk. Jadi buru buru sampai lupa jika ponselku tertinggal di kamar. Aku gak tau kalau kamu nulis pesan banyak banget." kata Manda menyesal.

__ADS_1


"O..pantes dihubungi gak diangkat!" gerutu Raya.


"Jadi aku kirim pesan kamu baca saja tapi gak di balas itu? gimana?" tanya Ilham kemudian. Manda yang tau jika nomor yang diberikan pada Ilham adalah nomor Raya jadi bingung mau bilang apa. Manda hanya tersenyum dan menunduk.


"Jadi kamu sengaja memberikan nomorku pada bang Ilham?" bisik Raya sambil mencubit kecil lengan Manda. Manda pun meringis menahan sakit akibat cubitan Raya.


Ilham tidak mempermasalahkan pertanyaannya yang tidak mendapatkan jawaban karena Raya dan Manda hanya diam tersenyum tipis sambil menunduk malu. Raya juga tidak mengungkapkan jika yang menerima pesan dari Ilham adalah dirinya.


Hari telah senja, Ilham pun pamit dan kemudian berpisah dengan Raya dan Manda di parkiran rumah makan. Beberapa saat sebelum Raya mengemudikan mobilnya, terdengar suara orang teriak minta tolong. Manda dan Raya cukup terkejut dengan teriakan orang tersebut.


Orang itupun menyebutkan ciri-ciri korban tabrak lari tersebut pada orang yang ada di sana. Karena posisi mereka yang tak jauh darinya, Raya dan Manda sangat terkejut lagi ketika sadar jika ciri ciri korban tersebut mirip dengan Ilham. Spontan saja mereka berdua langsung berlari menuju TKP. Dan ternyata benar korban tabrak lari tersebut adalah Ilham.


Tak berpikir lama, Raya segera kembali mengambil mobilnya. Manda dan beberapa orang berusaha mengangkat tubuh Ilham dan memasukkannya ke dalam mobil Raya yang sudah siap di sana. Karena luka yang sangat parah, Raya segera membawa Ilham ke rumah sakit tanpa menunggu polisi datang.


"Bagaimana ini Ray..Apa tidak sebaiknya menghubungi keluarganya saja?" tanya Manda.


"Menghubungi kemana? nomor telpon keluarganya saja aku tidak punya!" jawab Raya.


"Mama kamu kan ada di sana. Kenapa tidak telpon mama kamu saja?" Saran Manda membuat Raya menepuk jidatnya sendiri.


"Aku bahkan tidak berpikir sampai sana!" jawab Raya tersenyum sendiri. Dia baru menyadari jika ada Mama Rossi yang bisa dihubungi.


Raya segera mengabarkan keadaan Ilham pada mamanya agar segera disampaikan pada orang tua Ilham.


"Apa?" Mama Rossi pun pingsan setelah mendapat kabar dari Raya. Tentu saja membuat kyai Arifin dan istrinya sangat terkejut melihat Mama Rossi yang tiba-tiba pingsan.


Karena ponsel masih tersambung, Bu Hajjah pun segera menjawab panggilan dari Raya. Raya pun menjelaskan. apa yang sudah di alami Ilham kepada Bu Hajjah.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2