
Atas perintah bos nya, anak buah Herman langsung memporak-porandakan semua isi Villa. Mereka menyebar mencari tempat ritual dan akan menghancurkannya.
Setelah beberapa menit berlalu, anak buah Herman tidak ada yang menemukan lokasi tempat ritual. Herman menyuruh anak buahnya untuk menangkap Bayu dan Agus.
"Kamu tidak bisa seperti ini mas. Ingatlah pesanmu dahulu. Kita tidak bisa mencegahnya. Jika ritual ini gagal,maka kita akan binasa. Sama seperti bapaknya Ali" teriak Bayu dalam genggaman pengawal Herman.
"Hahaha....Kalian berdua memanglah bodoh! Yang melakukan ritual itu kalian, bukan aku! Kalaupun harus binasa itu hanya akan terjadi pada kalian berdua. Tak kusangka adikku memang bodoh semua." Herman tertawa dengan sangat keras.
"Jadi selama ini kamu hanya memanfaatkan kami mas?" Agus yang dari tadi diam ternyata sangat murka begitu tahu tabiat asli dari kakak pertamanya itu.
"Kami sudah berbaik hati padamu selama ini. Kami juga sudah melakukan apa yang kamu katakan. Dan inikah balasanmu hah!" lanjutnya.
"Menurutmu aku sama bodohnya dengan kalian? Itu tidak benar..Setelah aku meninggalkan kampung itu dan pindah ke sini, aku menjadi manusia bebas. Tidak terkungkung dengan masalah leluhur yang tidak masuk akal itu. Kalian itu yang aneh, sudah tinggal disini begitu lamanya masih juga primitif!" Herman sudah tidak peduli lagi dengan kedua adik kandungnya itu.
Selama ini Herman memang hanya memanfaatkan kedua adiknya yang masih saja percaya dengan cerita leluhurnya. Padahal setelah penerus sampai pada kakek buyut mereka. Ritual yang biasanya dilakukan kakek buyutnya sudah musnah bersama dengan kematian kakek buyutnya tersebut. Jika sampai saat ini Bayu dan Agus sering melakukan ritual, itu adalah ritual baru yang mereka ciptakan sendiri.
"Lalu kenapa bapaknya Ali bisa mati karena lalai melupakan ritual itu?" Bayu pun penasaran dengan kematian kakak keduanya.
"Hahaha.....Dia itu mati karena penyakit liver yang dideritanya. Sejak kapan dia melakukan ritual memberikan sesembahan daging seorang wanita? Dia dan anaknya hanya melakukan ritual perlindungan diri agar terhindar dari hal negatif di kampung itu. Kalian memang bodoh, sungguh sungguh bodoh!" Herman pun mencela kedua adiknya. Bayu dan Agus hanya saling pandang. Agus memberi syarat kakaknya agar tidak memberitahukan tempat ritual mereka kepada kakaknya yang tamak itu. Bayu pun mengangguk.
"Sekarang cepat katakan dimana kalian melakukan ritual itu? cepat kembalikan anakku!" Herman pun semakin murka, dia membanting semua perkakas yang ada di sekitarnya.
"Kami tidak tahu! cari saja sendiri kalau kamu memang merasa hebat" jawab Agus tidak takut.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan hah? ?tunggu saja, aku akan menghukum Kalian setelah ini! Kalian semua, cepat masukkan mereka berdua ke dalam penjara bawah tanah rumah saya." ucap Herman pada kedua anak buahnya. Bayu dan Agus akhirnya dijebloskan ke dalam penjara pribadi milik Herman.
Setelah anak buah Herman membawa Agus dan Bayu pulang ke rumah menuju penjara bawah tanah rahasia yang dimiliki Herman, Herman di bantu anak buah lainnya kembali mencari lokasi ritual untuk membebaskan putrinya. Waktu sudah mendekati tengah malam, Herman tidak boleh terlambat. Jika tidak sudah dipastikan putrinya tidak akan pernah kembali.
🪦🪦🪦
"Kenapa kamu tidak ingin memberitahu mas Herman dimana tempat ritualnya Gus?" Bayu penasaran kenapa adiknya tidak ingin berdamai dengan kakak pertamanya, justru malah mengibarkan bendera perang dengan kakaknya sendiri.
"Biar saja dia cari sendiri. Bukankah ilmunya lebih tinggi daripada kita? Lagipula aku masih sakit hati dengannya. Dia itu sebenarnya menganggap kita ini siapa?"jawab Agus masih tidak terima dikatakan bodoh oleh kakaknya sendiri.
"Lalu bagaimana dengan ritual malam ini? sebentar lagi bulan purnama akan muncul.." saat ini Bayu masih mengkhawatirkan nasib dirinya jika menghindari ritual seperti biasanya.
"Apa kita akan mati jika tidak melakukannya malam ini?" sepertinya Agus juga mulai resah. Bayu tampak berpikir keras.
"Ali.." entah dapat wangsit darimana, tiba-tiba saja mereka berdua memiliki ide yang sama. Ya..Ali memang sangat dibutuhkan untuk keadaan yang seperti ini.
"Ada apa paman memanggilku?" ternyata Ali langsung merespon. Suatu keberuntungan bagi Bayu dan Agus karena bisa langsung tersambung dengan Ali. Kini Ali seakan menjadi penyelamat bagi mereka. Mereka akan mengingat ini semua.
"Ali..Sungguh beruntungnya kami bisa langsung terhubung dengan kamu. Tolong kami Ali!"
"Apa yang paman katakan? aku tidak paham sama sekali!" Ali masih bingung dengan apa yang dikatakan kedua pamannya itu.
"Nanti saja kami jelaskan. Saat ini kami di sekap di ruang bawah tanah oleh Herman. Tolong keluarkan kami dari tempat ini. Kamu tahu kan jika malam ini saatnya bulan purnama. Dan kami harus melakukan ritual itu secepatnya. Kami takut terlambat! Tolong kami Ali" ucap Bayu penuh mohon.
__ADS_1
"Hentikan perbuatan itu paman. Bertobatlah!" Ali pun menceramahi kedua pamannya itu.
"Nanti saja kami jelaskan semuanya, yang penting sekarang adalah keluarkan kami dari sini." Agus dan Bayu mulai gelisah karena waktu tengah malam sudah sangat mepet.
"Akan aku coba paman.." Ali tidak berani menjanjikan apapun.
Namun bukan Ali namanya jika tidak bisa melakukannya. Hanya mengucap beberapa mantra, kedua pamannya sudah berpindah tempat. Kini mereka sudah berada di tempat ritual.
"Ali memang bisa diandalkan. Nanti saja kita menemuinya dan memberinya hadiah. Mari kita lakukan secepatnya, aku tidak ingin gagal malam ini." Bayu memimpin ritual, sementara Agus membenahi semua yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Kamu yakin mas, kalau mas Herman tidak akan menemukan kita di sini?" Agus masih khawatir dengan kakak pertamanya itu.
"Sudahlah..Bukankah memilih tempat ini adalah ide kamu. Siapa bilang kita ini bodoh, justru si Herman gak tau diri itu yang bodoh. Ketamakannya sudah membutakan mata dan hatinya. Bahkan kita yang sudah jelas adik kandungnya saja tidak pernah diakui malah dimanfaatkan olehnya.Hahaha...."
"Hahaha..."
Bayu dan Agus langsung melakukan ritual nya. Bulan purnama sudah muncul, saatnya memurnikan perlindungan diri pada tubuh Agus dan Bayu .
Suasana menjadi mencekam. Udara di sekitar menjadi sangat dingin.
Lokasi ritual ternyata jauh dari villa. Pantas saja, meskipun sudah diobrak-abrik tidak akan pernah ketemu jika hanya mengelilingi Villa. Ternyata saat itu Agus dengan cerdasnya sudah memprediksi hal hal yang bisa mengganggu ketenangan saat melakukan ritual. Dan hari ini sudah terbukti.
Herman yang masih mengobrak-abrik Villa jadi tercengang. Tubuhnya sudah lelah karena masih belum bisa menemukan tempat ritual tersebut. Bagi Herman,mungkin dengan menghancurkan properti ritual akan bisa mengembalikan jiwa putrinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Herman teringat dengan gurunya. Situasi sangat mendesak, Herman pun melakukan panggilan telepon dengan guru spiritual nya.
"Apa? jadi sia sia saja aku menghancurkan tempat ini dari tadi?"