
"Shuutt....Manda, aku minta nomor telepon kamu. Nanti jika ke kota aku akan main ke rumah kamu!" Ilham membisikkan sesuatu pada Manda. Dia merasa heran dengan sikap Ilham padanya. Sesaat dia teringat, Manda tau apa tujuan Ilham. Manda pun memberikan nomor telponnya pada Ilham. Eh..bukan nomor telpon miliknya, namun nomor seseorang yang pasti diinginkan Ilham. Manda pun tersenyum.
" Aku kerjain kamu!" batin Manda sambil menulis nomor telepon di ponsel Ilham.
"Terimakasih.." ucap Ilham. Manda membalasnya dengan senyuman.
Papa Sigit, Manda dan juga Lily akhirnya kembali ke kota setelah pamitan pada kyai Arifin dan saudara-saudara beliau. Tak lupa papa Sigit menyerahkan kunci rumah nenek Sari pada kyai Arifin.
Papa Sigit akhirnya menghibahkan rumah dan tanah milik ibunya untuk dikelola dan dimanfaatkan warga kampung. Papa Sigit hanya membawa barang barang penting milik neneknya dan juga barang kenangan miliknya sendiri di waktu kecil.
๐ธ๐ธ๐ธ
Raya dan mama Rossi sudah tiba di kota setelah adzan Subuh berkumandang. Alhamdulillah..perjalanan mereka lancar tanpa hambatan. Raya segera memanggil pak Harun dan bik Asih agar membantunya membopong mamanya ke kamar.
"Ibu kenapa non?" tanya Bik asih khawatir.
"Mama baik baik saja! tolong bawa mama ke kamar dan biarkan istirahat. Setelah itu bik asih buatkan bubur untuk mama. Pak Harun nanti langsung ke sini ya.. bantuin saya membawa barang barang." pinta Raya pada orang orang kepercayaan di rumahnya.
Raya menemani mama Rossy di kamar dan menyuapi beliau dengan bubur yang telah dibuat oleh bik Asih. Mama Rossi terlihat kurang sehat, padahal hanya dua hari mama Rossy menghilang.
"Apakah mama tidak di beri makan? Itu tidak mungkin, pasti mama sendiri yang menolak memakan makanan pemberian paman Agus." Pikir Raya.
"Non, dokter sudah datang !" Bik Asih sudah berdiri di depan pintu kamar bersama seorang dokter. Dokter itu adalah teman papa Sigit saat SMA. Dan sekarang masih menjalin silaturahim dengan baik. Namanya dokter Reno.
Dokter Reno adalah sahabat baik papa Sigit,jadi sedikit banyak beliau tahu cerita keluarga Raya karena papa Sigit sudah sering cerita sejak SMA .
"Apa yang terjadi Ray?" tanya dokter Reno yang memperhatikan kondisi mama Rossy sangat memprihatinkan.
"Kami dari kampung Om, berkunjung ke rumah nenek. Namun di sana kami justru mengalami banyak kejadian aneh" Raya pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama keluarga saat di kampung.
Dokter Reno sudah seperti saudara sendiri bagi Raya, jadi dia tidak sungkan berbagi cerita pada beliau. Raya pun menceritakan semua yang terjadi di kampung. Dokter Reno pun mengerti.
__ADS_1
"Mama kamu sepertinya kelelahan, dan kondisi psikisnya harus segera diperiksa. Mama kamu trauma." ucap dokter Reno.
"Papa kamu sudah kamu kabari?" tanya dokter Reno lagi.
"Lupa.." Raya segera menelpon papanya. Dan memberitahukan keberadaan nya dan mama Rossi sekarang.
Ternyata papa Sigit sudah dalam perjalanan ke kota saat Raya menelpon. Syukurlah! semua baik baik saja. Papa Sigit merasa lega mendengar kabar Raya dan mamanya baik baik saja.
Karena terjadi gangguan psikis pada mama Rossy meskipun tidak terlalu mengkhawatirkan, namun dokter Reno mengambil inisiatif untuk mengabari temannya yang seorang psikiater.
"Saya pamit dulu ya Ray..nanti kalau papa kamu sudah tiba langsung telpon saya dan segera bawa mama kamu ke Rumah Sakit." Dokter Reno pun pamit . Raya mengantar sampai depan pintu.
"Terimakasih ya om.." Raya selalu mengandalkan dokter Reno jika ada anggota keluarganya bahkan pekerja di rumahnya yang kurang sehat.
Dokter Reno tersenyum dan segera pergi kembali ke rumah sakit karena masih ada jadwal praktik.
Sore harinya..
"Kami pulang ya Ray..semoga Tante Rossy segera sembuh!" Manda dan Lily pun pamit.
"Terimakasih ya..Maaf jika liburannya kurang menyenangkan" Raya memeluk Manda dan Lily secara bergantian.
"Aku sih senang, ada pengalaman baru dari sana!" ucap Manda.
"Pengalaman Apa? lihat hantu? Ohh..Serem!" Lily memeluk tubuhnya sendiri membayangkan rasa takutnya saat di kampung.
"Ya enggaklah! Aku belajar bertani melon. Habis ini segera aku praktek kan di halaman rumahku!" jawab Manda.
"Semoga berhasil!" ucap Raya memberi semangat.
๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Raya kembali ke kamarnya setelah mengantar Manda dan Lily di teras depan. Saat melewati kamar orangtuanya, Raya berhenti sejenak. Raya melihat keanehan di samping ranjang mamanya. Ada sosok perempuan berbaju putih berdiri di samping ranjang mama Rossy sambil menunduk.
Terlihat papa Sigit memeluk mama Rossi yang masih terdiam tak menjawab semua pertanyaan papa Sigit. Padahal tadi saat bersama Raya, mama Rossi masih bisa diajak bicara.
"Papa.." panggilan Raya membuat sosok perempuan itu pun pergi.
"Iya Ray?" papa Sigit terkejut mendengar panggilan Raya dan melepaskan pelukannya pada mama Rossy.
"Papa sudah cuci tangan dan kaki sebelum masuk kamar?"
"Belum.." papa Sigit tersenyum malu. Beliau sampai lupa dengan hal hal kecil yang seharusnya tidak boleh diabaikan.
"Oh ya pa..Om Reno bilang, mama harus segera di bawa ke rumah sakit. Om Reno menunggu di sana." Raya menceritakan kedatangan Om Reno yang memang diminta Raya untuk memeriksa mamanya. Dan juga saran Om Reno yang sepertinya menyimpan sesuatu.
"Iya.. papa ganti baju dulu!" papa Sigit tersenyum pada Raya dan mengambil baju dari almari.
Raya menghampiri mamanya yang masih diam. Raya memperhatikannya sesaat. Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa mamanya bisa langsung berubah seperti itu?Raya melihat sekeliling ruangan . Dia tidak menemukan perempuan itu lagi.
"Siapa sebenarnya dia? kenapa mama jadi seperti ini?"pikir Raya. Raya masih menemani sang mama sambil menunggu papanya selesai mengganti baju.
" Hari ini semua harus kembali normal. Masalah di kampung harus segera berakhir. Apa sebenarnya yang diinginkan paman Agus? kenapa dia begitu dendam dengan keluargaku? bukankah papa juga tidak punya masalah dengan mereka?atau semua terjadi karena mama? aku jadi pusing!" Raya memegang pelipisnya.
"Semua sudah direncanakan!" Raya terkejut mendengar suara seorang perempuan. Raya mendongakkan kepalanya, perempuan tadi sudah berdiri di samping jendela sambil tersenyum.
"Kamu siapa? apa yang kamu inginkan?"Raya jadi takut melihat perempuan tadi yang tidak menampakkan wajahnya karena tertutup rambutnya.
"Kamu kenapa Ray?" tiba-tiba papa Sigit mengagetkan Raya. Perempuan tadi juga sudah tidak ada di tempatnya.
"Tidak ada Pa.." Raya mengedarkan pandangannya lagi, tapi tidak menemui sosok perempuan tadi.
"Ayo kita bawa mama menemui dokter Reno. Tolong kamu telpon beliau ya. Bilang kalau kita dalam perjalanan ke tempat beliau!" pinta papa Sigit pada Raya. Raya segera mengambil ponselnya dan menelpon dokter Reno. Raya pun menyampaikan pesan papanya pada dokter Reno.
__ADS_1