Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 36(ada apa dengan mama Rossi?)


__ADS_3

Setelah papa Sigit bersiap, kini mama Rossy dibawa ke rumah sakit menemui dokter Reno. Dokter Reno telah membuat janji dengan seorang psikiater untuk memeriksa kondisi psikis mama Rossy.


Raya menemani mamanya melakukan pemeriksaan, sementara papa Sigit diajak dokter Reno ke ruangannya.


"Ada apa Ren? Apa ada sesuatu dengan Rossy?" papa Sigit membenarkan duduknya.


" Masalah istrimu, kita tunggu hasil pemeriksaan dokter saja! Raya sudah menceritakan semua yang terjadi saat kalian di kampung. Apa benar masalahnya seserius itu?" dokter Reno pun penasaran dengan cerita Raya tadi pagi. Jika selama ini dokter Reno hanya menganggap papa Sigit terlalu berlebihan dengan apa yang diceritakannya sebelumnya, kini beliau yakin jika masalah keluarga sahabatnya ini tidak sesederhana itu.


"Iya..memang itulah kenyataannya. Selama ini aku hanya berusaha menghindar, tapi sepertinya kali ini aku harus benar-benar menghadapinya. Jika tidak, masalah ini tidak akan pernah ada habisnya." papa Sigit mulai frustasi. Apa beliau siap kehilangan semuanya jika benar-benar harus melawan Agus?


Sebenarnya papa Sigit sudah mengira ini semua akan terjadi. Namun beliau hanya menampik, tidak ingin mengorbankan siapapun juga apalagi keluarganya.


"Apa tidak ada cara lain selain harus bertarung?"dokter Reno pun khawatir.


"Maksudnya?" papa Sigit semakin penasaran.


"Ya..seperti lapor polisi misalnya?" saran dokter Reno.


"Memangnya apa yang bisa aku laporkan?kejadiannya bersifat mistis. Bagaimana polisi bisa mengembangkan kasus ini?" papa Sigit mulai dilema.


"Aarrrgggghhh..pergi! menjauh dariku!"


Papa Sigit dan dokter Reno terperanjat mendengar teriakan dari kamar sebelah. Itu adalah ruangan mama Rossy yang tengah diperiksa. Papa Sigit dan dokter Reno segera berlari melihat apa yang terjadi.


"Ada apa Raya?" papa Sigit menghampiri Raya yang panik di luar ruangan, begitu juga para dokter yang menangani mama Rossy.


"Ada apa dokter? kenapa semua ada di luar?" tanya papa Sigit pada dokter karena tidak mendapat jawaban dari Raya yang terlihat syok.


"Dari hasil pemeriksaan, Bu Rossy sangat sehat. Namun saya heran, tiba-tiba saja beliau marah dan mengamuk." jelas dokter yang baru saja memeriksa mama Rossy.


"Biarkan istrimu tenang dulu di dalam. Ayo ke ruanganku lagi, ada suatu hal yang penting." dokter Reno mengajak papa Sigit ke ruangannya kembali. Kali ini Raya juga ikut mereka.


" Seperti dugaan ku sebelumnya, istri kamu sebenarnya tidak sakit. Tapi dia sedang dalam pengaruh mistis." ucap dokter Reno. Papa Sigit dan Raya saling pandang.

__ADS_1


"Apa maksud dokter, mama kerasukan?" tanya Raya penasaran.


"Sayang..kenapa kamu bilang seperti itu?" papa Sigit memeluk putrinya.


"Karena mama seperti diikuti makhluk lain Pa... Sebentar dia ada, lalu menghilang. Disaat aku melihat makhluk itu ada di dekat mama, pasti tak lama kemudian mama teriak. Tapi jika makhluk itu tidak ada, mama bisa diajak bicara dengan normal." cerita Raya yang sudah merasakan keanehan pada mamanya sejak tiba di rumah tadi pagi.


" Itu yang aku maksud. Jadi menurutku bukan seorang dokter yang bisa menyembuhkan istri kamu." ucap dokter Reno.


"Maksudmu ini ada hubungannya dengan Agus itu?" papa Sigit menerka nerka.


"Mungkin saja!" jawab dokter Reno singkat.


" Sebaiknya papa menghubungi kyai Arifin. Mungkin saja Kyai Arifin bisa menyelamatkan mama" saran Raya.


"Kalau kita meminta tolong kyai Arifin, itu artinya kita harus kembali ke kampung itu lagi Raya. Dan sudah pasti kita harus berhadapan dengan Agus." papa Sigit tidak menemukan ide untuk mengatasi masalah ini. Namun benar juga yang dikatakan Raya, mungkin hanya kyai Arifin yang bisa membantunya menyelesaikan masalah ini. Karena sedikit banyak kyai Arifin sudah tahu permasalahannya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Pa? membiarkan mama seperti ini?" Raya pun menangis di pelukan papa Sigit.


"Aku lupa memintanya. Waktu di sana, aku tidak pernah melihat beliau membawa ponsel. Makanya aku tidak kepikiran menanyakan nomor ponselnya. Memangnya di sana ada signal Ray?"tanya papa Sigit.


"Ada Pa..Tapi kadang hilang dengan sendirinya." jelas Raya.


"Maaf Pa..Memangnya ada masalah apa antara papa dan paman Agus sebenarnya? kenapa mereka ingin mencelakakan keluarga kita. Apa benar hanya karena dendam keluarga di masa lalu?" Raya sangat penasaran dengan apa yang didengarnya dari Nina dan juga beberapa warga kampung yang pernah tidak sengaja membicarakannya.


"Nanti papa ceritakan di rumah. Sudah saatnya kamu tau semua." papa Sigit memandang dokter Reno. Dokter Reno pun mengangguk.


Setelah menyelesaikan administrasi, papa Sigit membawa mama Rossy pulang. Dokter yang menangani mama Rossy juga sudah menjelaskan jika tidak ada suatu penyakit yang diderita oleh mama Rossi.


"Sering sering lah ke rumahku Ren, aku pasti sibuk dengan pekerjaan ku. Ajak istriku ngobrol jika kamu ada waktu." ucap papa Sigit sekalian pamit. Dokter Reno pun mengangguk.


Hari sudah malam saat Raya dan keluarganya meninggalkan rumah sakit. Entah kenapa Raya merasa jalanan yang dilalui mereka tampak sepi dan mencekam. Papa Sigit melajukan mobilnya dengan sangat pelan. Beliau tidak ingin tidur istrinya terganggu jika harus ngebut.


Ciiitttt.....

__ADS_1


"Papa.." Raya teriak sekuat tenaga saat papanya mengerem mendadak. Padahal mobil yang dijalankan papanya sudah sangat pelan. Alhasil mama Rossy pun terbangun.


"Ada apa Raya? kenapa berhenti?" Mama Rossi memandang keluar mobil.


"Aagghhh.." mam Rossy menutup matanya dengan segera karena melihat sesuatu di samping mobil. Raya pun memperhatikan pandangan mamanya.


"Jalan lagi pa.." pinta Raya. Papa Sigit pun segera melajukan mobilnya, kali ini agak cepat biar segera sampai rumah.


"Memangnya tadi kenapa Pa? kenapa papa berhenti mendadak? Raya kan terkejut?" Raya masih memeluk mamanya yang tetap menutup kedua matanya dengan tangan.


"Entahlah! tadi papa merasa ada bayangan yang melintas. Makanya papa jadi kaget!" Papa Sigit memperhatikan jalan dengan seksama. Mungkin tadi papa Sigit memang terkejut dengan sesuatu yang lewat di depan mobilnya. Namun kali ini jika melihat lagi mungkin papa Sigit akan tetap melajukan mobilnya.


Mereka pun sampai di rumah dengan selamat. Meskipun tadi ada hal yang mendebarkan, dengan segera mereka melupakannya.


"Mama belum sholat Isya Ray.." kata mama Rossy.


"Kita sholat jamaah saja!" ajak papa Sigit. Raya dan mama Rossi mengangguk setuju.


Rumah sepi, bik Asih tidak kunjung membukakan pintu. Padahal papa sudah mengetuk pintu berkali kali dengan kerasnya.


"Besok papa belikan lonceng saja biar terdengar sampai belakang!" papa Sigit kembali mengetuk pintu. Namun bik Asih tak kunjung membukakan pintu.


"Biar Raya telpon pa!" Raya mengeluarkan ponselnya dan terkejut melihat banyak sekali panggilan tak terjawab. Ada nomor asing dan yang pasti ada nomor bik Asih yang melakukan panggilan. Raya segera menelpon baik Asih kembali.


Tak lama bik Asih mengangkat telponnya.


"Assalamualaikum bik..bik Asih di mana?" tanya Raya.


"Waalaikumsalam non..maaf bibik pulang ke rumah. Tadi anak bibik telpon suaminya kecelakaan. Tapi alhamdulilah ternyata baik baik saja. Bibik sudah SMS non Raya minta ijin pulang. Kunci rumah saya taruh di bawah pot bunga dekat jendela. Pak Harun tadi mengantar bibik tapi langsung balik kok non. Apa belum sampai?"


"Sepertinya belum bik, ya sudah kalau begitu. Bibik yang sabar ya..Semoga menantu bibik segera membaik"


"Terimakasih non"

__ADS_1


__ADS_2