
Ali hanya celingukan di depan rumah. Hingga dia melihat sosok bayangan melintas di samping rumah Raya. Karena tidak ada orang di sana, Ali langsung masuk ke halaman dan mengejar bayangan yang melintas di samping rumah tersebut. Ali tahu jika itu bukan manusia, jadi dia bergegas untuk menangkapnya.
"Siapa kamu?" tak butuh waktu lama Ali sudah bisa meringkus makhluk astral itu.
"Apa yang kamu lakukan di siang hari begini? punya ilmu kamu!" Ali terus menggenggam erat makhluk tersebut yang berontak,mencoba untuk melarikan diri.
Makhluk itu terus meronta tanpa menjawab semua pertanyaan Ali. Ternyata dia tidak bisa melepaskan cengkraman Ali. Ali semakin heran, bagaimana bisa makhluk seperti ini keluyuran di siang hari. Ali terus memberikan pertanyaan tetapi tidak dijawab satu kata pun. Hingga..
"Lepaskan dia!" bik Asih yang mendengar suara anaknya meronta langsung menghampiri dan meminta Ali agar melepaskannya.
"Anda siapa? anda kenal dengannya?" Ali semakin curiga dengan kedatangan bik Asih yang ternyata juga bisa melihat bahkan memintanya untuk melepaskan makhluk tersebut.
"Dia anak saya,tolong lepaskan saja. Dia tidak mengganggu siapapun di sini." pinta bik Asih. Mendengar jika makhluk tersebut tidak berulah, Ali segera melepaskannya. Seketika makhluk itu langsung menghilang.
Dia adalah Sastro, dia sudah kembali ke tempat kerja ibunya. Bik Asih yang masih terkejut dengan kedatangan Ali yang tidak dikenalnya, berniat ingin masuk kembali lagi ke rumah. Namun di cegah oleh Ali.
"Maaf saya mau tanya apakah ini rumahnya Raya?" tanya Ali. Bik Asih mengangguk, tidak jadi masuk dan mempersilakan Ali lewat pintu depan.
"Non Raya masih sekolah, di rumah hanya ada mamanya dan saya." jawab bik Asih mempersilahkan Ali masuk ke rumah.
Mama Rossi yang melihat Ali dipersilakan masuk jadi terkejut. Mama Rossi tak menyangka Ali bisa sampai ke rumahnya.
"Ali? bagaimana kamu bisa sampai kesini? sejak kapan?" mama Rossi langsung menghampiri Ali.
Ali pun menceritakan maksud kedatangannya ke kota. Sebelum kembali ke kampungnya, Ali ingin bertemu dengan Raya sebentar. Namun sayang Raya masih sekolah dan baru pulang sore hari. Ali tidak mungkin menunggunya selama itu.
"Jadi Agus ada di rumah sakit sekarang?" tanya mama Rossi. Ali hanya mengangguk.
Tak begitu lama disana, Ali pun permisi. Mungkin belum jodohnya untuk bertemu dengan Raya. Ali hanya nitip salam pada mama Rossi untuk Raya dan papanya. Mama Rossi membawakan bekal untuk Ali di perjalanan. Mama Rossi mana mungkin berpikir bagaimana Ali bisa sampai di sana.
__ADS_1
Dengan cara yang sama,Ali pulang ke rumahnya. Ali pun masih bertanya-tanya kenapa di rumah Raya ada hantu gentayangan yang ternyata adalah anak dari pembantu disana.
Sore pun tiba, Raya pulang sesuai jam sekolah. Mama Rossi pun tidak mencurigai anaknya yang ternyata bolos sekolah.
"Oh ya Ray..tadi Ali dari sini!" ucap mama Rossi. Raya senang tapi juga heran, bagaimana Ali bisa sampai di rumahnya. Karena kepo, Raya pun menanyai mamanya sampai jelas.
Setelah tahu, Raya sedikit kecewa karena tidak bisa ketemu dengan Ali. Saat Raya masuk ke kamarnya, bik Asih langsung menghampiri.
"Ada apa bik?" tanya Raya heran melihat bik Asih menghampirinya dengan mengendap-endap. Namun Raya mempersilakan bik Asih untuk masuk ke kamarnya.
"Teman non Raya itu bisa Melihat makhluk halus kah?" tanya bik Asih hari hati. Raya melihat bik Asih dengan heran. Bik Asih menjadi cemas.
"Bang Ali itu dari kampung kelahiran ku bik, dia gak cuma bisa melihat tetapi berantem dengan hantu pun bisa!" jelas Raya.
"Pantas saja tadi dia bisa menangkap Sastro."ucap bik Asih. Raya semakin terkejut mendengar bik Asih menyebut nama Sastro.
Selama ini bik Asih tidak tahu kalau Sastro sudah di tangkap kyai Arifin. Namun jika saat ini Sastro sudah kembali ke rumahnya, itu artinya dia sudah lepas dari kyai Arifin. Dilepaskan atau melepaskan diri? Raya hanya diam tidak ingin menyinggung nama Sastro di depan bik Asih. Mungkin nanti dia akan tanya pada Ilham saja tentang Sastro.
"Assalamualaikum bang..Maaf jika aku mengganggu malam malam begini" ucap Raya.
"Tidak apa Ray..Aku masih santai kok. Memangnya ada apa?" tanya Ilham balik.
Raya langsung pada intinya. Dia penasaran kenapa Sastro bisa kembali kerumahnya. Ilham pun mengerti, dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sastro. Itupun dia dengar langsung dari Abi nya. Ilham belum sempat cerita pada Raya, karena dia juga tahu ceritanya beberapa hari yang lalu. Raya pun mengerti.
"Jadi Sastro tidak cerita apapun pada kyai Arifin?" tanya Raya.
"Tidak Ray, dia hanya bilang ingin balas dendam pada orang yang membunuhnya. Namun belum ketemu orang nya. Sastro tidak tahu tempat tinggal orang yang membunuhnya itu." jelas Ilham.
"Jadi dia masih gentayangan karena ingin balas dendam?"
__ADS_1
"Kemungkinan seperti itu. Abi ingin menolongnya, tapi sepertinya dia tidak mau ada yang mencampuri urusannya. Makanya dia melarikan diri dari sini. Kamu harus hati-hati terhadapnya, dia punya suatu kekuatan. Aku takut terjadi sesuatu padamu jika berurusan dengannya."
"Iya bang, aku mengerti." Raya pun mengakhiri panggilannya dengan Ilham. Dia kembali merenung, siapa sebenarnya yang sudah membunuh Sastro? kenapa jasadnya tidak bisa ditemukan?
Raya memang sungguh penasaran. Di pun keluar dari kamarnya hendak mencari Sastro di bawah pohon yang terlihat dari kamar mamanya.
Raya keluar rumah dengan mengendap-endap, mengamati keadaan sekeliling. Setelah dipastikan aman, Raya langsung mendatangi pohon tersebut. Jam segini gorden jendela kamar mamanya sudah tertutup. Raya bisa melihatnya dari bawah sana.
"Sastro.." Raya memberanikan diri memanggil Sastro. Dia yakin Sastro ada disana meskipun saat ini dia tidak melihatnya.
"Sastro.." panggil Raya kembali. Suaranya lirih karena tidak ingin orang rumah mendengarnya.
"Ada apa mencari ku? kenapa kamu bisa melihatku?" Sastro pun muncul secara tiba-tiba. Raya terkejut dibuatnya.
"Aku memang bisa melihat makhluk seperti kamu sejak kecil. Aku tidak akan mencampuri urusanmu, jika kamu juga tidak bikin ulah di rumahku." tegas Raya.
"Ada apa?" tanya Sastro.
"Kenapa kamu tidak mau dibantu oleh kyai Arifin? Bukankah kamu ingin mencari jasad kamu?"
"Aku tau kamu yang meminta kyai itu untuk menangkap ku. Tapi aku bisa meloloskan diri. Haha ..."
"Aku tidak meminta Kyai Arifin untuk menangkap mu. Justru aku meminta beliau untuk menolong mu, mencari dimana jasad mu berada." Raya ingin memastikannya pada Sastro.
"Aku tidak percaya. Kyai itu membelengguku, apa itu bukan menangkap namanya?" protes Sastro.
"Itu karena kamu tidak menceritakan yang sebenarnya pada kyai Arifin" jelas Raya.
"Pergilah! Jangan mencampuri urusanku!" Sastro pun menghilang dari pandangan Raya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menolong mu!" Raya meyakinkan lagi, tapi Sastro sudah tidak bersuara. Raya pun kembali masuk ke dalam rumah.