
"Papa.." Raya berlari memeluk papanya.
Semua orang saling pandang melihat Ali yang ada dua. Kyai Arifin memperhatikan keduanya, namun beliau tidak bisa membedakan diantara keduanya. Ilmu jin yang menyerupai Ali sepertinya sangat tinggi, sehingga membuat orang lain yang meskipun punya Indra keenam sekalipun,menjadi tidak bisa mengenalinya. Termasuk juga Ilham dan Raya.
"Siapa diantara kalian yang benar-benar Ali?" tanya kyai Arifin masih memperhatikan keduanya dengan seksama.
Kedua Ali pun terdiam, memang begitulah Ali jika ditanya. Mereka berdua pun menunduk tak berani menatap kyai Arifin. Dan lagi lagi perilaku yang sama mereka tunjukkan, sehingga membuat semua orang di sana menjadi ragu untuk memilih.
Raya menangis di pelukan papanya. Dia sendiri juga bingung menentukan Ali yang sebenarnya. Karena kini kedua orang yang mengaku Ali tadi sudah tidak berada di tempatnya semula. Harusnya tadi Raya langsung mengungkapkan Ali yang di dekatnya adalah Ali yang bersamanya sejak dari kebun. Karena Raya terkejut dan langsung memeluk papa nya saat datang, Raya pun melupakan keberadaan Ali yang menjadi dua.
"Bagaimana kyai?" tanya papa Sigit.
"Kita bawa mereka ke rumah dulu. Kita selesaikan di rumah saja!" jawab Kyai Arifin.
Kyai Arifin pun meminta saudara saudaranya untuk mengawal kedua Ali, agar mau ikut ke rumah Kyai Arifin. Keduanya pun menurut tanpa memberontak. Mereka semua yang ada di sana pun kembali pulang.
Sesampainya di rumah kyai Arifin, Ali diminta duduk di kursi panjang berdua. Kyai Arifin dan saudara saudaranya langsung menginterogasi keduanya dengan pertanyaan yang ringan.
"Mama mana pah?" tanya Raya yang tidak menjumpai mamanya di sana.
Papa Sigit melihat ke segala arah, mencari keberadaan istrinya yang tadi masih lemas ditemani Manda dan Bu Hajjah. Namun papa Sigit tidak melihatnya lagi.
"Maaf Bu Hajjah, kalau boleh saya tahu. Dimana istri saya?"tanya papa Sigit begitu melihat istri kyai Arifin keluar membawa teh.
"Tadi Mbak Rossy pamit mau pulang saja katanya!" jawab istri kyai Arifin. Papa Sigit pun mengangguk.
"Kita selesaikan masalah Ali dulu, setelah itu kita pulang." ucap papa Sigit masih memeluk Raya.
Kyai Arifin dibantu Ilham menanyai Ali dengan pertanyaan yang sama dan dijawab secara bergantian. Namun jawaban mereka berdua sesuai dengan apa yang terjadi. Kyai Arifin semakin bimbang.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya kyai Arifin yang mulai menyerah.
Raya memperhatikan Ali yang duduk berdampingan. Raya mulai sadar dan menemukan ide bagaimana cara mengetahui Ali yang sebenarnya. Raya membisikkan sesuatu pada papanya. Papa Sigit pun mengangguk menyetujui usulan Raya. Raya mulai mendekati kedua Ali tersebut.
" Sekarang coba jelaskan, kenapa kamu membawaku ke taman bunga yang indah itu?" Raya mengajukan pertanyaan yang pastinya hanya Ali palsu yang tau jawabannya.
"Aku tidak pernah mengajakmu ke tempat itu. Karena tempat itu memang tidak ada." jawab Ali yang satu.
"Begitu aku datang ke kebun itu, aku hanya menemui Manda dan Ilham. Kamu sudah tidak ada di sana
Bukankah di tempat kita berada tadi memang tidak ada yang namanya taman bunga?" jawab Ali yang satunya.
"Siapa diantara kalian yang mencintaiku?" tanya Raya lagi.
"Bukankah kita saling mencintai Raya? aku pastikan akan membuatmu bahagia!" ucap Ali yang satu. Raya pun tersenyum. Dia kembali bertanya pada Ali yang satunya dengan pertanyaan yang sama.
"Apa jawaban kamu?" Raya menantikan jawaban Ali yang satunya.
Tiba tiba Ali yang sudah diduga Raya adalah Ali palsu menjadi resah. Matanya memerah memandang sekeliling seakan ingin mencari jalan keluar. Dan benar saja, begitu melihat ada celah dia hendak melarikan diri. Namun saudara kyai Arifin yang ada di sana langsung sigap menangkap Ali palsu tersebut.
Kyai Arifin langsung membacakan doa . Bersama saudara saudaranya,beliau mengepung Jin yang menyerupai Ali tersebut. Seketika Jin itu berubah-ubah wajahnya. Mirip semua orang yang mungkin pernah dijelma olehnya. Termasuk juga wajah nenek Sari.
Raya kembali memeluk papanya. Dia pun ketakutan. Papa Sigit langsung mengajak Raya menjauh dari kyai Arifin dan yang lainnya.
Kyai Arifin dan saudaranya akhirnya berhasil meringkus Jin yang menyerupai Ali tersebut. Beliau langsung memasukkan jin tersebut pada sebuah botol.
"Sigit..sebaiknya kamu ajak keluargamu kembali ke kota. Bukankah kamu aman di kota?" pinta kyai Arifin.
"Sepertinya di mana pun kami berada, tidak ada tempat yang aman kyai. Kami sering mengalami hal yang aneh. Namun Alhamdulillah..Allah SWT masih melindungi kami.
__ADS_1
"Ini semua pasti ulah paman saya pak Sigit!" ucap Ali dengan menunduk.
"Kenapa kamu tidak mengikuti apa yang dilakukan pamanmu Ali?" tanya papa Sigit yang merasa heran dengan sikap Ali yang menentang keluarganya.
"Karena ayah saya yang melarangnya. Saya tau itu hanya masa lalu." jawab Ali.
"Bagaimana kyai?" tanya papa Sigit meminta petunjuk pada kyai Arifin.
"Kamu pulang saja Sigit. Segera ajak keluargamu untuk kembali ke kota sekarang juga. Semoga Agus dan kakaknya tidak bisa mencelakai mu di sini!" perintah kyai Arifin.
"Terimakasih kyai..saya akan membawa keluarga saya kembali ke kota hari ini juga!" jawab Papa Sigit sangat yakin.
Ali pun pamit untuk pulang. Dia ingin tau apa yang akan dilakukan pamannya setelah tau jika Jin yang mereka kirim sudah diamankan oleh kyai Arifin.
Begitu juga papa Sigit dan Raya. Mereka pun kembali ke rumah nenek Sari untuk berkemas dan segera pulang ke rumahnya yang ada di kota.
Setelah sampai di rumah, papa Sigit segera meminta Manda dan Lily agar berkemas. Sesuatu telah terjadi, beliau tidak ingin ada kejadian aneh lagi yang menimpa keluarganya jika berlama lama tinggal di kampung tersebut.
"Iya Om.."tanpa banyak tanya lagi, Manda dan Lily langsung berkemas. Begitu pula dengan Raya yang langsung mengambil tas ranselnya dan segera memasukkan semua pakaiannya.
"Manda ..mana Tante kamu? bukannya tadi pulang bareng kamu?" tanya papa Sigit yang dari tadi tidak melihat istrinya.
"Maaf Om...tadi saya pulang sendirian. Tante Rossi bilang dompetnya ketinggalan di rumah kyai Arifin, jadi beliau kembali ke sana dan meminta saya pulang duluan."jelas Manda.
" Tapi saat kami di sana, istri saya tidak ada!' ucap papa Sigit.
"Apa?"Manda pun terkejut, jelas sekali mama Rossi bilang akan kembali ke rumah kyai Arifin dan memintanya pulang.
"Memangnya ada apa sebenarnya? kenapa semuanya jadi menghilang? tadi Raya dan sekarang Tante Rossi!" Manda menjadi gelisah.
__ADS_1
"Apa? Raya juga menghilang?" Lily menjadi heran karenanya.
"Kalian segeralah berkemas, Om harus kembali ke rumah kyai Arifin!" papa Sigit terburu buru kembali ke rumah kyai Arifin untuk mencari istrinya. Papa Sigit menjadi khawatir dengan istrinya tersebut. Jangan jangan istrinya mengalami hal yang sama seperti Raya yaitu berhalusinasi.