
Raya masih fokus mengendarai mobilnya. Begitu sampai rumah, dia mendengar teriakan mamanya yang sangat kencang itu. Dengan buru buru Raya memarkirkan mobilnya dan langsung menghampiri mamanya di kamar.
" Ada apa pak Harun?" tanya Raya panik melihat pak Harun memegang erat tangan mama Rossy begitu pula dengan bik Asih yang memegang kaki mama Rossy.
"Ibu mau lompat dari jendela .." jawab Bik Asih.
"Apa? papa mana?" Raya tidak melihat papanya sama sekali. Harusnya di jam seperti ini papanya sudah ada di rumah. Bahkan papa Sigit tidak mengabari Raya jika akan pulang terlambat.
Raya mengambil ponselnya dan menghubungi papa Sigit. Lama menunggu, namun papa Sigit tak kunjung menjawab telponnya. Padahal ponselnya sedang aktif.
" Papa kemana lagi? ini kan sudah malam? Mama tenang dulu. Ada apa? Ini Raya ma.."Raya menenangkan mama Rossy dengan memeluknya. Apa yang sebenarnya terjadi pada mama Rossy? Kenapa mama Rossi ingin lompat dari jendela?
Setelah mama Rossy tenang, Raya berjalan menuju jendela kamar mamanya. Raya melihat ke luar jendela dan mendapati sosok bayangan hitam tengah berdiri di samping pohon yang biasanya. Karena keadaan gelap, Raya tidak bisa jelas melihat bayangan tersebut.
Lampu sorot mobil yang lewat menerangi sekilas bayangan hitam di samping pohon itu. Raya melihatnya meskipun hanya sekilas dan bayangan itu pun menghilang. Mirip seorang lelaki? bukankah saat itu mama Rossy melihat nenek Sari?
"Siapa yang menghantui mama sebenarnya? lelaki apa perempuan? atau mungkin memang sosok jin yang bisa menyerupai siapapun?" pikir Raya.
Papa Sigit langsung memasuki kamar setelah mendapat laporan tentang istrinya dari pak Harun.
"Sayang..apa yang terjadi?" papa Sigit langsung memeluk mama Rossy.
"Papa darimana? kenapa malam sekali pulangnya?"Raya meninggalkan jendela dan menghampiri papanya.
"Maaf..tadi papa ada meeting sebentar. Trus sekalian ambil mobil di bengkel."jawab papa Sigit.
"Pa..Kita harus segera menyelamatkan mama. Raya takut mama kenapa-kenapa!" ucap Raya sambil memijit kaki mamanya.
"Papa pikirkan dulu.." Papa Sigit tampak memijat pelipisnya secara perlahan.
Malam itu,Raya dan papanya menemani mama Rossy yang terjaga. Mereka bergantian menjaga mama Rossy karena besok pagi harus beraktifitas kembali.
🌸🌸🌸
Hari pun berlalu..
__ADS_1
Mama Rossi sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Papa Sigit dan Raya menjadi gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi pada mama Rossy?
"Pa.. Bagaimana ini?" Raya menangis memeluk papanya.
"Papa dan om Reno akan membawa mama ke kyai Arifin. Kamu di rumah saja gapapa kan? atau nginep di rumah teman kamu sementara waktu!" Papa Sigit tidak bisa tinggal diam. Beliau tidak bisa membiarkan istrinya terus terusan seperti ini.
"Papa akan kembali ke kampung nenek dan meninggalkan Raya?" Raya tidak mau ditinggal sendirian di rumah oleh kedua orangtuanya.
"Kamu harus terus sekolah Ray.. Ada bik Asih dan pak Harun yang menemani kamu di sini. Atau ajak teman kamu nginep di sini saja kalau kamu sungkan tinggal di rumah mereka?" ucap papa Sigit.
Raya pun berpikir, dia tidak boleh egois. Semua demi kesembuhan mamanya yang sangat Raya sayangi. Raya pun menerima usulan papanya. Raya akan meminta Lily atau Manda untuk menemaninya.
"Baiklah Pa..Raya setuju! Semoga kyai Arifin bisa menyelamatkan mama" kata raya kemudian.
"Jaga diri kamu baik baik! "
" Iya Pa.."
"Pak Harun, bik Asih..tolong temani Raya di rumah ya! Saya harus membawa mamanya Raya ke kampung!" pesan papa Sigit pada pak Harun dan bik Asih.
Keesokan paginya..
Papa Sigit dan dokter Reno sudah janjian akan ke kampung halaman papa Sigit bersama. Dokter Reno sudah berjanji akan menemani Papa Sigit menemui kyai Arifin.
Papa Sigit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mama Rossi terbaring di jok belakang. Dokter Reno menjadi geram karena papa Sigit tidak ngebut, padahal jalanan sangat sepi.
"Kenapa kamu bawa mobilnya pelan sekali? kapan kita sampai kalau begini?" dokter Reno mulai tidak sabaran.
"Justru di jalan sepi begini kita harus hati-hati. Kamu tidak tahu jika di jalan sepi seperti ini selalu ada kejadian aneh yang menimpaku!" jelas papa Sigit.
"Kejadian apa?"
"Ciiitttt......"
Papa Sigit membanting kemudinya ke arah kiri guna menghindari orang menyeberang jalan secara tiba-tiba. Dokter Reno sangat terkejut dibuatnya. Beruntung nya mama Rossy Sudah dipasangkan sabuk pengaman, jadi tidak sampai jatuh.
__ADS_1
"Apa itu tadi?" tanya dokter Reno menatap papa Sigit.
"Seperti yang aku bilang, kejadian aneh yang muncul tiba-tiba!" papa Sigit pun tersenyum.
Papa Sigit dan dokter Reno turun dari mobil hendak melihat orang yang menyeberang jalan tadi. Anehnya tak ada siapapun yang lewat.
"Mana orang yang menyeberang tadi? langsung menghilang saja!" dokter Reno celingukan mencari sosok yang menyeberang secara tiba-tiba tadi.
"Itu pasti bukan orang. Ayo pergi! sudah biasa!" jawab papa Sigit yang memang sudah biasa dialaminya jika melakukan perjalanan pulang kampung.
Papa Sigit kembali melajukan mobilnya. Kali ini dengan kecepatan agak tinggi. Jalanan menuju kampung halaman papa Sigit memang sangat sepi. Mungkin hanya mobil barang yang mengangkut hasil perkebunan dari sana. Jarang ada kendaraan pribadi yang melintas, karena memang letaknya jauh dari kota.
Sore hari papa Sigit sudah sampai kampungnya. Papa Sigit langsung menuju rumah kyai Arifin karena rumah nenek Sari sudah bukan miliknya lagi.
Kyai Arifin yang tidak tahu kedatangan papa Sigit sangat terkejut melihat mobil berhenti di depan rumahnya. Namun beliau langsung tersenyum begitu melihat papa Sigit keluar dari mobil.
"Assalamualaikum kyai.." sapa papa Sigit dengan hormat.
"Waalaikumsalam..angin apa yang membawamu kembali ke sini lagi? bukankah seharusnya kamu sudah melupakan kampung ini?" balas kyai Arifin.
"Seharusnya memang seperti itu kyai..Tapi apalah daya?" papa Sigit kembali ke mobilnya dan memapah istrinya dibantu dokter Reno. Kyai Arifin yang melihat mama Rossy sangat aneh,menjadi panik.
"Apa yang terjadi pada Rossi Git?" Kyai Arifin segera menyediakan tempat untuk mama Rossy dan meminta istrinya menyiapkan air panas.
"Sejak kembali ke kota, Rossy selalu dibayang-bayangi sosok misterius yang mirip ibu. Tapi Raya bilang, sosok itu adalah seorang lelaki." jelas papa Sigit.
Kyai Arifin segera menerawang kondisi mama Rossy. Kyai Arifin tidak melihat adanya makhluk tak kasat mata yang mengikuti mama Rossy.
"Sepertinya dia adalah penghuni rumah kamu di sana. Mungkin setelah melihat keadaan Rossi, dia ingin menjadikannya sebagai teman" kata kyai Arifin.
"Jadi bukan jin kiriman dari Agus?" tanya papa Sigit.
"Bukan!"
Papa Sigit merasa sedikit lega karena yang mengganggu istrinya tidak ada sangkut pautnya dengan Agus. Namun meskipun begitu, papa Sigit tetap mencemaskan keadaan istrinya.
__ADS_1