
"Aku ingin pulang paman.."
Agus tersenyum dalam hati. Dia semakin yakin dengan keputusannya untuk kembali ke dunianya. Jika sebelumnya dia tidak peduli dengan keponakannya itu karena kebenciannya terhadap Herman yang sudah menipunya, kini Agus merasa iba karena Siska juga korban yang tidak tahu apa apa. Agus ingin menyelamatkan keponakannya juga.
"Kamu juga ingin meninggalkan tempat ini?" bisik Agus karena tidak ingin istrinya mendengarnya. Siska pun mengangguk.
"Aku punya rencana tetapi tidak bisa langsung. Kita akan meninggalkan tempat ini setelah ada kesempatan." lanjutnya.
Siska mengangguk. Meskipun dia pernah disakiti kedua pamannya, tetapi dia tidak dendam. Saat ini dia percaya dengan pamannya karena sama-sama ingin pergi dari tempat itu.
Siska pamit karena tidak ingin berlama-lama disana. Siska kembali ke kamarnya karena memang tidak ada tempat yang ingin dia kunjungi lagi.
Lagi ..Siska hanya bisa memandangi keenam anaknya yang sedang tertidur. Siska sama sekali tidak menyangka harus meninggalkan dunia remajanya dan langsung menjadi ibu dengan usia kehamilan singkat tidak seperti manusia pada umumnya.
Disisi lain, Agus terus merayu istrinya agar semakin menurut padanya. Karena memang pada dasarnya Sofia sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya. Agus selalu memanjakan Sofia dan menceritakan kehidupan manusia di dunianya.
Karena Sofia memang tidak tahu dunia luar, dia pun sangat tertarik dengan cerita Agus. Sofia semakin penasaran dengan kerlap kerlip lampu di malam hari yang diceritakan oleh Agus.
"Apakah kamu akan membawaku untuk melihat keindahan di duniamu?" tanya Sofia berharap.
"Sudah aku bilang jika aku tidak tahu caranya kembali ke sana!" jelas Agus dengan lembut.
"Oh iya..Aku kan ingin tanya pada kakak! Nanti jika kakak sudah memberitahuku caranya, kamu harus janji akan membawaku kesana." tegas Sofia menghilangkan sifat pemalunya.
__ADS_1
"Tentu saja sayang..." Agus mencubit hidung Sofia hingga membuat Sofia tersipu.
⭐⭐⭐
Di dunia manusia...
Setelah kabar kebohongan yang menimpa keluarga Bisri dari keluarga Hambali diungkap oleh kyai Arifin kepada warga, kini warga kampung mulai bernapas lega.
Desas desus hilangnya wanita yang dulu dijadikan tumbal oleh keluarga Hambali hilang begitu saja. Generasi sudah berganti, tak banyak yang tahu tentang cerita leluhur mereka. Para orang tua dan sesepuh yang tahu cerita sebelumnya hanya diam menyimpan dalam dalam kisah masa lalu itu.
Setelah kyai Arifin dan istrinya memberikan banyak tauziah kepada warga , kini warga mulai lebih berpikir terbuka. Kisah mistis di kampung tersebut secara perlahan mulai bisa dikendalikan.
Ali masih seperti biasanya, hanya berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah mendapat wejangan dari kyai Arifin, Ali mulai membuktikan jika ritualnya tidaklah benar. Sekalipun Ali meninggalkannya, kyai Arifin memastikan jika tidak akan terjadi apapun pada Ali.
Awalnya Ali meneruskan ritual ayahnya hanya untuk melindungi diri dan itupun hanya memberikan sesembahan ayam hutan. Dan setelah mencoba sekali meninggalkan, ternyata memang tidak terjadi apapun padanya. Ali mulai sadar jika apa yang dilakukannya sangatlah tidak benar,
"Memang sudah sejak awal seharusnya bang Ali memulai hidup baru." ucap Raya saat Ali menemuinya lewat mimpinya.
Meskipun Ali sudah mempunyai ponsel, dia masih merasa gaptek. Ali suka grogi sendiri saat ngobrol lewat telpon dengan Raya. Namun jika langsung bertemu rasanya memang berbeda. Seperti malam ini, Ali lebih memilih untuk menemui Raya dalam mimpinya.
"Iya Ray.. Aku sudah sendiri sejak ditinggal ayahku. Sejak saat itu aku hanya menyendiri dan bahkan sangat jauh dari pamanku. Jadi aku memang kurang bergaul." jawab Ali.
Sekarang Ali lebih sering bertemu dengan Raya dalam mimpi. Mereka semakin dekat setelah sering bertemu. Sejak awal bertemu, Raya memang sudah menyimpan rasa pada Ali, tapi dia kurang percaya diri. Kini Raya sangat senang meskipun hanya bertemu saja.
__ADS_1
"Apakah bang Ali tidak ingin sekolah lagi?" Raya memastikannya lagi meskipun dulu pernah menawarkan pada Ali agar meneruskan pendidikannya dan papanya juga bersedia untuk membiayainya sekolah Ali asalkan dia mau pindah ke kota.
Saat itu Ali hanya bisa menolaknya karena dia tidak punya keinginan meninggalkan rumah dan kampung halamannya seperti kebanyakan pemuda disana. Sekarang setelah beberapa kali mendapat nasehat dari orang orang berpendidikan, Ali semakin bisa berpikir.
"Apakah om Sigit benar bersedia untuk menyekolahkan ku. Sejujurnya aku tidak punya biaya untuk sekolah." jawab Ali.
Raya sangat senang mendengar Ali ingin sekolah lagi. Dia pun meyakinkan Ali agar tetap semangat meraih cita-cita. Raya juga memastikan jika papanya memang bersedia untuk membiayai sekolah Ali sampai lulus bahkan jika Aku ingin melanjutkannya ke yang lebih tinggi lagi.
"Tapi nantinya aku pasti akan berhutang Budi banyak pada om Sigit." ucap Ali kemudian.
"Itu semua tergantung kamu nya bang. InsyaAllah papa membantu itu dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Jika bang Ali nantinya bisa sukses, aku yakin papa sudah sangat bersyukur. Karena memang itu yang dibilang beliau tentang bang Ali dulu." Raya tetap meyakinkan Ali agar tidak berubah pikiran.
Memang sejak awal papa Sigit ingin membantu Ali dalam bidang pendidikan. Namun saat itu Ali menolaknya, tetapi jika suatu hari nanti Ali berubah pikiran dan ingin sekolah lagi, papa Sigit sudah siap untuk membantu. Ini semata-mata hanya untuk rasa terimakasih kepada Ali dan ayahnya yang sudah merawat nenek Sari saat ditinggal sendiri oleh papa Sigit.
Ali undur diri karena sudah terlalu lama meninggalkan raganya. Jika diteruskan bisa bisa raganya sudah ditempati makhluk lain dan itu akan sulit bagi Ali untuk merebutnya lagi.
Hari sudah larut, Raya juga harus istirahat karena besok masuk sekolah. Malam itu ternyata Raya malah gak bisa tidur. Dia pun menelpon sahabatnya Lily dan Manda.
Ternyata kedua teman Raya masih terjaga. Lily sudah tidur lama tadi siang, jadi sekarang belum ngantuk. Sedangkan Manda habis minum kopi jadi membuat matanya terbuka lebar.
Ketiganya masih ketawa ketiwi ngobrol lewat VC, hingga Raya melihat sesuatu di belakang Lily dan sedang memperhatikan temannya tersenyum. Raya memberi kode pada Manda tapi sepertinya Manda tidak memahami. Hingga Raya mengirimkan pesan pada Manda agar memperhatikan apa yang ada di belakang Lily.
Manda menajamkan matanya dan melihat dengan seksama apa yang dikatakan Raya. Manda sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya tetapi tidak ingin mengungkapkannya pada Lily. Manda dan Raya sangat yakin jika dia sampai melihatnya pasti akan menjerit histeris..
__ADS_1
Raya pun menghubungkannya pada Ali. Ali baru saja menemuinya lewat mimpi, pasti saat ini juga belum tidur. Ali yang mengangkat panggilan VC dari Raya langsung grogi karena terhubung dengan Manda dan Lily juga. Namun rasa groginya langsung hilang ketika melihat sesuatu di belakang Lily.
"Itu.." ucap Ali spontan.