Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 23(hati bang Ali)


__ADS_3

Sementara kerangka yang diduga adalah milik nenek Sari telah dibawa ke rumah sakit di kota untuk di autopsi oleh tim forensik, mama Rossi pun menggelar acara tahlilan di rumah nenek Sari guna mengirim doa khusus untuk nenek Sari.


Beberapa warga pun turut diundang agar ikut mendoakan arwah nenek Sari supaya mendapatkan tempat yang layak di sisi sang pencipta. Raya,Lily dan juga Manda ikut membantu mama Rossi menyiapkan segala kebutuhan untuk acara tasyakuran.


Acara berjalan lancar. Lantunan doa yang dipimpin langsung oleh kyai Arifin berjalan dengan kusuk dan kidmad. Setelah acara selesai, semua warga yang ikut tahlilan pamit undur diri. Begitu juga dengan kyai Arifin dan keluarganya. Mereka pun pamit karena hari sudah larut malam.


"Kyai,ibu hajah..saya mewakili keluarga nenek Sari mengucapkan banyak terimakasih. Berkat anda semua,nenek Sari kami sudah ditemukan." ucap mama Rossi saat mengantar kepulangan kyai Arifin beserta istri dan anaknya.


"Sama sama Bu Rossi,semoga semua kembali normal kedepannya. Dan keluarga Bisri selalu dalam lindungan Allah SWT." ucap Kyai Arifin.


"Aamiin...sekali lagi terimakasih." Mama Rossi tak bisa lagi membendung air matanya. Istri kyai Arifin pun memeluk mama Rossi dan menenangkannya.


Kini semua telah berlalu,tapi mama Rossi masih merasa was-was dengan nasib keluarga nya. Apakah keluarga Hambali tetap tidak mau mengakhiri semua pertikaian yang telah lalu terhadap keluarga suaminya? Mama Rossi pun berpikir. Haruskah dia menemui Agus untuk menyelesaikan semua ini?


🌸🌸🌸


Keesokan harinya..


Papa Sigit sudah kembali dari kota bersama kerangka milik nenek Sari yang telah di autopsi. Berdasarkan hasilnya, bahwa tidak ada tindakan kekerasan terhadap jenazah nenek Sari. Kemungkinan nenek Sari memang telah meninggal dunia.


"Bagaimana pa?" tanya mama Rossi.


"Tidak ada ma, tidak ada yang namanya tindakan kekerasan pada jenazah ibu. Sepertinya ibu memang murni telah meninggal dunia." jawab papa Sigit.


Dan untuk pemakaman yang tidak layak sebelumnya, pihak polisi tidak bisa mengungkapkan kasusnya. Karena berdasarkan keterangan dari beberapa warga, tak ada satu alibi pun yang menjurus pada tindakan pembunuhan. Apalagi satu satunya keluarga nenek Sari yaitu papa Sigit tidak ada di lokasi kejadian karena sudah pindah ke kota.


Polisi tidak bisa bertindak banyak karena tidak ada petunjuk khusus untuk menemukan tersangka yang telah memakamkan nenek Sari di belakang rumahnya secara tidak wajar.


Kerangka nenek Sari pun kini akan dimakamkan di tempat pemakaman umum untuk menghindari kejadian kejadian yang mungkin bisa membuat warga terutama tetangga menjadi resah.


Acara pemakaman berjalan lancar, semoga nenek Sari menjadi tenang di alam barunya. Raya dan kedua orangtuanya membacakan doa di pusara nenek Sari. Setelahnya mereka meninggalkan makam nenek Sari karena harus segera berkemas meninggalkan kampung untuk kembali ke kota.

__ADS_1


"Bagaimana dengan rumah ibu di sini pa?" tanya mama Rossi.


"Kita jual saja, atau kita hibahkan untuk kampung agar dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna." jawab papa Sigit yang tidak mau ambil pusing dengan rumah ibunya itu. Saat hendak pulang dari pemakaman, secara tak sengaja Raya menjumpai Ali sedang mengawasi mereka dari tempat yang tidak terlalu jauh.


Ali pun pergi setelah melihat keluarga Raya akan meninggalkan makam. Raya yang melihatnya segera pamit pada kedua orangtuanya untuk pulang duluan.


"Papa.. Raya pulang jalan kaki saja! Raya ingin menikmati udara segar untuk terakhir kalinya." Raya pun mencium kedua tangan orangtuanya dan pergi meninggalkan mereka.


"Hati hati Raya! Langsung pulang ya? jangan keluyuran lama lama." ucap papa Sigit sedikit keras karena Raya sudah agak jauh dari mereka. Raya yang masih mendengarnya hanya melambaikan tangannya.


Raya berjalan sendirian menuju rumah Ali karena Manda dan Lily sudah pulang duluan sejak tadi. Raya sudah kehilangan jejak Ali, oleh karena itu dia langsung menuju rumahnya.


" Bang Ali!" sapa Raya saat menjumpai Ali sedang membuka pintu hendak masuk ke dalam rumah.


Ali begitu kaget melihat Raya sudah ada di belakangnya. Raya segera menghampiri Ali. Ali menjadi salah tingkah.


"Raya..apa kabar? kamu sudah sehat?" tanya Ali gugup.


"Kamu mau minum apa?" tanya Ali.


"Tidak usah bang, terimakasih! Oh ya bang, sekalian aku mau pamit mungkin besok aku akan kembali ke kota." Raya pun pamitan pada Ali. Mungkin memang sebaiknya Raya meninggalkan kampung tersebut.


"Iya Raya..memang seharusnya kamu meninggalkan kampung ini. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu!" ucap Ali.


"Memangnya kenapa bang? kenapa bang Ali begitu peduli padaku?" tanya Raya penasaran. Ali pun jadi salah tingkah lagi. Dia keceplosan dengan perhatiannya terhadap Raya.


"Tidak ada! pulanglah ke kota!" jawab Ali.


"Oh ya bang, aku boleh tau gak? apa yang menyebabkan nenekku meninggal? saat itu aku melihat ayah bang Ali yang telah menguburkan nenek di belakang rumah." ucap Raya meminta penjelasan Ali. Ali pun terkejut mendengar ucapan Raya.


"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Ali.

__ADS_1


"Aku melihat bayangan di masa lalu. Saat itu kamu masih kecil. Kamu juga ada di sana kan, saat nenek Sari meninggal?" kata Raya.


"Aku tidak tau cerita sebenarnya. Saat itu nenek kamu depresi, beliau selalu memanggil nama cucunya. Hingga setiap anak kecil yang melintas di depan rumahnya, dipikirnya adalah cucunya. Hingga saat itu, ayahku mengobati nenek kamu. Namun ternyata nenek kamu tidak terselamatkan. Ayahku jadi panik, makanya beliau menguburkan nenek kamu saat itu juga!" cerita Ali.


"Tapi bang.."


"Nenek kamu meninggal sendiri karena depresi. Apa kamu akan menuduh ayahku yang telah membunuh beliau?" Ali menatap Raya yang tengah menunduk.


"Raya.."


"Iya bang.."


"Sebaiknya kamu pulang, hari sudah senja. Tidak baik..."


" Tidak baik untuk anak gadis berada di luar rumah saat senja tiba" Raya memotong ucapan Ali. Dia pun segera berdiri dan hendak meninggalkan Ali.


"Raya..maafkan aku. Aku menyukaimu!" ucap Ali lirih, namun Raya masih bisa mendengarnya.


"Bang.."


"Pergilah! pulanglah ke kota dan jangan kembali lagi ke kampung sini. Aku tidak bisa menghentikan tindakan Pamanku terhadap keluargamu. Aku tidak ingin terjadi apa apa padamu!" ucap Ali.


"Kenapa bang?" tanya Raya.


"Aku...aku tidak ingin terjadi lagi seperti yang dialami Tata. Kumohon Pergilah!" ucap Ali.


"Kenapa kamu mengungkapkannya bang?" Raya merasa kecewa, kenapa Ali harus mengutarakan isi hatinya jika hanya menyuruhnya untuk meninggalkannya. Raya pun menangis dan berlari pulang ke rumah.


"Karena aku tidak ingin kamu membalasnya Raya!" teriak Ali saat Raya telah sampai di depan pintu. Raya berhenti sejenak dan memandang Ali.


"Terimakasih bang!" Raya menghapus air matanya. Dia tersenyum dan segera kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


"Maafkan aku Raya!" batin Ali.


__ADS_2