Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 66 (Kembalinya Tyo)


__ADS_3

Raya sedang duduk sendiri di perpustakaan. bukannya membaca buku atau belajar karena sebentar lagi ujian, dia malah asik melamun. Buku yang ada di hadapannya hanya dia bolak balik tanpa membacanya.


"Hey melamun aja! Ada berita baru nih!" Manda dan Lily langsung menghampiri Raya dan mengagetkannya.


"Berita apaan?" Raya menutup buku yang tidak dia baca dan mulai fokus dengan cerita kedua temannya itu.


"Tyo Sudak masuk sekolah lagi." Manda pun berbisik karena penjaga perpustakaan sedang mengawasi mereka.


Perpustakaan sekolah mereka memang sangat ketat, siswa dan siswi yang sudah masuk ke perpustakaan dilarang mengeluarkan suara. Jadi di perpustakaan tersebut sangat hening dan hanya terdengar suara kertas yang di bolak-balik karena dibaca. Karena tidak mau kena denda jika membuat keributan, Raya mengajak kedua sahabatnya keluar dan pergi ke halaman belakang sekolah.


"Bukannya Tyo amnesia? apa dia sudah sembuh?" Raya pun penasaran dengan cerita Manda dan Lily yang kurang jelas.


"Aku belum ketemu Tyo langsung, tadi kami berdua hanya dengar dari beberapa siswa yang ngobrol pas kita lewat. Iya kan Ly?" Manda meminta pengakuan dari Lily.


"Betul! untuk lebih jelasnya mending kita cek ke ruang kepala sekolah." usul Lily.


"Ayo!" Raya dan kedua sahabatnya langsung menuju ruang kepala sekolah untuk memastikan jika Tyo benar benar sudah sembuh dan kembali ke sekolah.


Raya, Manda dan Lily langsung mengintip dari bawah jendela. Ternyata benar, Tyo bersama kedua orangtuanya sedang berbicara dengan kepala sekolah. Tyo bersikeras untuk tetap sekolah disana, dia juga berjanji bisa menyusul ketinggalan belajarnya. Namun sang mama bersikeras meminta kepala sekolah untuk memindahkan kelasnya.


"Kenapa harus pindah kelas sih?" Manda pun heran mendengar ucapan mamanya Tyo.


"Biar gak sekelas dengan kita lah, apalagi dekat dengan Raya." jawab Lily.


"Ternyata mamanya Tyo memang dendam dengan Raya. Untung saja Tyo sudah sadar" Manda menggerutu tidak senang dengan sikapnya mama Tyo, apalagi jika teringat waktu mereka diusir dari rumahnya dulu.


"Ayo kita kembali ke kelas" ajak Raya. Kedua sahabatnya tidak banyak tanya, mereka pun kembali ke kelasnya.


Saat sampai di kelas, Raya, Lily dan Manda langsung ke bangku yang ada di pojokan. Itu adalah bangku kebanggaan Raya. Ternyata Raya lebih suka duduk di pojokan. Dulu dia satu bangku dengan Tyo juga di sana.

__ADS_1


"Apa rencana mu Ray?" Manda pun penasaran. Lily hanya menyimak saja.


"Aku tidak masalah jika Tyo pindah kelas. Yang penting dia sudah sembuh dan ingat dengan kita. Nanti jika ada kesempatan asalkan dia tidak didampingi mamanya, kita akan interogasi dia. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padanya." Raya pun sudah punya rencana ingin menemui Tyo tanpa ketahuan mamanya.


Sebelum selesai memberitahu rencananya kepada kedua temannya untuk menemui Tyo, guru kelas sudah datang dan mulai mengajar. Raya dan teman temannya membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing. Raya masih memikirkan tentang Tyo. Lama pelajaran berlangsung, Tyo tak kunjung masuk ke kelas.


" Apa dia memang pindah kelas? ya sudahlah! pasti ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Kalau dia masih amnesia bagaimana?" Raya ternyata melamun lagi, dia tidak fokus dengan pelajaran hari ini. Untung saja guru pengajar tidak begitu menghiraukannya.


Saat pulang sekolah, Raya mengajak Lily dan Manda menunggu di gerbang sekolah. Mereka ingin memastikan tentang Tyo. Namun Raya masih belum berani untuk bertemu langsung, jadi mereka bersembunyi di samping pos satpam.


Ternyata yang ditunggu datang juga. Tyo keluar dari sekolah, berarti benar dia memang pindah kelas. Saat Raya ingin memanggil Tyo, ternyata mamanya sudah menunggu di luar gerbang sekolah. Raya mengurungkan niatnya untuk menemui Tyo, bukan rejekinya.


"Gimana Ray?" tanya Lily greget karena tinggal sedikit lagi bisa ngobrol dengan Tyo.


"Besok saja, masih ada kesempatan." Jawab Raya, dia pun mengajak kedua sahabatnya untuk pulang setelah mobil Tyo meninggalkan sekolah.


 🌹🌹🌹


"Apa mama dan bik Asih pergi ke pasar? siang siang begini?" Raya segera menelpon mamanya tapi tidak tersambung. Raya juga menelpon papanya, tapi tidak diangkat. Raya langsung menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Saat melewati kamar bik Asih, Raya mendengar suara seseorang sedang menangis. Bukan suara bik Asih, tapi suara seorang lelaki. Siapa?


Raya mula panik, tidak mungkin itu Sastro. Karena saat ini Sastro sudah dibelenggu oleh kyai Arifin di kampungnya. Saat itu Ilham bilang jika kyai Arifin sudah membelenggu Sastro karena belum memberikan informasi apapun tentang dirinya. Raya mendekatkan telinganya di balik pintu kamar bik Asih. Suara itu sangat jelas, hanya suara tangisan pilu. Raya pun trenyuh.


"Nona ngapain?" suara bik Asih mengagetkan Raya. Raya langsung melompat dari tempatnya.


"Bik Asih bikin kaget saja!" Raya mengelus dadanya.


"Maaf non.." Bik Asih langsung membuka pintu kamarnya. Suara tangisan itu sudah hilang.

__ADS_1


Bik Asih sengaja membuka pintu kamarnya dengan lebar, biar Raya bisa melihat ke dalamnya. Raya celingukan memperhatikan dengan seksama seluruh sudut ruangan kamar bik Asih. Namun Raya tidak menemukan siapapun di dalam kamar bik Asih. Raya segera meninggalkan kamar bik Asih. Dia juga tidak jadi ke kamarnya, melainkan mencari mamanya di kamar. Bik Asih sudah pulang berarti mamanya juga pasti pulang.


Rossi merebahkan tubuhnya karena lelah. Raya langsung menghampiri mamanya.


"Kamu kenapa belum ganti baju?" Rossy kembali duduk saat melihat Raya menghampirinya.


"Mama darimana? kenapa ditelpon tidak bisa?pintu gak di kunci lagi" Raya langsung memeluk mamanya.


"Mama cuma ke rumah Bu RT sama bik asih. Gak kemana mana."


"Pak Harun kemana, kok mobil mama juga gak ada?" Raya Mash penasaran karena masih ada yang belum ditemuinya.


"Kau ini..Pak Harun pinjam mobil mau mengantarkan adiknya ke luar kota. Besok baru kembali."


"Oohh.."


🌹🌹🌹


Malam itu, saat Raya hendak tidur tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor baru yang belum tersimpan di ponselnya. Raya tidak menerimanya karena dia tidak mau menanggapi nomor baru. Namun setelah membaca pesan dari nomor tersebut, langsung Raya angkat begitu nomor itu menelponnya lagi.


"Tey..itu kamu?" Raya ingin menangis tapi dia tahan.


"Rey..aku kangen sama kamu." Tyo menelpon Raya dengan suara pelan. Ternyata Tyo memang sudah kembali. Tyo sudah sadar dan hanya Raya yang ada di ingatannya.


"Besok, aku tunggu kamu di samping sekolah."


"Kamu mengajakku bolos?" tanya Raya heran. Dulu Tyo paling anti dengan yang namanya bolos sekolah.


"Mau?"

__ADS_1


"Oke!"


__ADS_2