
"Papa..mama..." Lily berlari menuju kebun belakang.
Karena masih malam, suasana disana tampak sunyi. Hanya lampu penerangan 5 Watt yang ada, itupun di atas pintu dapur. Sedangkan area sekitarnya sangat gelap. Hanya remang remang terlihat karena cahaya bulan.
Lily dan Raya mengedarkan pandangannya di sekitar kebun yang tak begitu luas itu. Tak ada apapun disana, semua tampak tenang. Hingga ...
Om Bagas langsung berlari ke arah sudut rumah. Sepertinya beliau melihat sesuatu disana. Papa Sigit dan om Reno segera mengikuti begitu juga dengan Raya dan Lily.
"Ada apa?" tanya om Reno pada om Bagas.
Om Bagas tidak menjawab apa apa karena belum pasti dengan apa yang dirasakannya. Firasatnya mengatakan disitu seperti ada seseorang sebelumnya. Namun setelah didekati hanya ada gundukan tanah saja .
"Gundukan apa ini? aku tidak pernah melihat ada gundukan sebesar ini di sini." Lily pun memikirkan sesuatu. Sepengetahuannya di kebun ini memang tidak ada gundukan sebesar ini apalagi kelihatannya masih baru.
"Sepertinya ada yang aneh dengan gundukan ini.." om Bagas masih mengira ngira hingga Raya melihat sesuatu yang tak lazim meskipun pandangannya terhalang pada kegelapan.
"Itu..." tunjuk Raya membuat semua langsung mengarah pada petunjuknya.
Sebuah tangan keluar dari gundukan tanah tersebut. Lily yang mengenali cincin di jari manis tangan tersebut langsung histeris.
"Mama...." Lily berteriak sekencang-kencangnya hingga pingsan. Untung saja Raya ada di samping Lily dan segera menolongnya begitu juga dengan papa Sigit.
Om Reno segera menelpon sahabatnya yang menjadi polisi dan menceritakan kejadian perkara kemudian mengirimkan lokasinya. Lebih beruntung lagi karena sahabat om Reno yang bernama om Haris sedang tugas malam.
Mendengar cerita om Reno,tentu saja om Haris langsung mengerahkan anak buahnya menuju TKP. Sebelumnya saat kasus Sastro,beliau juga yang menangani kasus tersebut dan sekarang mendapat kenaikan pangkat karena berhasil memecahkan kasus penculikan dan pembunuhan. Jika kasus kali ini bisa diselidikinya pasti akan banyak prestasi yang beliau dapat lagi.
Tak berapa lama Om Haris sudah datang bersama dengan tim forensik yang sudah dihubungi sebelumnya. Mereka pun melakukan olah TKP.
Setelah gundukan tanah itu digali, ternyata ditemukan dua mayat lelaki dan perempuan yang dikubur dengan tidak wajar.
__ADS_1
"Sepertinya mereka langsung dimasukkan ke dalam lubang begitu saja." ucap om Haris setelah menyelidiki kasusnya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiunn.." ucap papa Sigit dan om Reno bersamaan.
Raya masih menemani Lily yang belum sadarkan diri. Papa Sigit memanggil Raya sebentar untuk melihat dua mayat tersebut.
"Innalilahi wa innailaihi rojiunn...Itu kedua orangtua Lily Pa..." ucap Raya dan membuat semua orang disana mengerutkan dahi.
Raya pun menceritakan kejadian beberapa saat sebelum mereka memutuskan untuk datang ke rumah Lily. On Haris mengerti akan sesuatu.
"Jadi semua ada kaitannya dengan pembantu perempuan itu?" om Haris berasumsi.
Raya hanya bisa kembali menemui Lily dan berharap sahabatnya itu bisa tabah mendengar kabar kedua orangtuanya setelah sadar nanti. Raya juga memberi kabar pada Manda saat itu juga. Namun sepertinya Manda masih tidur pulas jadi Raya hanya mengirim sebuah pesan.
Tak lama kemudian, Lily sudah sadarkan diri dan terus memanggil nama kedua orangtuanya. Raya berusaha menenangkan Lily sebelum menceritakan semuanya. Lily sudah sedikit tenang dan ingin mendengar kabar kedua orangtuanya dari Raya.
Salah seorang dokter yang bergabung dengan tim forensik juga sudah memeriksa Lily dan mengatakan jika Lily baik baik saja dan hanya merasa syok aja mendengar kabar orangtuanya. Jadi tidak perlu dirawat di rumah sakit.
"Bagaimana kelanjutannya Ren?" tanya papa Sigit kepada om Reno.
"Haris bilang harus menunggu anaknya sadar untuk mencari tahu keberadaan pembantunya itu. Raya.. kamu tahu rumahnya wanita itu?" tanya om Reno pada Raya , mungkin saja bisa langsung menggerebeknya tanpa menunggu Lily sadar. Namun Raya tidak tahu dimana mbak Dwi tinggal karena memang tidak terlalu dekat, apalagi Lily juga tidak pernah cerita tentang pembantunya itu.
Mereka menemui jalan buntu dan harus menunggu Lily sadar agar bisa memberikan keterangan tentang pembantunya itu.
🪦🪦🪦
Sementara itu jauh di pinggiran kota tampak seorang wanita sedang frustasi menjambak rambutnya sendiri.
"Bagaimana ini.. Kenapa aku bisa kalap seperti itu? Selama ini aku bisa menahan emosiku dan mencari alasan, tapi yang tadi?"
__ADS_1
Mbak Dwi meremas bajunya dan menggigitnya. Dia tak habis pikir bisa melakukan perbuatan keju itu. Dia yakin setelah ini pasti akan menjadi buronan. Tanpa berpikiran panjang, mbak Dwi segera meninggalkan kota.
Hari menjelang pagi saat mbak Dwi sudah ada di luar kota. Dia tidak ingin sampai ketangkap polisi. Dengan berganti kendaraan, dari Bis, angkot sampai kereta api, mbak Dwi sudah meninggalkan kota besar itu dan sekarang sudah di pelabuhan. Mungkin keluar pulau akan membuatnya sedikit merasa aman .
🪦🪦🪦
Masih di rumah Lily, polisi menggeledah kamar orangtua Lily dan juga pembantunya itu. Mungkin ada sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti.
Tapi sepertinya tak ada yang ganjil karena berdasarkan petunjuk pada korban, mereka mati dicekik. Namun salah satu anggota polisi yang menggeledah kamar mbak Dwi menemukan sebungkus peralatan mencurigakan.
Itu adalah seperangkat alat ritual. Om Bagas mengetahuinya karena dia juga melakukan hal tersebut. Namun sepertinya tuan yang disembah tidak sama dengan nya.
"Jadi dia melakukan pemujaan?" batin om Bagas.
Mereka mengamankan barang tersebut untuk dijadikan bukti. Om Bagas diam saja tidak ikut membahasnya. Om Reno juga tidak ingin melibatkan om Bagas dalam penyelidikan. Karena pada awalnya om Reno mengajak om Bagas untuk mencaritahu keberadaan makhluk lain yang diceritakan Raya.
Lily pun sadar dari pingsannya. Dia mencoba tegar setelah mengingat kejadian naas yang menimpa kedua orangtuanya. Lily terus memeluk Raya. Kini dia sudah yatim piatu, tak ada keluarga lain lagi. Lily juga tidak tahu keluarga orangtuanya yang lain karena kedua orangtuanya tidak pernah menceritakan keluarga besarnya.
"Kamu gak usah khawatir Ly, mulai sekarang kamu bisa ikut Om dan tinggal bersama Raya. Anggap saja saudara." ucap papa Sigit tahu bagaimana perasaan Lily yang sudah kehilangan kedua orangtuanya.
"Iya Ly...mulai sekarang tinggal bersamaku. Kita adalah saudara." ucap Raya.
"Terimakasih Ray.. terimakasih Om.." Lily merasa sedikit tenang karena masih ada Raya dan keluarganya yang mau menampungnya.
Karena merasa sudah agak baikan, polisi pun memintai keterangan dari Lily. Cerita yang disampaikan Lily sama persis dengan yang dikatakan Raya. Jadi polisi hanya bisa mencaritahu rumah mbak Dwi agar segera bisa dimintai keterangan.
Memang sebelum, sesaat dan sesudah kejadian mbak Dwi tidak ada di tempat. Namun dari cerita yang tersampaikan dan hilangnya mbak Dwi yang tiba-tiba sudah bisa dipastikan jika mbak Dwi memang terlibat dengan kejadian tersebut.
Setelah mendapatkan alamat mbak Dwi, pagi itu juga om Haris mengerahkan timnya untuk mencari keberadaan mbak Dwi di rumahnya yang ternyata lokasinya tak jauh dari rumah Lily.
__ADS_1