Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 24(kedatangan paman Agus dan paman Bayu)


__ADS_3

Raya pulang ke rumah dengan hati goyah. Dia tidak menyangka jika Ali mengutarakan isi hatinya. Namun Raya senang karena tau isi hati Ali terhadapnya.


Begitu sampai rumah, Raya langsung membersihkan dirinya karena tadi baru pulang dari makam nenek Sari sebelum ke rumah Ali. Raya segera masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Manda dan Lily yang melihatnya hanya saling pandang tanpa bertanya. Mama Rossi yang melihat putrinya sangat aneh segera menghampiri Raya.


"Sayang.. Kamu kenapa?" tanya mama Rossi membelai rambut putrinya tersebut. Manda dan Lily pun ikut mendekati Raya.


"Aku tidak apa-apa ma..Kapan kita kembali ke kota?" tanya Raya balik.


"Mama kurang tau. Papa kamu masih ingin konsultasi tentang suatu hal pada kyai Arifin." jawab Mama Rossi. Raya pun kaget mendengarnya.


"Liburan kamu kan masih beberapa hari lagi. Tidak masalah kan?" ucap mama Rossi sambil memandang ke arah Manda dan Lily. Mereka pun mengangguk.


"Ada yang ingin papa tanyakan pada kyai Arifin. Jadi kepulangan kita ditunda beberapa hari lagi. Gapapa kan?" tiba-tiba papa Sigit sudah berada di samping pintu kamar.


"Papa sudah pulang. Mau makan sekarang?" tawar mama Rossi. Papa Sigit pun menggeleng. Mungkin memang belum lapar. Lagipula belum waktunya makan malam.


Mama Rossi meninggalkan Raya dan kedua temannya di kamar. Mama Rossi mengajak papa Sigit ke ruang tamu dan menanyakan kenapa tidak jadi ke kota besok.


"Memangnya ada hal serius apa mas? sampai sampai kita tidak jadi pulang?" tanya mama Rossi serius.


"Aku hanya ingin membahas masalah rumah ini sama kyai Arifin. Siapa tau ada yang mau membeli. Aku ingin setelah kita kembali ke kota, aku tidak kepikiran rumah ini lagi." ucap papa Sigit dilema.


"Tapi rumah ini warisan orang tua kamu mas. Disini penuh kenangan masa kecil kamu. Apa kamu yakin akan memusnahkan semua kenangan masa lalu kamu?" Mama Rossi sedikit kecewa jika rumah mertuanya harus dijual. Namun beliau bisa berbuat apa?


Papa Sigit hanya diam, beliau masih bingung dengan keputusan yang akan diambilnya. Mama Rossi pun bangkit hendak ke dapur membuatkan teh untuk suaminya. Mungkin memang harus segera mencari solusi terbaik untuk kedepannya.


Sementara itu di kamar...


Raya hanya rebahan memandang langit-langit kamarnya. Raya terus kepikiran tentang ungkapan cinta Ali. Haruskan Raya bercerita pada kedua sahabatnya itu? tapi Raya takut menyinggung Lily, apalagi saat ini mereka baru saja baikan setelah kejadian waktu itu.

__ADS_1


"Raya..kamu kenapa?" tanya Manda yang penasaran melihat sahabatnya hanya diam saja sejak tadi.


" Tidak ada! Aku hanya kepikiran nenek saja!" jawab Raya.


Manda tidak percaya dengan jawaban Raya, pasti Raya menyembunyikan sesuatu darinya. Atau mungkin karena ada lily, jadi Raya tidak berani berterus terang.


"Apa mungkin tentang bang Ali?" batin Manda.


Mereka kembali terdiam, hingga dikejutkan oleh mama Rossi yang meminta mereka agar segera mengambil wudhu karena papa Sigit mengajak mereka untuk sholat Maghrib berjamaah.


Raya, Lily dan Manda segera bergegas karena tidak ingin menundanya melaksanakan kewajiban mereka.


Keesokan harinya..


Setelah sarapan, papa Sigit mengajak semua orang untuk berangkat ke rumah kyai Arifin. Lily menolak karena ingin tiduran saja di rumah. Akhirnya mereka berangkat ke rumah kyai Arifin tanpa Lily.


Pada saat yang bersamaan,Ilham putra kyai Arifin keluar dari kamarnya. Manda yang melihatnya jadi terpukau. Setelah beberapa waktu yang lalu Manda melihatnya tidak cukup jelas, kini Manda melihat dengan sangat nyata ketampanan Ilham dari dekat. Manda seakan terhipnotis dengan ketampanan Ilham. Raya yang melihatnya langsung menyenggol Manda agar tidak berlebihan.


" Aku gak nyangka aja, selain bang Ali ternyata masih ada makhluk tampan yang lain di kampung ini!" bisik Manda pada Raya. Raya hanya tersenyum tipis, namun dia juga memperhatikan Ilham yang ternyata memang benar apa yang dikatakan Manda. Ilham tidak kalah ganteng dari Ali.


Raya dan Manda hanya duduk manis mendengarkan apa yang diceritakan papanya kepada kyai Arifin tentang rumah nenek Sari. Sesekali Raya merasa salah tingkah karena ternyata Ilham memperhatikannya.


"Sepertinya semua lelaki tampan di kampung ini hanya melirik mu. Aku jadi cemburu!" bisik Manda yang melihat pandangan Ilham hanya tertuju pada Raya.


Raya menjadi tak enak hati pada Manda.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Ini tentang bang Ali!" balas Raya dengan berbisik pada Manda mengalihkan pembicaraan. Manda hanya manggut-manggut saja.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Sementara itu di rumah Ali..


Ali yang sedang membersihkan rumahnya sangat terkejut dengan kedatangan kedua pamannya yaitu paman Agus dan paman Bayu. Ali segera mempersilakan kedua pamannya itu untuk masuk.


"Selamat datang paman.." sapa Ali. Kedua pamannya pun langsung masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


"Apa Sigit sudah kembali ke kota atau masih tinggal di rumah ibunya?" tanya paman Agus tanpa basa basi.


"Kabarnya hari ini pak Sigit dan keluarganya akan kembali ke kota paman" jawab Ali.


"Apa yang sudah kamu lakukan Ali? kenapa kamu malah melindungi musuh keluarga kita? bukannya kamu telah jatuh cinta pada anaknya Sigit itu?" tanya paman Bayu marah pada Ali.


"Saya tidak bisa jatuh cinta lagi selain pada tunangan saya Tata yang sudah kalian jadikan sesembahan." jawab Ali yang tidak ingin melihat pamannya semakin menggila dengan dendam keluarga nya.


"Jangan membohongi kami Ali. Kami tau kamu punya perasaan pada anaknya Sigit. Iya kan?" desak paman Agus.


"Tidak paman!" Ali tetap bersikukuh tidak mengungkapkan hal yang sebenarnya. Padahal dia tau pamannya pasti sudah mengawasinya dari jauh.


"Bagaimana mas, apa kita lakukan sekarang saja? mumpung mereka masih disini. Ini akan lebih berhasil karena jarak kita yang tidak terlalu jauh. Kalau Sigit sudah kembali ke kota, kita akan kesulitan lagi membuatnya celaka dari jarak jauh. Seperti sebelumnya." bisik paman Agus pada paman Bayu.


Paman Bayu tampak berpikir sejenak, namun kemudian menyetujui usul paman Agus. Ali yang mendengarnya menjadi khawatir. Ali khawatir pada keselamatan Raya.


"Paman..aku mohon hentikan semua ini. Mereka bahkan tidak pernah melakukan perlawanan pada keluarga kita paman. Bukankah keturunan keluarga Bisri yang melawan kita semua sudah hancur? Hanya nenek Sari dan keluarganya yang tidak ingin melanjutkan pertikaian ini paman." Ali pun memohon pada kedua pamannya agar tidak berbuat jahat pada keluarga Raya.


"Apa kamu lupa Ali, jika ada keluarga Bisri yang mempunyai kekuatan besar yang suatu saat nanti akan menghancurkan keluarga kita. Leluhur kita pernah mengatakannya. Dan apa kamu tau siapa itu. Dia adalah putrinya Sigit. Dia yang akan menghancurkan kita suatu hari nanti" jawab paman Agus.


"Tapi paman.. dia hanya wanita yang tak berdaya. Buktinya kemarin dia ketakutan dengan penampakan neneknya yang paman kirimkan itu!" Ali tidak yakin dengan apa yang dikatakan pamannya. Ali melihat Raya hanyalah gadis lemah yang butuh perlindungan.


"Kamu belum tau kekuatan yang sebenarnya ada dalam dirinya Ali. Suatu saat nanti jika dia menggunakannya, maka kita bisa bisa hancur olehnya!" ucap paman Bayu tegas. Ali tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2