
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Anton masih penasaran dengan Herman. Dia hanya berusaha membantu dan tidak berani mengambil tindakan lebih awal. Semua harus sesuai perintah Herman.
"Lain kali aku jelaskan lebih lanjut, sekarang kamu pulang dulu. Aku juga mau menenangkan pikiran. Ingat! kalau sampai kedua adikku menyeretku ke penjara, aku pastikan kamu akan ikut juga." Herman langsung pergi setelah menurunkan Anton di depan rumahnya.
"Apa apaan dia.. " Anton tentu saja sangat tidak suka dengan tindakan Herman. Meskipun mereka berteman tetapi jika sudah berurusan dengan pihak berwajib, tentu saja akan lain halnya.
Dengan menggerutu Anton masuk ke dalam rumahnya. Tanpa berpikir panjang, dia segera mengemasi barang-barang nya.
"Sebelum kamu membawaku..Aku yang akan pergi dari hidupmu!" Anton tertawa sinis. Tak banyak barang yang dia bawa. Hanya beberapa helai pakaian saja dan juga peralatan ritualnya tentunya. Saat itu juga Anton pergi meninggalkan rumahnya.
Herman yang sudah sampai di rumahnya langsung frustasi dan melempar semua barang barang yang ada. Masalah hilangnya Siska masih belum ada titik terang, sekarang sudah ditambah masalah kedua adiknya yang tertangkap polisi. Tiba-tiba Herman teringat dengan guru Noe.
Guru Noe tidak pernah memberikan nomor teleponnya, jadi jika ada urusan dengannya harus datang sendiri ke rumahnya. Herman segera meminta anak buahnya mengantarkannya ke rumah guru Noe. Herman sudah tidak sabar ingin segera tahu keberadaan putrinya.
Sampai di rumah guru Noe, Herman tidak menjumpai siapapun. Rumah sepi seakan tak berpenghuni. Herman pun meminta anak buahnya agar mencari informasi keberadaan guru Noe kepada tetangga terdekat. Siapa tahu mereka tahu dimana keberadaan guru.
Tak lama anak buah Herman datang dan memberi kabar dari tetangga sebelah jika guru Noe dan keluarga sudah keluar dari rumah sekitar satu minggu yang lalu. Biasanya hanya ada tukang kebun yang membersihkan halaman rumah. Namun sepertinya tukang kebun sudah pulang di jam segini dan tetangga juga tidak tahu tempat tinggal si tukang kebun.
Herman tampak kecewa, biasanya apa yang dia mau dapat berjalan dengan lancar tetapi kenapa kali ini semua seakan terhambat? Lalu kemana lagi dia harus mencari pertolongan?
Dua hari berlalu, Herman masih frustasi memikirkan nasib hidupnya. Anak buahnya yang dia perintahkan mengawasi rumah guru Noe juga belum memberi kabar. Dan sialnya tukang kebun di rumah guru Noe juga tidak menampakkan batang hidungnya lagi disana.
"Ada apa ini? Bagaimana semua bisa terjadi bersamaan?" lagi lagi Herman mengobrak-abrik isi rumahnya. Pelayan di rumahnya sudah berkurang karena beberapa diantaranya sudah dipecat. Begitu juga dengan anak buahnya. Kini hanya tinggal beberapa saja terutama komandan pengawal.
__ADS_1
"Bos.. sepertinya tuan sedang kacau." ucap seorang pengawal pada komandannya.
"Iya.. Sepertinya ada yang tidak beres dengan tuan besar. Sudahlah jangan hiraukan! Lakukan saja tugasmu dengan baik!" perintah ketua pengawal.
"Siap!"mereka membubarkan diri dan kembali ke pos nya masing-masing.
Herman menghubungi Anton untuk menanyakan apakah sudah ada petunjuk tentang putrinya yang hilang atau belum. Namun berulang kali dia menelpon tidak menyambung juga.
"Kemana lagi nih orang? Gak biasanya mematikan ponselnya." Herman terus menghubungi Anton meskipun sudah tahu tidak tersambung. Dia juga memerintahkan anak buahnya ke rumah Anton untuk dibawa ke rumahnya.
Tak lama anak buah Herman pergi, beberapa polisi sudah datang ke rumah Herman.
"Maaf pak, anda tidak boleh masuk! Saya akan memanggil tuan besar. " cegah security di pos penjagaan saat beberapa polisi ingin menerobos masuk.
Beberapa polisi yang ada disana langsung masuk ke kediaman guna mencari Herman. Mereka menggeledah semua ruangan tapi tak menemukannya. Bahkan semua kamar di lantai dua dan juga tempat tinggal pelayan, tak luput dari pemeriksaan. Polisi kelelahan dalam melakukan pencarian di rumah yang sebesar itu.
Tiba-tiba komandan polisi yang bertugas mendapat kabar dari anggotanya yang berjaga di belakan rumah, jika Herman sudah ditangkap dari pintu belakang rumah. Sepertinya mereka sudah mengelilingi rumah yang berpagar tembok tinggi tersebut dan standby pada pintu jalan rahasia seperti yang sudah diinfokan. Komandan polisi langsung memerintahkan anak buahnya kembali ke markas karena tersangka sudah berhasil diringkus.
Sebelumnya setelah memerintahkan anak buahnya pergi ke rumah Anton, Herman sudah melihat jika ada banyak polisi di depan rumah mereka. Melalui CCTV yang ada di pos penjagaan, Herman jadi tahu jika para polisi itu sedang mencarinya. Dengan panik dia ingin melarikan diri dari sana melalui jalan rahasia miliknya.
Namun siapa sangka ternyata di luar jalan rahasia miliknya sudah ada polisi yang berjaga disana. Herman hanya menemui jalan buntu apalagi polisi yang berjaga sudah melihat keberadaannya. Herman segera melarikan diri. Namun dengan posisi yang tidak terlalu jauh, tak butuh waktu lama Herman pun tertangkap.
Herman dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Herman terus mengelak apa yang sudah dituduhkan karena memang tidak ada bukti.
__ADS_1
Dan setelah Herman dipertemukan dengan Bayu dan Agus, akhirnya semua terbongkar. Bayu dan Agus tetap bersikeras jika kakaknya adalah dalang dibalik semua kejadian yang sudah terjadi. Mereka hanyalah korban yang dimanfaatkan. Sebagai bukti nyata, bahwa mereka diberi apartemen mewah sebagai bayarannya.
"Kalian memang brengsek!" Herman pun memaki kedua adiknya yang bisa bisanya berbohong demi memojokkannya.
Mendengar pengakuan Bayu dan Agus ditambah melihat kediaman Herman yang mewah saat penggerebekan tadi, tentu saja polisi percaya dengan ucapan Bayu dan Agus.
"Jadi kalian ini bersaudara dan melakukannya secara bersama-sama?" tanya polisi memastikan.
"Iya.." jawab Bayu dan Agus.
"Tidak!" jawab Herman.
"Tuh kan pak polisi Bahkan kakak kami sudah tidak mengakui kami sebagai adik kandungnya." Bayu mengejek Herman dan membuatnya hilang kendali hendak memukul Bayu tetapi sudah bisa dicegah polisi yang kebetulan berdiri di samping Herman.
"Cepat katakan dimana putriku! Aku tau jika kalian yang sudah menculiknya. Mereka yang menculik anak saya pak! Saya sudah membuat laporannya!"
Tiba-tiba Herman memegang dadanya yang terasa sesak. Herman pun jatuh pingsan.
"Halah..Pura pura itu!" celetuk Agus. Bayu dan Agus saling pandang dan tersenyum puas.
Polisi langsung membawa Bayu dan Agus kembali ke selnya. Sedangkan Herman dibawa ke klinik kantor polisi setempat.
Ternyata herman mengalami serangan jantung ringan mendadak. Emosinya membuatnya tegang sehingga mempengaruhi detak jantungnya, apalagi masalah sebelumnya juga belum ada solusinya.
__ADS_1