Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 52(tipu muslihat)


__ADS_3

"Apa?" Bu Hajjah sangat terkejut dengan penjelasan Raya. Kyai Arifin yang hanya melihat istrinya ngobrol di telepon menjadi bertanya tanya.


"Ada apa Bu?" tanya kyai Arifin penasaran.


"Ilham yah..Ilham kecelakaan!" jelas Bu Hajjah.


"Innalilahi wa innailaihi roojiun.." kyai Arifin mencoba menenangkan istrinya yang terus menangis karena syok mendengar kabar kecelakaan putranya.


Keesokan harinya, kyai Arifin dan istrinya juga dua orang adiknya berangkat ke kota untuk mengunjungi Ilham. Mama Rossi yang merasa sudah baikan ikut serta ke kota sekalian pulang ke rumahnya. Sebelumnya mama Rossy juga sudah menghubungi papa Sigit dan Raya.


Setelah sampai di kota, kyai Arifin dan rombongan langsung menuju rumah sakit tempat Ilham dirawat. Di sana sudah ada papa Sigit dan Raya sedang duduk di bangku depan kamar rawat.


"Assalamualaikum.." sapa kyai Arifin pada Papa Sigit dan Raya yang tidak menyadari kehadiran beliau.


"Waalaikumsalam.." jawab Raya dan papa Sigit secara bersamaan.


Bu Hajjah dan kedua adik kyai Arifin langsung masuk ke dalam ruangan untuk melihat Ilham. Bu Hajjah masih menangis dan memeluk putranya yang masih terbaring tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi padamu nak? kenapa bisa seperti ini?" ucap Bu Hajjah dalam tangisnya.


"Yang sabar mbak..Ini semua ujian!" ucap salah satu adik kyai Arifin menenangkan Bu Hajjah.


"Ini semua pasti gara gara perempuan itu! sama seperti anak saya yang sekarang tidak ingat apa-apa." tiba-tiba saja mama Tyo sudah berdiri di samping pintu yang terbuka dan berkata dengan lantang ke arah Bu Hajjah. Raya dan yang lainnya langsung melihat arah mama Tyo.Karena merasa tersindir, Raya pun mendekati mama Tyo.


"Tante..sudah saya katakan berulang kali jika yang terjadi pada Tyo tidak ada hubungannya dengan saya. Kenapa Tante selalu menyalahkan saya?" Raya pun menangis karena tidak bisa menahan diri. Papa Sigit segera menghampiri putrinya dan merangkulnya. Meskipun tidak tau apa yang terjadi, papa Sigit segera membawa Raya kembali duduk di bangku.


Karena merasa situasi memanas, mama Tyo pun pergi tanpa pamit. Raya sangat kecewa dengan sikap mama Tyo yang selalu menyudutkannya.

__ADS_1


"Aku tidak tau apapun tentang Tyo pa..Tapi mamanya selalu menyalahkan ku atas kejadian yang menimpa anaknya." jelas Raya dalam pelukan papanya.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan."papa Sigit pun menenangkan Raya.


Setelah sedikit tenang, Raya mulai menceritakan apa yang terjadi pada Ilham kepada kyai Arifin. Kyai Arifin merasa ada yang aneh pada kejadian yang diceritakan Raya, apalagi setelah mendengar umpatan mama Tyo tadi.


"Apa kamu tau tentang seseorang yang selalu dekat dengan Ilham?" tanya kyai Arifin langsung pada Raya. Raya sangat terkejut dibuatnya.


"Ada seorang perempuan yang selalu ada bersama bang Ilham. Namun dia selalu bersama pengawalnya. Namun saat kejadian kemarin, saya tidak melihatnya kyai.." jawab Raya menceritakan hal yang sebenarnya.


Setelah mendengar cerita dari Raya, kyai Arifin segera pamit dan menghampiri kedua adiknya serta membisikkan sesuatu.


Kyai Arifin dan kedua adiknya pamit keluar sebentar untuk mengurusi administrasi. Papa Sigit dan keluarga juga pamitan karena harus mengantar mama Rossy istirahat di rumah. Karena merasa sudah tidak ada urusan, Raya juga pamitan bersama kedua orang tuanya. Tinggallah Bu Hajjah sendiri yang menemani Ilham.


Kyai Arifin dan kedua adiknya langsung menuju musholla masjid untuk memohon petunjuk pada Allah SWT. Karena sepi, mereka pun membentuk lingkaran dan melafalkan doa dan pujian kepada Allah untuk kesembuhan Ilham.


"Apa yang kalian pikirkan sama denganku?" tanya kyai Arifin pada kedua adiknya itu.


"Mari kita lihat apa yang terjadi!" ajak kyai Arifin pada kedua adiknya. Mereka pun menyetujui usulan kakaknya itu.


Berdasarkan petunjuk yang didapat kyai Arifin dan kedua adiknya, ternyata memang ada bayangan yang selalu mengikuti Ilham. Namun hanya dari jauh saja karena Ilham memiliki perlindungan diri. Dan kecelakaan itu bisa terjadi karena Ilham telah lalai.


"Sepertinya putramu mulai goyah!" ucap salah satu adik kyai Arifin.


"Iya.." jawab kyai Arifin tersenyum.


"Gak nyangka imanmu bisa goyah karena wanita Ilham.." batin kyai Arifin.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Di tempat lainnya..


"Apa? kenapa kak Ilham yang kecelakaan? harusnya kan perempuan itu?" Siska menjadi marah kepada kedua pengawalnya yang sudah salah sasaran itu. Karena mendengar perintah yang kurang jelas, pengawal yang diperintah Siska untuk mencelakai wanita yang dekat dengan Ilham ternyata malah mengenai Ilham sendiri.


"Awas saja kalian kalau sampai terjadi sesuatu pada kak Ilham!" ancam Siska. Para pengawalnya hanya diam dan saling pandang, tanpa bisa melawan majikannya itu.


Siska merasa khawatir dengan keadaan Ilham. Dia ingin sekali mengunjungi Ilham ke rumah sakit. Namun karena papanya yaitu paman Herman melarangnya keluar rumah, Siska tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bagaimana ini?" Siska mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia berpikir bagaimana caranya bisa keluar rumah tanpa ketahuan papanya.


Setelah mendapat teror dari adiknya, paman Herman semakin waspada terhadap keselamatan Siska. Paman Herman Melarang Siska keluar rumah dan hanya mengijinkannya ke sekolah saja. Itupun dengan pengawalan yang ketat.


Namun Siska belum tau apa yang dilakukan oleh kedua adik papanya terhadapnya, karena paman Herman tidak pernah menceritakan kejadian keluarganya di masa lalu kepada Siska.


Seperti saat ini, Siska mencari cara agar bisa keluar dari rumah dan kembali sebelum papanya pulang. Setelah bernegosiasi dengan pengawal pribadinya, Siska pun menemukan jalan keluar dari rumah. Dia pun menyamar menjadi ART yang hendak pergi ke pasar. Karena banyaknya ART di rumah tersebut dan kurang begitu mengenal satu sama lain, Siska pun bisa lolos dari pemeriksaan penjaga di pintu gerbang.


" Akhirnya.."Siska merasa lega setelah sopir mengeluarkan mobilnya.


"Kita kemana nona?"


"Rumah sakit X. Aku ingin menjenguk temanku yang dirawat disana"


Sopir itu pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang dimaksud. Siska sudah tidak sabar ingin bertemu Ilham. Tak lupa dia membawa buah tangan setelah mampir ke pasar buah.


Sesampainya di rumah sakit, Siska langsung menuju kamar perawatan Ilham setelah tau sebelumnya dari anak buahnya. Namun Siska mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar karena di sana telah banyak teman Ilham yang datang menjenguk. Siska pun menunggu suasana sepi.

__ADS_1


Lama dia menunggu tiba tiba ponselnya berdering. Ternyata papanya menelpon. Siska pun panik. Paman Herman yang melihat kepergian Siska dari kamera pengawas di rumahnya menjadi panik. Ternyata tidak sia sia beliau memasang kamera pengawas tersebut. Namun kini paman Herman menjadi resah karena Siska bisa keluar dari rumah meskipun sudah banyak pengawal yang dia pekerjakan.


"Ternyata mereka semua tidak bisa diandalkan!"


__ADS_2